TRIBUNTRAVEL.COM - Sebuah keluarga di Boston, Amerika Serikat, meninggalkan kenyamanan mereka untuk pindah ke luar negeri.
Jessica, Will Sueiro, dan kedua anak mereka memutuskan pergi ke Eropa pada 2013.
Ide itu muncul setelah perjalanan musim panas mereka ke Prancis.
"Kami mencintai komunitas kami, teman-teman kami. Kami pergi bukan karena kami tidak bahagia. Kami memutuskan untuk pergi dan melakukan perjalanan penuh waktu karena kami menginginkan ini untuk waktu yang sangat lama," jelas Jessica dikutip TribunTravel dari Insider.
Will menambahkan, "Kami selalu menginginkan gaya hidup ini. Kami selalu ingin keluar dari zona nyaman kami, itulah sebabnya kami hanya menunggu kesempatan yang tepat untuk mewujudkannya."
Mulai merencanakan
Mereka kemudian merencanakan perjalanan dalam waktu 12 bulan.
"Bagaimana kita bisa hidup di negara lain, bagaimana kita bisa membuat ini berhasil, bagaimana kita melakukan ini secara finansial, dan bagaimana kita mendidik anak-anak?" ucap Jessica.
Ia mengaku, tahun itu cukup sulit bagi mereka.
"Pada malam hari pukul 21.00, Will dan saya duduk dan mencoba mencari tahu semua logistik yang diperlukan untuk meninggalkan kehidupan kami yang tidak bergerak dan menjadi pelancong," lanjunya.
Pada April 2013, Will menjadi sukarelawan di garis finish Boston Marathon ketika sebuah bom meledak dan menewaskan tiga orang.
Momen itu semakin membuka mata mereka dan menyadari mereka ingin meninggalkan ruang nyaman.
Pada tahun itu juga, mereka pindah ke Kosta Rika, dan kemudian menuju Ekuador.
Saat itu, putri mereka berusia 10 tahun dan putra mereka berusia 6 tahun.
Walaupun sulit, namun mereka berhasil melewatinya.
Mereka pun akhirnya bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan baru mereka.
Mereka mengatakan, mereka senang membenamkan diri dalam budaya, terutama berteman dekat dengan penduduk setempat.
Setelah tiga tahun tinggal di Amerika Tengah dan Selatan, keluarga itu bepergian menggunakan mobil wisata atau Recreational Vehicle (RV) menuju setiap negara di Eropa.
"Percaya atau tidak, kami semua agak lelah (tinggal di satu tempat), dan anak-anak selalu ingin tinggal di RV, jadi saat itulah kami mendapatkan ide," kata Jessica.
Mereka berencana melakukannya selama satu tahun, tetapi mereka tinggal di RV mereka selama hampir tiga tahun, bepergian ke seluruh Eropa.
Merasa bosan di Eropa, keluarga itu kemudian berpetualang menuju Asia.
Melansir dari Insider, mereka tinggal di Jepang selama lima bulan.
"Jepang salah satu negara yang sangat kami kagumi. Namun kami tidak suka berada di satu tempat selama itu," ujar Jessica.
Terdampak pandemi
Mereka kemudian merencanakan keliling Asia, singgah di 12 negara berbeda di Asia.
Namun pandemi Covid-19 mengubah rencana perjalanan mereka.
Jessica dan Will berdiskusi untuk membeli rumah sementara dan beristirahat dari perjalanan, namun anak-anak mereka tidak menginginkannya.
Suatu hari, Jessica melihat sebuah kapal dijual melalui Facebook.
Jessica dan keluarganya menghabiskan waktu selama dua minggu untuk mencari tahu tentang kapal tersebut.
Akhirnya, mereka membeli catamaran setinggi 30 kaki itu seharga 160.000 dolar AS.
Melansir dari Insider, mereka memutuskan untuk berpetualang menggunakan perahu layar tanpa pengalaman berlayar sebelumnya.
"Saya tahu kedengarannya gila untuk membeli kapal di tengah Covid-19 dan mempelajari keterampilan baru ini tanpa pengalaman sama sekali. Tapi mengapa tidak?" kata Jessica.
Mereka kini tinggal di kapal di sebuah dermaga Prancis.
Jessica mengatakan, mereka belum bisa meninggalkan Prancis karena mereka tidak memiliki sertifikasi berlayar yang tepat, tetapi mereka tidak bisa mendapatkannya sampai Prancis keluar dari lockdown dan memulai kelas berlayar kembali.
Begitu mereka mendapatkan sertifikasi, mereka berencana untuk berlayar keliling Eropa dan membangun pengalaman sehingga mereka akhirnya bisa berlayar melintasi Samudra Atlantik.
"Harapan dan impian kami untuk dapat berlayar sepanjang musim dingin dan berakhir di Sisilia pada saat ini telah gagal dan sekarang kami duduk di dermaga dan belajar," ujar Will.
Kini keluarga itu sedang menyesuaikan diri dengan new normal di kapal mereka.
Kapal itu memiliki area tempat duduk yang luas di mana keluarga dapat berkumpul dan menikmati makanan bersama.
Di bagian dapur juga dilengkapi dengan oven.
Sementara itu, kamar tidur utama diisi dengan tempat tidur queen nan mewah.
"Mereka memiliki pelapis kasur terbaik di atasnya, dan setelah tidur di kasur RV selama dua setengah tahun, kami menyukai ini," kata Jessica.
"Kami orang-orang sederhana," lanjutnya.
Kapal itu juga dilengkapi dengan kamar mandi dan mesin cuci, sebuah benda yang tidak mereka miliki selama tinggal di RV.
Anak-anak mereka yang kini berusia 16 dan 13 tahun kini juga telah memiliki kamar sendiri.
Ini pertama kalinya dalam tujuh tahun mereka memiliki ruang pribadi.
Baca juga: Penumpang United Airlines dengan Gejala Covid-19 Meninggal saat Pendaratan Darurat
Baca juga: Seorang Pendaki Tewas Setelah Jatuh dari Ketinggian 24 Meter di Grand Canyon
Baca juga: Tertimpa Mesin Pesawat, Mekanik Maskapai American Eagle Tewas
Baca juga: Pertama Kali Sejak Pandemi, Emirates dan Flydubai Kembali Mengoperasikan Penerbangan ke Turki
Baca juga: Viral Cara Masak Mi Instan 1 Menit 45 Detik ala Asoka Remadja, Hasilnya Pas Anti Lembek!
(TribunTravel.com/Sinta Agustina)