Kamu hanya perlu mengambil tahu dan memakannya bersama dengan saus celup, yang biasanya merupakan vinaigrette berbahan dasar kecap ponzu.
Yudofu lahir di Kyoto dari shojin ryori , yang merupakan masakan vegetarian yang awalnya berasal dari pantangan makanan para biksu Buddha.
Restoran khusus yudofu didirikan di dekat kuil Nanzenji sekitar 1635 dan beberapa masih ada sampai sekarang.
2. Hamo
Baca juga: Kurangi Kepadatan Pariwisata, Kyoto Jepang akan Hapus Tiket Bus Satu Hari
Hamo bergigi runcing bukanlah jenis belut yang mudah dinikmati.
Tulang-tulang kecil membentang di sepanjang tubuhnya yang ramping.
Untuk membuatnya dapat dimakan, koki memasukkan potongan setengah ke dalam daging yang sudah diiris – 24 potongan dalam setiap rentang tiga sentimeter.
Hamo bisa direbus atau dipanggang, digoreng, bahkan disajikan sebagai shabu-shabu atau sup nabe.
Hamo rebus dingin yang disajikan dengan saus tart ume (plum) sangat populer di musim panas
Sifat belut sama ganasnya dengan giginya dan hamo diketahui menggigit jari koki yang tidak waspada bahkan setelah tenggorokannya dipotong.
Kekuatan hidup yang kuat inilah yang menjadikan hamo bagian dari budaya Kyoto – cukup kuat untuk bertahan dalam perjalanan panjang dan lambat ke kota yang terkurung daratan di masa jayanya.
3. Tsukemono (acar Jepang)
Baca juga: 5 Kafe Matcha Terbaik di Kyoto Jepang, Nakamura Tokichi Sudah Ada Sejak 1854
Jauh sebelum lemari es pertama dibuat, Jepang mengawetkan sayurannya dengan mengasinkannya dalam garam.
Ketika Kyoto menjadi ibu kota negara pada tahun 794, berbagai barang dari seluruh Jepang mulai dibawa ke Kyoto dan istana kekaisaran.
Pengrajin lokal bekerja untuk lebih menyempurnakan produk ini, sehingga menciptakan berbagai macam kerajinan Kyoto, salah satunya adalah tsukemono.