Begini Kisah di Balik Munculnya Jejak Binatang di Jalur Evakuasi Gunung Merapi

Penulis: Nurul Intaniar
Editor: Ambar Purwaningrum
Kolase foto jejak kaki binatang di jalur evakuasi Gunung Merapi, Kamis (26/11/2020).

TRIBUNTRAVEL.COM - Belum lama ini warga Sleman, Yogyakarta sedang dihebohkan dengan munculnya jejak binatang di jalur evakuasi Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), tepatnya di Dusun Ngancar.

Sebelumnya, jejak binatang tersebut sempat diduga sebagai jejak macan tutul.

Akan tetapi Kepala Balai TNGM, Pujiati meluruskan kehebohan tersebut dengan mengecek langsung jalur evakuasi di Ruas Suruh-Singkar, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

Setelah dilakukan penelusuran, Pujiati menegaskan jejak binatang tersebut bukan dari macan tutul melainkan jejak anjing.

Pihaknya telah melakukan pengecekan langsung bersama dengan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dan melakukan analisa jejak tersebut.

"Tadi kami ke sana (jalur evakuasi) bersama PEH yang memang biasa berurusan dengan macan tutul."

Baca juga: Arkeolog Temukan 2 Mayat Terkubur di Pompeii yang Diyakini Akibat Letusan Gunung Berapi

"Jadi dia (PEH) juga sering ikut kegiatan monitoring macan tutul dan lain-lain."

"Bahwa itu jelas jejak anjing," tegasnya, Selasa (24/11/2020).

Ilustrasi Pemandangan Gunung Merapi dari Candi Borobudur (Flickr/Stefan Magdalinski)

"Karena kalau jenis-jenis kucing macam kucing hutan, kucing rumah, macan itu kalau berjalan kukunya selalu diumpetin tidak mungkin keluar," sambungnya.

Sedangkan jejak yang ada di jalur evakuasi terdapat kuku.

Selain kuku, bantalan kaki tiga pada jejak tersebut juga menunjukkan jejak yang menempel di jalur evakuasi adalah jejak anjing.

"Kalau macan itu dia cenderung agak membulat atau lonjong sedikit."

"Itu penjelasan dari PEH kami. Jelas itu jejak anjing," terangnya.

Pujiati menerangkan jejak macan tutul terakhir terlihat pada tahun 2012.

Pihaknya masih menemukan jejak atau cakarnya di Gunung Bibi di daerah Boyolali atau di Plawangan di Sleman.

Namun setelah 2012, sudah tidak ada lagi bekas cakar, termasuk bentuk fisik macan sekalipun.

"Makanya kami minta agar dipasang kamera trap di beberap tempat."

"Ada 40 kamera trap yang kami pasang selama tiga bulan, itupun kami tidak mendapat macan tutul. Tapi kami mendapatkan kijang lumayan banyak," ujarnya.

Sempat Geger

Warga lereng Merapi digegerkan adanya jejak kaki hewan yang tertinggal di atas jalur evakuasi Suruh-Singlar, Cangkringan, tetatnya di Padukuhan Ngancar.

Banyak spekulasi bermunculan, bahkan warga sempat menduga jejak kaki tersebut adalah macan tutul.

Babinsa Glagaharjo, Koptu Eko Widodo mengatakan jejak kaki tersebut pertama kali diketahui pada Jumat(20/11/2020) lalu.

Saat itu ia curiga karena banyak warga yang pergi mengarah ke Dusun Ngancar.

Ternyata jejak kaki hewan tersebut sudah ada di sana.

"Diketahui Jumat pagi, setelah aktivitas para pekerja jalur evakuasi melakukan pengecoran. Waktu saya lihat sudah ada jejaknya, warga menduga macan tutul," katanya saat ditemui wartawan di Jalur evakuasi Suruh-Singlar, Senin (23/11/2020).

Ia melanjutkan menurut informasi dari warga macan tersebut bukan macan dari Merapi atau turun akibat meningkatnya aktivitas Merapi.

Macan tersebut diduga tinggal di hutan yang masih di wilayah Padukuhan Ngancar.

Pada 2018 lalu warga sekitar Ngancar melihat macan tutul sedang berjemur di atas batu.

Menurut laporan dari warga sekitar ada empat ekor macan yang berkeliaran di daerah tersebut.

"Informasinya ada empat, satu induk dan tiga anaknya. Kalau yang jejak ini mungkin induk dan anaknya, ada satu yang besar, dan ada yang agak kecil. Memang macan tersebut habitatnya di sini. Tidak hanya satu warga, tapi sudah ada beberapa warga yang memang melihat," lanjutnya.

Ia menduga macan tutul tersebut sedang mencari makan di sekitar jalur evakuasi.

Sebab ada kemungkinan macan tersebut mencari makanan dari pekerja proyek jalur evakuasi.

Meskipun warga menduga jejak tersebut adalah jejak kaki macan, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) tidak bisa memastikan hal tersebut.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I TNGM, Wiryawan mengaku sudah menerima laporan tersebut.

Kala itu, pihaknya belum bisa mengambil kesimpulan.

"Kalau ujung jejak ada bekas kuku, biasanya bukan macan. Info di masyarakat ada yang bilang lihat macan. Tapi karena belum ada dokumentasi, jadi kami belum bisa memastikan," ujarnya beberapa hari lalu.

TONTON JUGA:

Soal Monyet Turun

Keberadaan monyet ekor panjang sebelumnya tampak di wilayah Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, juga terlihat di wilayah Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Sabtu (16/11/2020).

Adanya hewan tersebut juga dilihat oleh warga Krakitan, Desa Sucen, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang.

Monyet tersebut sebanyak dua ekor tampak berkeliaran di perkampungan warga yang berjarak lebih dari 10 kilometer dari puncak Merapi.

"Kami melihat sejak tanggal 16 November. Dulunya ada dua ekor, sekarang terlihat tinggal satu ekor,” kata salah satu warga Krakitan, Desa Sucen, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Sri Andarwati (38), Sabtu (21/11) kemarin.

Warga saat ada monyet tersebut sempat mengambil gambar.

Namun, warga belum mengetahui secara pasti, monyet tersebut berasal dari mana.

Entah dari wilayah sekitar atau dari lereng Gunung Merapi, masih belum diketahui.

“Dugaannya dari Merapi. Soalnya kalau ada warga yang kehilangan, desa nggak ada yang ngeshare. Dusun kami berjarak sekitar 10 sampai 15 km dari puncak,” tuturnya.

Soal hal tersebut, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Wiryawan mengatakan, perlu ditelusuri lagi lebih jauh soal keberadaan monyet tersebut.

“Kami telusuri lebih jauh ada kemungkinan efek dari kenaikkan aktivitas Merapi, tapi tidak menutup kemungkinan monyet itu juga perilakunya kadang-kadang sampai ke kampung. Dia punya perilaku berkelompok, jadi kalau turunnya sendiri ya mungkin ada dinamika kelompok perkelahian dan lain sebagainya,” ujarnya.

Pihaknya pun akan melakukan pengecekan berkoordinasi dengan BKSDA Jawa Tengah untuk wilayah Jawa Tengah.

Wiryawan mengimbau kepada warga untuk mengabaikan dan tak memberi makan hewan tersebut.

“Sejauh monyet itu tidak mengganggu masyarakat, tolong biarkan secara alami. Jangan dikasih makan, nanti efeknya dia akan turun. Dijaga saja, kalau dia memang mengganggu laporan kepada kami dengan nanti kami akan berkoordinasi dengan BKSDA penanganannya,” imbau Wiryawan. ( Tribunjogja.com | Maw | Rfk )

Baca juga: Viral di Medsos, Video Hujan Es di Puncak Gunung Slamet, Berikut Penjelasan BMKG

Baca juga: Fakta Sejarah Pompeii, Kota Kuno yang Terkubur oleh Letusan Gunung Berapi

Baca juga: Kopi Kabut by Sevillage di Kawasan Puncak, Tempat Ngopi Asyik dengan Pemandangan Khas Pegunungan

Baca juga: Tebing Lava Tahun 1954 Jatuh ke Kawah Gunung Merapi, Warga Diimbau Tenang

Baca juga: Status Siaga Gunung Merapi, Wisatawan Takut Kunjungi Jogja?

Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul "Cerita Jejak-jejak Binatang di Jalur Evakuasi Gunung Merapi Terungkap".

(TribunTravel.com/Nurul Intaniar)