6 Hal yang Membuat Traveler Menunda Terbang di Tengah Pandemi Covid-19

PT Angkasa Pura II (Persero) mencatat ada enam hal yang membuat para traveler menunda terbang di tengah pandemi Covid-19.

Instagram/dxb
Penumpang di Bandara Dubai 

TRIBUNTRAVEL.COM - PT Angkasa Pura II (Persero) mencatat ada enam hal yang membuat para traveler menunda terbang di tengah pandemi Covid-19.

President Director AP II Muhammad Awaluddin, mengatakan pihaknya telah mengindentifikasi hal apa saja yang membuat traveler bisa menunda terbang di tengah pandemi.

"Dengan melakukan identifikasi ini, kami ingin berupaya mengggairahkan penerbangan untuk mendukung aktivitas para traveler kembali," ucap Awaluddin dalam keterangannya, Sabtu (27/6/2020).

Berikut hal-hal yang membuat pertimbangan traveler untuk naik pesawat di tengah Covid-19, dan solusinya dari AP II:

1. Harus rapid test atau Polymerase Chain Reaction (PCR) test.

Traveler wajib menyertakan surat hasil rapid test atau PCR test untuk terbang.

Hal ini harus dipenuhi, namun membuat traveler kemudian enggan terbang karena harus melakukan tes dulu sebelum ke bandara.

Angkasa Pura II Uji Coba Aplikasi Travelation di 19 Bandara untuk Hindari Antrean Panjang

Menanggapi kendala ini, AP II menyediakan fasilitas rapid test, yang dioperasikan oleh pihak lain seperti di Bandara Soekarno-Hatta Terminal 2 dan Terminal 3 sehingga membantu traveler yang harus terbang mendadak, misalnya dalam rangka dinas.

2. Harus tiba 3 jam lebih awal

Di bandara dilakukan pemeriksaan dokumen sebelum terbang. Karena itu, traveler harus tiba 3 jam sebelum keberangkatan, lamanya waktu menunggu di bandara membuat traveler enggan bepergian dengan pesawat.

Terkait hal ini, AP II memperkenalkan aplikasi Travelation untuk pengecekan dokumen secara digital.
Sebelum tiba di bandara, traveler dapat mengunggah dokumen ke Travelation untuk dilakukan pemeriksaan digital.

"Ini menyederhanakan jalannya prosedur namun tetap ketat. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengapresiasi AP II atas inovasi Travelation ini," kata Awaluddin.

3. Peraturan di daerah yang berbeda.

Di tengah pandemi, sejumlah daerah memiliki kebijakan guna mencegah penyebaran COVID-19. Misalnya, bagi traveler tujuan DKI Jakarta maka harus memiliki Surat Izin Keluar Masuk (SIKM). Kemudian, bagi penumpang tujuan Bali harus memiliki surat hasil PCR test.

"Kami dalam hal ini menyediakan berbagai informasi perjalanan terkini untuk rute domestik dan internasional, termasuk travel warning yang diberlakukan Indonesia dan negara-negara lainnya," ujar Awaluddin.

4. Kekhawatiran penyebaran Covid-19.

Menjawab kekhawatiran traveler tersebut, AP II memprioritaskan aspek kebersihan dan kesehatan di bandara-bandara yang dikelolanya.

Setiap harinya secara berkala di jam-jam yang ditetapkan telah dilakukan penyemprotan cairan disinfektan di seluruh wilayah terminal penumpang dan terhadap bagasi tercatat milik penumpang pesawat.

Selain itu, di Soekarno-Hatta saat ini juga sudah dioperasikan peralatan UV sterilizer untuk mensterilkan berbagai fasilitas seperti handrail eskalator dan travelator, serta guna mensterilkan bagasi tercatat saat melewati pemeriksaan x-ray dan pengambilan bagasi di baggage claim.

Bandara AP II juga menyediakan banyak hand sanitizer serta wastafel untuk mencuci tangan.
Penumpang pesawat juga wajib menggunakan masker selama penerbangan. Selain itu, seluruh kru pesawat juga menggunakan masker atau face shield.

5. Rute dan frekuensi terbatas.

Traveler belum memiliki banyak pilihan untuk melakukan perjalanan karena izin rute belum seluruhnya diaktifkan maskapai. Frekuensi di rute aktif pun masih terbatas. Hal ini dapat membuat traveler menunda perjalanan jika jadwal tidak sesuai dengan yang diinginkan.

AP II memberikan solusi, dengan menginisiasi kolaborasi lebih erat dengan maskapai dan stakeholder lain agar rute-rute aktif kembali dan frekuensi ditingkatkan.

Sejumlah maskapai juga akan membuka kembali rute-rute, seperti misalnya di Bandara Banyuwangi. Pada bulan depan, Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air dan Lion Air kembali mengoperasikan rute Jakarta – Banyuwangi dan sebaliknya.

6. Kesulitan mencari produk kesehatan/obat-obatan

Traveler sempat menyuarakan kesulitannya dalam mencari alat pelindung diri (APD) seperti masker, sarung tangan dan perlengkapan lainnya ketika berada di bandara.

Adapun sebetulnya saat ini sudah tersedia apotek di sejumlah bandara AP II meski memang masih dalam jumlah tidak banyak.

Solusi dari AP II, dengan segera menghadirkan vending machine di Soekarno-Hatta sebagai tempat bagi traveler dapat membeli berbagai perlengkapan APD seperti masker dan sarung tangan.

Selain itu, digital wayfinding yang ada di Soekarno-Hatta juga akan difungsikan sebagai media e-commerce untuk membeli obat-obatan dan vitamin. Traveler dapat memesan di digital wayfinding, lalu pesanan segera diantar ke boarding gate.

Cara Mudah Mengatasi Ketakutan saat Pertama Kali Naik Pesawat Terbang, Coba Atur Penapasan

Syarat dan Dokumen yang Harus Disiapkan untuk Terbang ke Bali dari Berbagai Maskapai

Pramugari Beri Saran Sebaiknya Penumpang Gunakan Pakaian Ini saat Terbang

Penumpang Pesawat yang Tidak Memakai Masker Bisa Dicabut Hak Terbangnya

Maskapai Ini Kemungkinan Tak Sedia Alkohol Lagi saat Terbang Kembali Setelah Pandemi

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul AP II: Ada Enam Hal yang Membuat Para Traveler Menunda Terbang di Tengah Pandemi

Ikuti kami di
Editor: Arif Setyabudi Santoso
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved