Fenomena Begpackers di Negara-negara Asia, Turis Asing Ngamen untuk Keliling Dunia

Penulis: Sinta Agustina
Ilustrasi begpackers

Menanggapi hal ini, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPA Mataram Syahrifullah menyampaikan, satu keluarga asal Rusia ini telah diamankan di kantor imigrasi.

Petugas Imigrasi telah memeriksa dokumen keluarga mereka dan tidak menemukan masalah terkait waktu izin tinggal.

Namun, kesalahan mereka adalah mengamen atau bermain musik untuk mencari uang.

Begpackers di Hong Kong (hongkongfp.com)

"Karena saat ini tengah terjadi musibah Covid-19, maka kami memberi kelonggaran. Jika tak ada Covid-19, saya pasti akan tindak tegas. Mereka hanya boleh berwisata di Lombok, bukan melakukan kerja atau aktivitas seperti mengamen atau mengemis," jelas Syahrifullah dikutip dari Kompas.com.

Sementara di Bali, fenomena ini juga turut menarik perhatian pemerintah setempat.

Bahkan, kantor imigrasi di Bandara Ngurah Rai Bali menuliskan sebuah kutipan bahwa turis yang kehabisan uang atau berpura-pura menjadi pengemis akan dikirim ke kedutaan mereka, seperti dilaporkan South China Morning Post.

Selain Indonesia, Hong Kong juga melakukan tindakan tegas terhadap para begpackers.

Di Hong Kong, undang-undang pengamen berlaku bagi seniman jalanan karena alasan kebisingan.

LIHAT JUGA:

Menurut South China Morning Post, pengemis berada di seluruh kota tiga tahun lalu, termasuk stasiun kereta api di luar, di jembatan, dan di trotoar.

Halaman
123