“Dugaannya dari Merapi. Soalnya kalau ada warga yang kehilangan, desa nggak ada yang ngeshare. Dusun kami berjarak sekitar 10 sampai 15 km dari puncak,” tuturnya.
Soal hal tersebut, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Wiryawan mengatakan, perlu ditelusuri lagi lebih jauh soal keberadaan monyet tersebut.
“Kami telusuri lebih jauh ada kemungkinan efek dari kenaikkan aktivitas Merapi, tapi tidak menutup kemungkinan monyet itu juga perilakunya kadang-kadang sampai ke kampung. Dia punya perilaku berkelompok, jadi kalau turunnya sendiri ya mungkin ada dinamika kelompok perkelahian dan lain sebagainya,” ujarnya.
Pihaknya pun akan melakukan pengecekan berkoordinasi dengan BKSDA Jawa Tengah untuk wilayah Jawa Tengah.
Wiryawan mengimbau kepada warga untuk mengabaikan dan tak memberi makan hewan tersebut.
“Sejauh monyet itu tidak mengganggu masyarakat, tolong biarkan secara alami. Jangan dikasih makan, nanti efeknya dia akan turun. Dijaga saja, kalau dia memang mengganggu laporan kepada kami dengan nanti kami akan berkoordinasi dengan BKSDA penanganannya,” imbau Wiryawan. ( Tribunjogja.com | Maw | Rfk )
Baca juga: Viral di Medsos, Video Hujan Es di Puncak Gunung Slamet, Berikut Penjelasan BMKG
Baca juga: Fakta Sejarah Pompeii, Kota Kuno yang Terkubur oleh Letusan Gunung Berapi
Baca juga: Kopi Kabut by Sevillage di Kawasan Puncak, Tempat Ngopi Asyik dengan Pemandangan Khas Pegunungan
Baca juga: Tebing Lava Tahun 1954 Jatuh ke Kawah Gunung Merapi, Warga Diimbau Tenang
Baca juga: Status Siaga Gunung Merapi, Wisatawan Takut Kunjungi Jogja?
Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul "Cerita Jejak-jejak Binatang di Jalur Evakuasi Gunung Merapi Terungkap".
(TribunTravel.com/Nurul Intaniar)