Breaking News:

Kekeringan Ethiopia Tak Kunjung Usai, Monyet Kelaparan Kini Mulai Serang Anak-anak

Sejumlah monyet di Ethiopia mulai menyerang anak-anak lantaran musim kekeringan yang berkepanjangan.

Flickr/SoonCMs-Photography
Ilustrasi monyet kelaparan menyerang anak-anak di Ethiopia yang sedang dilanda kekeringan berkepanjangan. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Ethiopia baru-baru ini dikabarkan sedang menghadapi musim kekeringan yang berkepanjangan.

Rendahnya curah hujan dalam 30 tahun terakhir berhasil menghancurkan tanaman pangan dan membunuh ternak warga sekitar.

Akibatnya banyak kehidupan di Ethiopia menderita kelaparan baik dari masyarakatnya terutama para binatang.

Kondisi alam yang buruk ini rupanya berdampak fatal pada sejumlah monyet di Ethiopia.

Ilustrasi monyet di Ethiopia yang sedang kelaparan.
Ilustrasi monyet di Ethiopia yang sedang kelaparan. (Flickr/ Snake3yes)

Baca juga: 4 Fakta Unik Ethiopia, Negara yang Lakukan Penanaman Pohon Terbanyak di Dunia

Baca juga: Terungkap Alasan Mengapa Wanita Suku Mursi di Ethiopia Menggunakan Pelat Bibir

Menurut laporan baru dari Save the Children, monyet-monyet itu menjadi gila karena lapar dan haus sehingga terlibat dalam perilaku yang tidak biasa.

Dikatakan demikian karena baru-baru ini monyet-monyet tersebut dikabarkan mulai menyerang anak-anak serta ternak.

Diwartakan Daily Star, kekeringan telah memperburuk kondisi kehidupan yang sudah sulit di negara itu.

Alam Ethiopia telah dirusak oleh konflik dan kesulitan ekonomi karena faktor-faktor di luar kendali penduduk.

Badan amal itu juga memperkirakan bahwa hingga 185.000 anak menderita kekurangan gizi yang paling mematikan akibat kekeringan.

Akibatnya, banyak penduduk tidak dapat tinggal di rumah mereka, dan banyak keluarga telah pergi ke luar negeri untuk mencari kehidupan yang layak.

TONTON JUGA:

Baca juga: Kekeringan Ekstrem Melanda Irak, Sebabkan Arkeolog Temukan Reruntuhan Kota Kuno Secara Tiba-tiba

Baca juga: 30 Tahun Terendam Air, Desa Hantu Muncul dari Bendungan yang Kekeringan saat Musim Panas

Menyampaikan tragedi itu, seorang ayah dari tujuh anak mengatakan "Saya tidak tahu bagaimana memberi makan anak-anak saya. Hujan gagal."

“Rumput menjadi layu. Domba dan kambing saya mati, bersama dengan ratusan dan ribuan hewan dari desa kami."

“Kami mengemasi barang-barang kami yang sedikit di atas kereta keledai dan berangkat pada tengah malam.”

Halaman
12
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved