Breaking News:

Ramadan 2019

Tembakan Meriam Jadi Tanda Waktu Berbuka Puasa di Timur Tengah

Timur Tengah memiliki tradisi unik selama bulan Ramadan, yaitu menembakkan meriam saat memasuki waktu maghrib atau berbuka puasa.

Penulis: Ratna Widyawati
Editor: Sinta Agustina
Going Deep
Penembakan meriam 

TRIBUNTRAVEL.COM - Timur Tengah memiliki tradisi unik selama bulan Ramadan, yaitu menembakkan meriam saat memasuki waktu maghrib atau berbuka puasa.

Tradisi menembakkan meriam ini dilakukan di Mesir, Uni Emirat Arab, Bangladesh, Kuwait dan Arab Saudi.

Meriam yang digunakan merupakan senjata jenis berat yang telah ditemukan sejak 75 tahun yang lalu di Mekkah.

Penembakkan meriam sebagai tanda buka puasa di Timur Tengah
Penembakkan meriam sebagai tanda buka puasa di Timur Tengah (ahad.co.id)

Penggunaan meriam sebagai tanda berbuka puasa pun sudah melekat dan menjadi kenangan tersendiri di hati para penduduk lokal.

Selain digunakan sebagai penanda waktu berbuka, dentuman meriam juga digunakan sebagai tanda masuknya waktu sahur, waktu imsak dan tanda masuknya tanggal 1 syawal.

Tonton juga: 

3 Kue Langka yang Bisa Dijumpai di Pasar Wadai Ramadan Banjarmasin

4 Alasan Wajib Saksikan Dieng Culture Festival pada Agustus 2019 Mendatang

Setelah bulan Ramadan usai, meriam yang diletakan di atas pegunungan akan dibawa kembali dan disimpan oleh departemen khusus.

Kegiatan unik yang dilaksanakan hanya di bulan Ramadan ini sempat dihentikan karena beberapa alasan.

Namun kemudian akhirnya dioperasikan kembali.

Ada banyak versi mengenai asal-usul tradisi meriam ini.

Pertama, ketika sultan Mamluk di Kairo ingin menguji salah satu meriam barunya, dan eksperimen itu bertepatan dengan waktu Maghrib.

Penduduk mengira sultan telah menembakkan meriam untuk memberitahu mereka bahwa waktu berbuka puasa telah tiba.

Melihat rakyatnya gembira dengan ‘inovasi’ tersebut, sultan memutuskan untuk melakukannya setiap hari selama bulan Ramadan.

Kedua, suatu ketika penguasa Mesir pada awal abad ke-19 Muhammad Ali menembakkan meriam buatan Jerman pada waktu Maghrib.

Orang-orang yang mendengar itu mengira bahwa tembakan meriam tersebut sebagai tanda waktu berbuka puasa.

Ketiga, suatu saat tentara sedang menguji coba meriam pada waktu Magrib.

Kemudian Fatimah yang merupakan putri Ismail Pasha, penguasa Mesir pada akhir abad ke-19 mendengar meriam tersebut, dia langsung mengeluarkan ‘dekrit’ yang menyatakan bahwa meriam harus ditembakkan pada waktu Maghrib selama bulan Ramadan dan acara resmi pada Idul Fitri.

Maka tidak mengherankan, jika hari ini ada yang menyebut tradisi meriam tersebut dengan 'Meriam Fatimah'.

7 Ragam Sajian Es Asli Indonesia yang Jadi Menu Andalan Berbuka Puasa

Tips Memilih Makanan untuk Buka Puasa Bulan Ramadan, Pastikan Ada Buah dan Sayuran

5 Lokasi Bazar Ramadan Terpopuler di Singapura yang Wajib Traveler Kunjungi

6 Manfaat Minum Air Lemon saat Sahur Selama Bulan Ramadan

(TribunTravel.com/Ratna Widyawati)

Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved