Breaking News:

Jemaah Indonesia Kini Tak Wajib Karantina 14 Hari di Negara Ketiga sebelum Terbang ke Arab Saudi

Jemaah asal Indonesia yang hendak terbang ke Arab Saudi kini tak lagi diwajibkan untuk karantina 14 hari.

Penulis: Sinta Agustina
Editor: Sinta Agustina
Tribun Travel/Sinta Agustina
Jemaah meninggalkan Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi, usai melaksanakan ibadah salat dzuhur, Minggu (12/11/2017). 

TRIBUNTRAVEL.COM - Jemaah asal Indonesia yang hendak terbang ke Arab Saudi kini tak lagi diwajibkan untuk karantina 14 hari.

Dilansir TribunTravel dari Tribunnews.com, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi akhirnya memberikan izin warga dari beberapa negara, termasuk Indonesia masuk langsung ke negeri mereka tanpa protokol karantina selama 14 hari di negara ketiga.

Selain Indonesia, sejumlah negara juga mendapat izin yang sama.

Di antaranya Pakistan, India, Mesir, Brasil, dan Vietnam

Kebijakan ini akan berlaku efektif mulai 1 Desember 2021 pukul 01.00 waktu setempat, dilaporkan Saudi Gazette.

Kendati demikian, jemaah harus tetap menjalani karantina selama lima hari setibanya di Arab Saudi.

Kondisi Kabah setelah visa Umrah ditangguhkan
Kondisi Kabah setelah visa Umrah ditangguhkan (ABDEL GHANI BASHIR/AFP)

Aturan ini berlaku tanpa memandang status vaksinasi Covid-19 mereka.

Saat ini Arab Saudi mengakui enam vaksin sebagai syarat perjalanan internasional.

Baca juga: Arab Saudi Resmi Melarang Pengunjung Selfie di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Yaitu Oxford-AstraZeneca, Pfizer-BioNTech, Johnson & Johnson, Moderna, Sinovac, dan Sinopharm.

Bagi jemaah dengan vaksin Sinovac dan Sinopharm, harus menerima satu suntikan booster dengan vaksin Oxford-AstraZeneca, Pfizer-BioNTech, Johnson & Johnson ataupun Moderna.

Sebelumnya Arab Saudi melalui Kementerian Haji dan Umrah menghapus aturan masa karantina 14 hari bagi jemaah umrah.

Dr. Amr Al-Maddah, kepala pejabat perencanaan dan strategi Kementerian Haji dan Umrah mengatakan, pihaknya sedang melonggarkan langkah-langkah pencegahan virus Covid-19.

Tujuannya untuk meningkatkan kapasitas operasional Masjidil Haram untuk umrah dan salat.

"Sejalan dengan perkembangan pada tahap ini, yang pada gilirannya meningkatkan permintaan pada tanggal yang tersedia untuk melakukan umrah, Kementerian Haji dan Umrah menyediakan fitur ini untuk jemaah," ungkap Dr. Amr Al-Maddah kepada Arab News.

"Aturan ini tidak lagi diperlukan dan akan mencapai kesempatan yang adil untuk semua karena permintaan yang tinggi," lanjut dia.

Suasana di sekitar King Abdul Aziz Road yang tak jauh dari Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, Minggu (12/11/2017).
Suasana di sekitar King Abdul Aziz Road yang tak jauh dari Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, Minggu (12/11/2017). (TRIBUNTRAVEL.COM/SINTA AGUSTINA)

Indonesia diprioritaskan untuk haji dan umrah

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengungkap kabar terbaru soal ibadah haji dari Arab Saudi.

Menag mengatakan, pembicaraan dengan otoritas haji dan umrah Saudi mengalami kemajuan yang menggembirakan.

Baca juga: Arab Saudi Tak Lagi Terapkan Aturan Jarak Sosial di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Hal ini disampaikan Menag Yaqut usai bertemu dengan Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi HE Taufig F Alrabiah di Mekkah, Arab Saudi.

"Alhamdulillah, hari ini saya bertemu dengan Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Taufig F Alrabiah di Makkah. Menteri Taufig mengatakan bahwa Indonesia adalah prioritas dalam masalah haji dan umrah. Kita sangat berharap semoga hal itu tidak lama lagi," jelas Yaqut melalui keterangan tertulis, Senin (22/11/2021).

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved