TRIBUNTRAVEL.COM - Setiap daerah pasti memiliki tokoh pahlawan yang dikenang karena aksi heroiknya ataupun sumbangsihnya kepada masyarakat.
Jakarta sebagai ibu kota juga punya tokoh legendaris yang begitu melekat di hati warga Betawi, yaitu Si Pitung.
Baca juga: Resep Soto Betawi dengan Kuah Susu yang Creamy & Daging Empuk Juicy
Baca juga: Kue Ape Khas Betawi, Cocok Buat Camilan atau Buah Tangan
Nama Si Pitung dikenal luas karena keberaniannya melawan penjajah Belanda pada awal tahun 1900-an.
Cara yang Pitung tempuh berbeda dengan tokoh pejuang lain.
Baca juga: Itinerary 3 Hari 2 Malam Wisata Kuliner Kota Jakarta, Coba Pangsit Goreng Viral hingga Soto Betawi
Baca juga: Berawal dari Ruang Tamu Rumah, UMKM Pasobi Ondel-ondel Betawi Siap Go Internasional
Pitung merampas harta para saudagar kaya yang dianggap bersekutu dengan kolonial Belanda, lalu membagikannya kembali kepada rakyat kecil.
Aksi inilah yang membuatnya dicintai masyarakat, meski sekaligus menjadi buruan tentara Belanda.
Pitung kerap berpindah tempat demi menyelamatkan diri dari upaya penangkapan dan eksekusi.
Satu lokasi yang diyakini menjadi tempat persembunyian Pitung adalah sebuah rumah panggung di kawasan Marunda, Jakarta Utara.
Kini, bangunan tersebut dilestarikan dengan nama Situs Marunda Rumah Si Pitung, dan menjadi bagian dari Museum Kebaharian Jakarta sejak 2016.
Baca juga: 7 Spot Jajan Makanan di Jakarta Fair 2024, Kampung Betawi hingga Pucuk Coolinary Festival
Lokasi dan Cara Menuju Rumah Si Pitung
Rumah Si Pitung beralamat di Jalan Kampung Marunda Pulo No.2, RT.2/RW.7, Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, DKI Jakarta 14150.
Lokasinya memang cukup jauh dari pusat kota, namun masih bisa dijangkau dengan transportasi umum.
Pengunjung bisa menggunakan bus Transjakarta rute 10A Tanjung Priok – Rusun Marunda, lalu turun di halte Rusun Marunda.
Dari sana, tinggal berjalan kaki sekitar tujuh menit untuk sampai ke depan museum.
Sepanjang jalan, pengunjung akan disuguhi pemandangan pantai yang menenangkan meski cuaca terik.
Harga tiket masuk sangat terjangkau, yaitu Rp 15.000 per orang.
Jam operasionalnya setiap Selasa hingga Minggu, pukul 08.00 – 16.00 WIB.
Suasana dan Bangunan Rumah Si Pitung
Setelah melewati loket tiket, pengunjung akan melihat rumah panggung khas Betawi yang berdiri kokoh dengan dominasi kayu berwarna cokelat gelap.
Bangunan ini terlihat sederhana, namun menyimpan cerita besar tentang perjuangan rakyat kecil.
Di area museum, terdapat tiga bangunan utama: Rumah Si Pitung, mushola, serta kantor staf lengkap dengan toilet dan kios.
Saat masuk ke dalam rumah panggung, pengunjung diwajibkan melepas alas kaki demi menjaga kebersihan bangunan.
Bagian depan rumah berupa beranda luas dengan kursi kayu antik dan patung yang menyerupai Si Pitung.
Pada dindingnya terdapat ukiran motif hias khas Betawi.
Ruang tamu menampilkan meja, kursi, dan toples kecil layaknya rumah tinggal tempo dulu.
Pengunjung juga bisa mengisi buku tamu di sini.
Selanjutnya, ada kamar tidur dengan tempat tidur berkelambu yang hanya bisa dilihat dari batas tertentu, serta ruang makan yang dilengkapi informasi tentang sosok Si Pitung.
Menariknya, meskipun cuaca panas, udara di dalam rumah terasa sejuk berkat pencahayaan alami dari jendela kayu.
Jejak Sejarah dan Cerita di Balik Rumah Si Pitung
Menurut keterangan pemandu, rumah ini dulunya milik seorang pedagang kaya bernama Haji Syafiuddin.
Ada dua versi cerita mengenai hubungannya dengan Si Pitung.
Pertama, rumah ini pernah dirampok Pitung.
Kedua, rumah ini sebenarnya menjadi tempat persembunyian Pitung yang dipercaya sebagai sahabat Haji Syafiuddin.
Untuk mengelabui Belanda, dibuatlah skenario seolah-olah Pitung merampok rumah tersebut.
Selain itu, hingga kini masih ada pengunjung yang datang dengan maksud mencari "kesaktian" dari sosok Si Pitung.
Namun pihak museum selalu menegaskan bahwa tempat ini hanyalah situs sejarah, bukan lokasi ritual.
Pertunjukan Budaya Betawi
Setiap akhir pekan, halaman Rumah Si Pitung juga diramaikan dengan acara budaya seperti musik gambang kromong dan tarian Betawi.
Pertunjukan ini terbuka gratis bagi siapa saja yang datang.
Suasana inilah yang membuat kunjungan ke Rumah Si Pitung tidak hanya memberikan pengetahuan sejarah, tetapi juga pengalaman budaya yang berharga.
Rumah Si Pitung di Marunda, Jakarta Utara, bukan sekadar bangunan kayu peninggalan masa lalu.
Tempat ini menjadi saksi bisu kisah perjuangan rakyat kecil melawan kolonialisme, sekaligus pusat pelestarian budaya Betawi.
Dengan tiket masuk yang terjangkau dan akses yang relatif mudah, situs ini patut masuk dalam daftar destinasi wisata sejarah di Jakarta.
Berwisata ke Rumah Si Pitung bukan hanya soal melihat rumah panggung tua, tetapi juga belajar tentang keberanian, solidaritas, dan identitas budaya Betawi yang melekat kuat hingga kini.
TribunTravel
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.