Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Mata Lokal Travel

Perkebunan Kopi Arabika, Wisata Antimainstream di Desa Wisata Ketapanrame, Trawas, Mojokerto, Jatim

Penulis: Nurul Intaniar
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi kebun kopi, seorang petani sedang memanen kopi dari pohonnya langsung.

TRIBUNTRAVEL.COM - Traveler, di Mojokerto ada tempat wisata antimainstream yang bisa kamu kunjungi, khususnya pencinta kopi.

Bukan coffee shop, melainkan perkebunan kopi.

Ya, di Mojokerto ada destinasi unik yang namanya Perkebunan Kopi Arabika.

Lokasinya bisa kamu temukan di Desa Wisata Ketapanrame, tepatnya di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Baca juga: Berapa Tarif Camping di Symphony Rinjani Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat?

Sesuai dengan namanya, Perkebunan Kopi Arabika ini adalah kebun kopi dengan jenis arabika.

Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin meninjau perkebunan kopi arabika, di Desa Ketapanrame, Trawas, Kabupaten Mojokerto, Minggu (6/10/2024). (Tribun Jatim Network/Mohammad Romadoni)

Di sana dikenal sebagai salah satu tempat penghasil kopi jenis arabika terbaik.

Kamu pencinta kopi pasti akan sangat senang jika mengunjunginya.

Mayoritas jenis kopi yang dikembangkan di wilayah Trawas adalah arabika, dengan ketinggian +1.100 Mdpl (Meter di atas permukaan laut). 

Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin mengatakan, perkebunan kopi di desanya berada di kawasan Perhutani dengan total seluas 67 hektare. 

Mayoritas jenis kopi yang ditanam adalah kopi arabika 90 persen dan sisanya robusta.

Baca juga: Panduan Rute Menuju Pantai Sondana, Wisata Bahari di Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara

"Ketinggian kita (Desa Ketapanrame) di atas 800-1.000 Mdpl, sehingga cocoknya memang ditanam kopi jenis arabika," jelasnya, Minggu (6/10/2024). 

Perkebunan kopi  memanfaatkan lahan melalui perjanjian kerja sama (PKS) dengan Perhutani. Jika dikelola secara benar, lahan seluas 67 hektare sekian dapat menghasilkan 100 ton kopi. 

"Ketapanrame bisa menyuplai, memproduksi satu tahun sekitar 100 ton. Kalau itu (kebun kopi) dikelola dengan baik, karena untuk lahan satu hektare bisa menghasilkan kurang lebih 1,1 hingga 1,2 ton," bebernya. 

Menurutnya, lokasi lahan perkebunan kopi berada cukup jauh dari permukiman warga, sehingga perawatannya belum maksimal. 

"Karena itu, lokasi yang kita tanam itu di lereng Gunung Welirang, dengan permukiman agak jauh sehingga perawatan belum intens dan hasilnya kurang maksimal," cetusnya. 

Baca juga: Suasana Syahdu dan Tenang, Kunjungi Pantai Sapa di Minahasa Selatan, Sulut untuk Piknik Akhir Pekan

Halaman
1234