Soal menu, Cafe Jamu Arcaraki menyajikan dua bahan dasar jamu sebagai minuman jagoannya yakni kunyit asam dan beras kencur.
Peracik jamu akan mengolah dua bahan dasar ini menjadi berbagai minuman kekinian dan memadukannya dengan soda, creamer, dan susu.
"Kami ingin mengubah persepsi kalau minum jamu itu pahit dan menakutkan," ujar Brand Manager Cafe Jamu Acaraki Hardiana Prasanti.
Peralatan yang digunakan para peracik jamu tidak jauh berbeda dengan para barista yakni menggunakan mesin kopi, alat seduh V60, dan alat kopi french press.
Semua menu di Cafe Jamu Acaraki dibanderol mulai dari Rp 18.000 hingga Rp 35.000 setiap gelasnya.
Cafe Jamu Acaraki juga menyediakan jamu kemasan siap seduh yang bisa dijadikan buah tangan dan dapat diseduh sendiri di rumah.
Produk jamu ini diberi brand Wilwatikta. Satu boks yang terdiri atas enam bungkus jamu siap seduh dibanderol Rp 100.000.
Hardiana mengklaim bahwa Wilwatikta sudah mendapatkan izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk diedarkan.
Setiap bulannya, Cafe Jamu Acaraki juga membuka kelas umum bagi orang yang berminat mendalami cara meracik jamu.
Peserta kursus membuat jamu akan mendapat filosofi dan mengenali bahan dasar jamu.
Untuk mengikuti kelas jamu, peserta cukup membayar Rp 300.000 setiap pertemuan dengan maksimal peserta 15 orang.
Durasi kelas berlangsung selama tiga jam hingga empat jam.
"Kami ingin masyarakat melihat jamu senang, meminum senang, sehingga tubuh sehat," kata Hardiana.
"Acaraki pun banyak didatangi anak muda yang penasaran maupun turis manca negara yang dibawa oleh tour guide Kota Tua," tambah Hardiana.
Acaraki sendiri berarti peracik jamu. Kata ini tertulis dalam relief di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Sang pemilik Cafe Jamu Acaraki, Joni Yuwono, menurut Hardiana, ingin membuat jamu bisa setara dengan minuman global lainnya.