Breaking News:

Wabah Covid-19 Melanda Basecamp Gunung Everest, Lebih dari 30 Pendaki Dievakuasi

Lebih dari 30 pendaki terpaksa dievakuasi setelah wabah Covid-19 melanda basecamp Gunung Everest.

unsplash.com/@michaelclarke86
Ilustrasi puncak Gunung Everest, Himalaya 

TRIBUNTRAVEL.COM - Gunung Everest menjadi wilayah terbaru yang berperang dengan wabah Covid-19.

Tercatat, lebih dari 30 pendaki yang tertular Covid-19 di basecamp Gunung Everest telah dievakuasi.

Kini, para pejabat setempat tengah berusaha mengekang penyebarannya.

Melnasir laman People, Selasa (11/5/2021), Gunung Everest sempat ditutup selama setahun akibat pandemi.

Baca juga: Pecahkan Rekor Dunia, Pria Ini Taklukkan Puncak Gunung Everest Sebanyak 25 Kali

Tujuan wisata populer itu baru secara resmi dibuka kembali untuk pengunjung pada bulan April 2021 lalu.

Namun, hanya beberapa minggu setelah dibuka kembali, basecamp Gunung Everest di kawasan Nepal dilanda wabah virus korona.

Ilustrasi - pendaki hendak mendaki Gunung Everest
Ilustrasi - pendaki hendak mendaki Gunung Everest (Foto oleh Christopher Burns di Unsplash)

Sejak saat itu, jumlahnya terus meningkat ketika Nepal bergulat dengan kurangnya oksigen, kapasitas dan tempat tidur di rumah sakit.

Menanggapi wabah tersebut, China mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka akan membuat "garis pemisah" di puncak untuk mencegah pembauran pendaki dari masing-masing sisi.

Garis pemisah akan ditetapkan oleh tim kecil pemandu pendakian Tibet.

Setelah garis terpasang, 21 warga negara China akan mendaki dari jalur Tibet.

Saat ini, tidak jelas bagaimana garis itu akan diberlakukan dan dari bahan apa akan dibuat.

Kantor Berita Xinhua mengonfirmasi kepada AP bahwa mereka yang memulai pendakian lewat sisi utara di China tidak akan diizinkan untuk melewati garis puncak atau melakukan kontak dengan siapa pun atau apa pun yang datang dari sisi selatan di Nepal.

Baca juga: Keren! Sampah yang Ada di Gunung Everest Ini Akan Diubah Jadi Karya Seni

Puncak Gunung Everest telah disebut sebagai "zona kematian", sebab banyak pendaki meninggal di sana karena kekurangan oksigen.

Area itu sendiri memiliki tinggi 8.848 meter (29.028,87 kaki) tetapi hanya berisi salju yang cukup untuk sekira enam pendaki dan pemandu sekaligus.

Meski begitu, ratusan pendaki telah berangkat setiap tahun untuk melakukan perjalanan ikonik selama pendakian musim semi, yang biasanya berlangsung dari April hingga awal Juni.

Pada tahun 2019, Gunung Everest mengalami salah satu pendakian musim semi yang paling mematikan setelah 'kemacetan lalu lintas' di gunung.

Insiden itu disebabkan oleh rekor pendaki sebanyak 381, mengakibatkan sedikitnya 11 kematian.

Baca juga: Fakta di Balik Zona Kematian Gunung Everest yang Sering Menelan Korban

Tetapi tahun lalu, setelah pandemi global yang menyebabkan penutupan Gunung Everest, gunung tersebut mengalami musim pendakian pertama dalam beberapa dekade yang tidak melibatkan 'kemacetan lalu lintas'.

Tahun ini, China tidak mengizinkan pengunjung asing untuk mendaki dari sisi Tibet karena kekhawatiran Covid-19,

Namun, mereka telah mengeluarkan izin kepada 38 orang 21 di antaranya adalah pendaki China yang disetujui untuk mendaki gunung dari lereng utara.

Halaman
12
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved