Menu yang tersaji di Tomboan bermacam-macam. Mayoritas merupakan sajian tradisional.
"Minuman ada wedang ngawonggo, jeruk, jahe, tomboan abang, tomboan hijau dan wedang kopi"
"Lalu kalau jajanan ada 11 macam makanan tradisional, seperti jemblem dan lain-lain," ungkap Rahmat.
Meski tak memasang harga pada setiap menu yang disajikan, Rahmat mengaku tak pernah merasa mengalami kerugian.
"Kalau rugi, kami gak pernah berdoa rugi. Hasilnya dicukupi. Kalau ada lebih kami manfaatkan," ucap Rahmat.
Rahmat tak menyangka ide yang muncul kala itu malah mendapat respon positif dari masyarakat.
"Ada respon positif. Sangat senang sekali. Warga sekitar kami berdayakan untuk membuat jajan," terangnya.
Respon bagus tak hanya diluapkan masyarakat sekitar sumber air. Ritme kunjungan yang tinggi setiap hari jadi bukti Tomboan semakin dikenal oleh warga Malang Raya.
"Hari Minggu paling ramai. Bisa 3 kali lipat. Hari biasa 100 orang, kalau akhir pekan bisa 300 orang," papar Rahmat.
Kini, Rahmat bersama warga sedang merencanakan pengembangan Tomboan agar lebih baik lagi.
"Ke depan kami manfaatkan SDA (sumber daya alam) yang ada. Tidak sembarangan tapi sesuai tatan. Sudah ada konsep desainnya," tutup Rahmat.
Baca juga: 5 Tempat Wisata Hits dan Kekinian di Malang Utara, Harus Coba Serunya Piknik di Bukit Teletubbies
Baca juga: Cara Membuat Paspor di Malang untuk Kamu yang Ingin Segera Liburan ke Luar Negeri
Baca juga: Panduan Wisata dan Harga Tiket Masuk Kampung Tematik di Malang, Punya Banyak Spot Foto Instagramable
Baca juga: Pantai Balekambang dan 3 Tempat Wisata Hits di Malang Selatan
Baca juga: Bongko Mento hingga Lontong Dekem, Ini 7 Kuliner Khas Pemalang yang Menguggah Selera
Artikel ini telah tayang di suryamalang.com dengan judul Tempat Nongkrong di Tajinan Malang Terapkan Konsep Bayar Makan dan Minum Seikhlasnya