Penerapan Physical Distancing Ternyata Sudah Dilakukan Sejak Abad Ke-19, Simak Sejarahnya

Penulis: Muhammad Yurokha May
Editor: Arif Setyabudi Santoso
Ilustrasi penerapan physical distancing

TRIBUNTRAVEL.COM - Pandemi virus corona (covid-19) memiliki dampak pada sejumlah aspek kehidupan.

Satu di antaranya adalah perubahan yang dilakukan dalam kegiatan sehari-hari.

Selama new normal, masyarakat diimbau untuk lebih sering mencuci tangan, wajib memakai masker, hingga menjaga jarak antar sesama.

Hal ini dilakukan untuk mencegah dan meminimalisir penyebaran virus corona.

Penonton Berdiri di Tempat Khusus, Inikah Konser Musik Social Distancing Pertama di Dunia?

Bahkan, di berbagai tempat umum kini telah dipasang tanda agar kita bisa mengatur jarak antara satu dengan yang lainnya, misalnya saat sedang mengantre di kasir.

Menjaga jarak adalah salah satu anjuran dari WHO yang awalnya disebut sebagai social distancing, lalu diganti menjadi physical distancing.

Menjaga jarak yang dianjurkan untuk mencegah penularan virus corona juga diubah.

Dari yang awalnya adalah minimal satu meter, saat ini menjadi minimal dua meter.

Dengan menjaga jarak dari orang lain sejauh dua meter, maka akan mengurangi risiko penyebaran droplet atau tetesan air liur dari satu orang ke orang lain.

Tahukah kamu? Anjuran untuk menjaga jarak demi mengurangi penularan virus ternyata bukan hanya dilakukan ketika pandemi Covid-19 saat ini saja.

Untuk lebih lengkapnya, yuk simak informasi berikut ini.

Mengapa Harus Menjaga Jarak untuk Mengurangi Risiko Penularan Virus?

Selain memakai masker, menjaga jarak dengan orang lain ketika berada di tempat umum juga harus dilakukan untuk mengurangi penyebaran virus.

Seperti yang kita ketahui, penyebaran virus corona melalui droplets bisa masuk ke tubuh melalui alat pernapasan seperti mata dan hidung, maupun lewat mata.

Nah, droplets bisa menyebar saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara dan menempel di permukaan benda, maupun ke arah tubuh seseorang.

Pada saat inilah penyebaran virus corona bisa terjadi dari droplets atau tetesan kecil air liur dari seseorang yang sedang sakit ke orang yang sehat.

Tetesan air liur ini akan jatuh ke sekitar orang yang batuk atau bersin, dengan tetesan yang berat akan jatuh ke orang atau benda yang paling dekat, sedangkan tetesan yang lebih ringan akan jatuh ke tempat yang lebih jauh.

Inilah mengapa kita dianjurkan berada atau menjaga jarak setidaknya dua meter dari orang lain dan tidak berkerumun untuk mengurangi penyebaran droplets dari satu orang ke orang lain.

Sejarah Aturan Menjaga Jarak Dua Meter

Aturan menjaga jarak dengan orang lain untuk mencegah penyebaran virus ternyata sudah dilakukan sejak lama, teman-teman.

Penelitian pertama mengenai penyebaran droplets ini sudah dilakukan mulai abad ke-19 dengan cara mengumpulkan sampel pada piring kaca.

Lalu di tahun 1897, peneliti mengusulkan agar ada jarak sekitar satu sampai dua meter antara satu orang dengan orang lain untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit.

Hal ini dilihat berdasarkan jarak sampel tetesan yang diketahui mengandung patogen atau zat yang menyebabkan penyakit.

Ilustrasi penerapan social distancing atau jaga jarak (Flickr/ Barry Dale Gilfry)

Untuk memperkuat hasil penelitian ini, di tahun 1940 dilakukan penelitian melalui foto seseorang yang bersin untuk mengetahui jarak penyebaran droplets.

Di tahun 1948, dilakukan penelitian mengenai penyebaran penyakit streptokokus hemolitik melalui tetesan droplets.

Hasilnya, hanya 10 persen dari droplets yang terlempar sejauh 1,7 meter, namun 10 persen droplets dari peserta lainnya tersebar sejauh 2,9 meter.

Pada penelitian awal ini, sebenarnya hasilnya masih belum akurat, namun dari tetesan terbesar yang diketahui jatuh dekat inangnya, maka kemudian disimpulkan bahwa jarak aman agar tidak tertular penyakit adalah satu sampai dua meter.

Ada Berbagai Faktor yang Memengaruhi Penyebaran Droplets

Penyebaran droplet dari satu orang ke orang lain ini ternyata dipengaruhi berbagai faktor.

Faktor pertama adalah ukuran dari droplets itu sendiri, semakin kecil dan semakin ringan ukuran droplets, maka jarak penyebaran semakin jauh.

Sedangkan droplets yang berukuran besar akan terlempar lebih dekat dengan inangnya.

Kegiatan pernapasan, seperti batuk dan bersin juga memengaruhi bagaimana droplets bisa terlempar pada jarak tertentu.

Saat kita batuk atau bersin, maka akan tercipta awan gas yang hangat dan lembap dan memengaruhi bagaimana tetesan air liur ini melaju.

Faktor lain yang memengaruhi laju droplets adalah volume bicara, misalnya saat seseorang berbicara dengan keras atau menyanyi, maka droplets yang jatuh bisa lebih jauh.

Menjaga jarak memang bisa mengurangi risiko penyebaran virus penyakit, seperti virus corona.

Namun untuk semakin mengurangi penyebaran virus corona, pemakaian masker saat berada di tempat umum atau berbicara dengan orang lain harus selalu dilakukan.

Konser Social Distancing di Era New Normal Pertama Diselenggarakan di Inggris, Intip Keseruannya

Demi Peringatkan Social Distancing di Lobi Hotel, Pria Ini Luncurkan Empat Tembakan dari Senjata Api

Selama Social Distancing, Bioskop Ini Sediakan Boneka Lucu untuk Dipeluk dan Temani Penonton

Terapkan Social Distancing, Pub di Inggris Ini Pasang Pagar Listrik

Ribuan Warga Prancis Abaikan Physical Distancing dan Berjoget di Konser Musik

Artikel ini telah tayang di Bobo.grid.id dengan judul "Menjaga Jarak 2 Meter Disebut Bisa Kurangi Penularan Virus, Ternyata Sudah Dilakukan Sejak Abad Ke-19"