Rekomendasi Kuliner

Lezatnya Bakmie Jackie, Kuliner Legendaris di Kawasan Pecinan Jatinegara Jakarta

Pasar Jatinegara sendiri, dulu adalah pusat Pecinan di Jatinegara. Hal ini bisa dilihat dari bentuk atap sejumlah toko di pasar lama.

Lezatnya Bakmie Jackie, Kuliner Legendaris di Kawasan Pecinan Jatinegara Jakarta
Instagram/bakmiejackie
Bakmie Jackie 

TRIBUNTRAVEL.COM - Siapa orang Indonesia yang belum pernah makan mi?

Selain bayi tentunya tidak ada, sebab mi sudah menjadi bagian dari kuliner Indonesia, setidaknya dalam 50 tahun terakhir.

Apalagi sejak produk mi instan semakin murah harganya, semakin praktis, cara pembuatannya, serta semakin beragam rasanya, maka penganan jenis karbohidrat ini semakin masuk di hati orang Indonesia.

Siapapun tahu, dan rasanya tidak ada yang tidak tahu, mi ini asalnya dari Tiongkok. Masuk ke Indonesia dibawa oleh imigran dari China yang datang ke Nusantara sejak ribuan tahun lalu.

Maka tak mengherankan jika banyak warga Indonesia beretnis Tionghoa membuka restoran atau kedai mi ayam dengan segala variasinya.

Mi ayam Bakmie Jackie lengkap dengan suikiauMi ayam kuliner Tionghoa ini memiliki aroma dan rasa yang khas, berkat penggunaan minyak wijen dalam resepnya.

Untuk membedakan masakan China atau bukan, biasanya pemilik restoran masakan China akan menyertakan kata "bakmie" dalam nama restorannya.

Menelusuri Jejak Sejarah Pecinan Jatinegara di Jakarta, Mampir Sejenak ke Klenteng Shia Djin Kong

Maka, saat saat saya melihat spanduk besar dengan tulisan "Bakmie Jackie" di Pasar Jatinegara, saya tahu mi ayam yang disajikan di restoran itu bergaya masakan China.

Menu andalan Bakmie Jackie
Menu andalan Bakmie Jackie (Warta Kota/Janlika Putri)

Saat itu saya berada di Pasar Jatinegara bersama tim Warta Kota Travel. Kami sedang melakukan wisata jalan kaki untuk menelusuri kawasan Pecinan Jatinegara.

Karena itu, ketika membaca spanduk Bakmie Jackie, rasanya perjalanan kami semakin lengkap dengan menyantap masakan China.

Pasar Jatinegara sendiri, dulu adalah pusat Pecinan di Jatinegara. Hal ini bisa dilihat dari bentuk atap sejumlah toko di pasar lama.

Meski tempatnya sederhana, berada di emperan toko berhimpitan dengan pedagang lainnya, kedai Bakmie Jackie ini selalu ramai oleh pembeli.

Menurut Irwan Zainal, pemilik Bakmie Jackie, setiap harinya lebih dari 100 orang yang datang makan di kedainya. Belum lagi yang pesan untuk dibungkus.

Makan di tengah pasar memang memiliki sensasi tersendiri, dengan suasana riuh-rendah khas pasar. Aktivitas jual beli, kendaraan yang lewat, suhu yang panas, berbagai aroma bersliweran, serta udara yang sedikit pengap. Itulah yang saya rasakan saat menunggu pesanan.

Namun begitu pesanan datang, indera saya langsung fokus ke mangkuk yang ada di hadapan. Ketika itu saya memesan bihun ayam.

Pelayanannya boleh diacungi jempol, karena para pegawai kedai langsung menyambut pengunjung, mencarikan kursi, dan mencatat pesanan.

Pesanan datang kurang lebih lima menit kemudian. Namun jika sedang ramai mungkin akan sedikit lebih lama.

Rasa meriah

Mekipun tempatnya hanya memanfaatkan emperan toko seragam sekolah, rasa Bakmie Jackie tak kalah dengan menu restoran besar.

Jackie, nama panggilan Irwan Zainal, membuka kedai ini tahun 1994. Memang tidak setua sejarah masyarakat Tionghoa di Jatinegara, tapi 26 tahun sudah menunjukkan bahwa Bakmie Jackie sudah teruji.

Jackie mengatakan dia selalu konsisten menyajikan bahan terbaik bagi pembelinya, karena ingin memberikan kesan tak terlupakan di lidah pembeli lewat racikan bakmienya.

“Kami memang pakai bahan yang bagus. Lihat aja togenya besar-besar, potongan sawi juga segar. Ayamnya juga Ayam kampung. Mantep deh. Saosnya juga pakai saos asli, ” kata Jackie siang itu.

Kostumnya hari itu kaos oblong putih tipis itu, seperti kaos yang dikenakan Jackie Chan di film Drunken Master (1978).

Irwan Zainal alias Jackie pemilik Bakmie Jackie.
Irwan Zainal alias Jackie pemilik Bakmie Jackie. (Warta Kota/Janlika Putri)

Jackie, yang pemilik Bakmie Jackie bukan Jackie Chan, duduk di bangku panjang di dalam toko seragam. Rupanya toko itu miliknya juga, yang dikelola bersama adiknya.

Ciri khas Bakmie Jackie adalah menggunakan mi berukuran kecil dan agak keriting. Teksturnya kenyal dan tidak mudah putus.

Kata Jackie, dia menggunakan minyak ayam kampung untuk mengurai mi, dengan berbagai pertimbangan. Yang utama tentu saja menambah aroma yang lezat juga menambah rasa gurih.

Setelah mie dicampur dengan dengan minyak ayam, kecap manis, dan lada, lalu mi diberi taburan potongan daging ayam kecap, sehingga rasa mi itu meriah dan memancing selera.

Selain taburan ayam kecap, terdapat pula daun bawang, toge ukuran besar yang direndam di air panas selama beberapa detik, lalu potongan sawi rebus.

Kemudian makanan pendampingnya ada bakso atau pangsit rebus yang disajikan secara terpisah. Hari itu saya memesan pangsit rebus.

Pada mangkuk kecil berisikan pangsit rebus diberi isian ayam giling lalu diberi bumbu bawang putih dan ebi (udang kering). Dan setiap meja terdapat potongan timun dan cabai yang membuatnya semakin komplet.

Di sini tak hanya menjual menu bakmi, karena ada pula hidangan oriental lainnya, seperti bihun, kwetiau, bakso, locupan, dan suikiau. Semuanya halal sehingga aman dikonsumsi siapapun.

“Emang namanya bakmie, tadinya, tapi kita ubah jadi mi ayam biar lebih bersahabat. Karena kalau pakai bakmi akan dianggap makanan non-halal, ” tambah Jackie.

Meskipun memakai kata bakmie di namanya, semua menu Bakmie Jackie halal.
Meskipun memakai kata bakmie di namanya, semua menu Bakmie Jackie halal. (Warta Kota/Janlika Putri)

Terkenal

Meskipun tersembunyi oleh kesibukan pasar, tak sulit mencari Bakmie Jackie karena hampir semua orang Pasar Jatinegara tahu lokasinya. Mereka akan memberikan arah bagi siapa pun yang bertanya.

Kecanggihan teknologi juga turut dimanfaatkan Jackie sebagai media promosi dan layanannya.

“Bagi yang ingin beli namun sedang repot tak bisa ke sini, bisa pesan lewat aplikasi ojek online. Kita sudah kerja sama dengan mereka,” ujarnya.

Bakmie Jackie bisa dipesan lewat aplikasi ojel online, dan menunya bisa dilihat di Instagram.
Bakmie Jackie bisa dipesan lewat aplikasi ojel online, dan menunya bisa dilihat di Instagram. (Warta Kota/Janlika Putri)

Kendati ramai setiap harinya, Irwan mengatakan belum ada rencana untuk membuka cabang Bakmi Jackie. Bahkan dia ingin gayanya yang seperti itu tetap melekat sebagai identitas usahanya.

“Belum jauh ke sana kayanya. Sudah tua begini saya kayanya nggak sanggup. Lagian ini sudah jadi ciri khas Bakmie Jackie yang dikenal orang, ” tandasnya. (m25)

Bakmie Jackie

Pasar Jatinegara, Jl Pintu Timur No.21 Jakarta Timur

Jam operasional

Setiap hari , dari 08.00-16.00 WIB

Harga mulai dari Rp 19.000

Transportasi umum

- Dekat dengan stasiun Commuter Line Jatinegara

- Dekat dengan halte Bus Transjakarta halte Pasar Jatinegara

Terendam Banjir hingga 70 Cm, Warung Pecel di Jatinegara Tetap Ramai Pembeli! Ternyata, Rahasianya

6 Pecinan di Indonesia yang Terkenal dengan Perayaan Imlek Meriah

Ribuan Lampion Dipasang di Pecinan Solo Jelang Tahun Baru Imlek 2020

Pecinan Lasem hingga Situs Perahu Kuno Punjulharjo di Rembang Segera Dicagarbudayakan

Berdiri Sejak 20 Tahun Lalu, Soto Semarang di Pecinan Ini Tak Pernah Sepi Pelanggan

Artikel ini telah tayang di Tribunwartakotatravel.com dengan judul Wisata Jalan Kaki Pecinan Jatinegara 2: Bakmie Jackie Langganan Pengunjung Pasar Jatinegara

Ikuti kami di
Editor: Ambar Purwaningrum
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved