Breaking News:

Ilmuwan Temukan Jerapah Kerdil di Namibia dan Uganda

Para ilmuwan dibuat terpana saat mereka menemukan dua jerapah kerdil di Uganda dan Namibia.

Pixabay/antonytrivet
Ilustrasi jerapah. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Jerapah memiliki ciri khas berupa tubuh yang menjulang tinggi.

Memiliki postur tinggi, menjadi keunggulan tersendiri bagi jerapah untuk bertahan hidup di alam liar.

Identik dengan tubuh yang tinggi, para ilmuwan dibuat terpana saat mereka menemukan dua jerapah kerdil di daratan Afrika.

Diwartakan dalam  The National, Rabu (13/1/2021), rata-rata jerapah tumbuh antara 4,5 hingga 6 meter.

Namun pada 2018, para ilmuwan yang bekerja dengan Lembaga Konservasi Jerapah menemukan jerapah setinggi 2,6 meter di Namibia.

Tiga tahun sebelumnya, mereka juga menemukan jerapah setinggi 2,8 meter di taman margasatwa Uganda.

Baca juga: Keren! Para Ilmuwan Bangun Kembali Otak Dinosaurus dan Ungkap Temuan Mengejutkan

"Sungguh menakjubkan apa yang ditemukan oleh para peneliti kami di lapangan," kata Julian Fennessy, salah satu pendiri lembaga tersebut.

"Kami sangat terkejut," tambahnya.

Para ilmuwan tersebut mempublikasikan temuan mereka di British Medical Journal pada akhir Desember 2020 lalu.

Dalam kedua kasus tersebut, jerapah memiliki standar leher yang lebih pendek dan kaki yang kekar, kata peneliti.

Skeletal dysplasia, nama medis untuk kondisi tersebut, menyerang manusia dan hewan peliharaan, tetapi jurnal mengatakan kondisi ini jarang terlihat pada hewan liar.

Rekaman yang diambil oleh Lembaga Konservasi Jerapah menunjukkan jerapah kerdil Uganda berdiri di sabana Taman Nasional Murchison Falls, Uganda.

Sementara itu, jerapah yang lebih tinggi dengan kaki panjang berjalan di belakangnya.

“Sayangnya mungkin itu tidak memiliki manfaat sama sekali. Jerapah telah tumbuh lebih tinggi untuk mencapai pohon yang lebih tinggi,” kata Fennessy.

Dia menambahkan bahwa kemungkinan besar secara fisik tidak mungkin bagi mereka untuk berkembang biak dengan kawanan mereka yang berukuran normal.

Jumlah mamalia tertinggi di dunia ini telah menurun sekitar 40 persen selama 30 tahun terakhir menjadi sekitar 111.000.

Alhasil, keempat spesies jerapah itu diklasifikasikan oleh para konservasionis sebagai hewan yang rentan punah.

"Ini disebabkan karena sebagian besar hilangnya habitat, fragmentasi habitat, pertumbuhan populasi manusia, lebih banyak lahan yang dibudidayakan," kata Fennessy.

"Dikombinasikan dengan sedikit perburuan dan perubahan iklim," katanya.

Terakhir, Fennessy menambahkan bahwa sejumlah upaya konservasi telah membantu jumlah jerapah mulai pulih dalam dekade terakhir.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Spesies Primata Baru yang Terancam Punah, Hanya Tersisa 260 Ekor di Dunia

Baca juga: Serangga Ini Tidak Mati Dilindas Mobil, Ilmuwan Sebut Miliki Pelindung Seperti Baju Besi

Baca juga: Sempat Bingungkan Ilmuwan, Kematian Ratusan Gajah di Botswana Berhasil Dipecahkan

Baca juga: Paus Pembunuh Lancarkan Serangan ke Sejumlah Kapal, Buat Takut Pelaut dan Bingungkan Ilmuwan

Baca juga: Ilmuwan Temukan Makhluk Aneh di Antartika Kedalaman 5.000 Meter

(TribunTravel.com/Muhammad Yurokha M)

Ikuti kami di
Penulis: Muhammad Yurokha May
Editor: Nurul Intaniar
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved