Karena zaman dahulu belum ada lemari pendingin, balok-balok es itu ditutupi dengan selimut wol supaya tidak mencair.
Pada 1870, para pendatang kulit putih sangat senang minum segelas air ditambahkan dengan es batu di dalamnya.
Ya, dulu es batu hanya bisa dinikmati kaum elit Belanda yang ada di kawasan Weltevreden (Sawah Besar, Jakarta Pusat) atau Meester (Jatinegara, Jakarta Timur) saja.
Harga 500 gram es batu pada saat itu sekitar 10 sen gulden.
Pada zaman kolonial, nominal ini dinilai sangat mahal.
Bahkan orang Belanda biasa tak bisa menikmati segarnya minuman dingin yang dicampur es batu kala itu.
Es batu juga disuguhkan saat acara-acara penting dan merupakan hidangan mewah.
Baru 25 tahun setelahnya, sebuah pabrik es pertama dibuka di Batavia di jalan Gajah Mada kawasan Petojo.
Karena pabrik tersebut berada di wilayah Petojo, maka warga menamai es batu tersebut dengan sebutan Es Petojo.
Pabrik Es Petojo kemudian berkembang ke berbagai daerah di Pulau Jawa di antaranya Bandung, Bogor, Sukabumi, Cirebon, Surabaya, Pekalongan, Semarang dan Solo.
Produk-produk yang dihasilkan Pabrik Es Saripetojo adalah block ice, tube ice, cube ice, crusher ice, dan carving ice. (TribunTravel.com/tyas)
Baca juga: Libur Tahun Baru Imlek di Singkawang, Jangan Lewatkan 5 Kuliner Legendaris Ini untuk Dicicipi
Baca juga: 8 Tempat Wisata Instagramable di Riau, dari Air Terjun Lubuk Bigau hingga Pulau Jemur.
Baca juga: 6 Soto Enak di Solo untuk Sarapan, Cobain Soto Triwindu yang Legendaris
Baca juga: Resep Rujak Juhi, Kuliner Khas Betawi yang Kini Mulai Langka
Baca juga: Resep Nasi Kacang Hijau Ubi Merah, Kreasi Menu Sarapan Lezat, Hemat dan Bergizi
Baca tanpa iklan