Breaking News:

Mata Lokal Travel

Melihat Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi, Sumbar, Ini 5 Hal yang Perlu Anda Ketahui

Sederet fakta menarik tentang Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta yang perlu diketahui termasuk punya sumur tua dan dibangun pada tahun 1860 silam.

TribunPadang.com/Merinda Faradianti
Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta merupakan bangunan yang dibangun untuk mengenang dan memperoleh gambaran tempat Bung Hatta dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya hingga berusia 11 tahun. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia Mohamad Hatta , merupakan putra kelahiran Bukittinggi , Provinsi Sumatra Barat (Sumbar).

Mohamad Hatta juga dikenal dengan Bapak Proklamator Kemerdekaan Indonesia.

Baca juga: Menelusuri Rumah Si Pitung Marunda, Cilincing Jakarta Utara: Sejarah, Lokasi, dan Harga Tiket Masuk

Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi yang kini berdiri kokoh merupakan replika dari bangunan sebelumnya yang roboh karena dimakan usia.
Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi yang kini berdiri kokoh merupakan replika dari bangunan sebelumnya yang roboh karena dimakan usia. (Instagram/@museumrumahkelahiranbunghatta)

Baca juga: Itinerary Piknik 1 Hari ke Solo dengan Rombongan, Liburan Hemat Mulai Rp 190 Ribu

Rumah pertama Mohamad Hatta berlokasi di Jalan Soekarno Hatta Nomor 37, Campago Ipuh, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, Bukittinggi, Sumatera Barat.

Namun tak banyak yang tahu bagaimana fakta-fakta dari rumah kelahiran Bung Hatta, sapaan akrab Mohamad Hatta yang kini difungsikan sebagai museum.

Baca juga: Curug Parigi Bekasi Jawa Barat: Keindahan Niagara Mini yang Ternyata Menyimpan Masalah

Baca juga: Panduan & 6 Tips Liburan ke Kebun Raya Bogor, Wisata Alam Favorit di Jawa Barat

Rumah tersebut kini bernama Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

Rumah Bung Hatta yang kini berdiri kokoh merupakan replika dari bangunan sebelumnya roboh karena dimakan usia.

Berikut hal-hal yang perlu Anda ketahui tentang Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

1. Ditinggali Bung Hatta 11 Tahun

Edukator Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta ,Muhammad Taqwa menuturkan, Bung Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 yang ketika itu Kota Bukittinggi masih bernama Fort De Kock. Nama ibunya adalah Salehah.

"Bung Hatta lahir di kamar ibunya di lantai dibantu oleh dukun beranak, karena dulu belum banyak dokter," kata Taqwa.

2 dari 4 halaman

Bung Hatta tinggal di rumah kelahirannya hingga menamatkan pendidikan setingkat sekolah dasar di Europeesche Lagere School yang berlokasi di Padang pada 1913.

Selepas itu, Bung Hatta melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO), setingkat Sekolah Menengah Pertama di Kota Padang, hingga ke Handels Hogeschool di Rotterdam, Belanda.

2. Didirikan Sekitar Tahun 1860

Muhammad Taqwa mengatakan, rumah kelahiran Bung Hatta dulunya mulai dibangun pada 1860-an oleh keluarga besarnya.

Arsitekturnya bertingkat dua dengan bahan utama kayu, mulai dari rangka, dinding, lantai, hingga platfon.

Sebagian dinding juga terbuat dari anyaman bambu. Sementara bagian atap sudah dilapisi seng.

Rumah masa kecil Bung Hatta ini terbagi ke dalam beberapa bagian yang terdiri dari empat kamar tidur, yaitu kamar paman Bung Hatta, nenek dan kakek serta kamar ibu Bung Hatta.

Kemudian dua ruang tamu, dan ruang makan, dapur, kamar mandi serta paviliun yang masing-masingnya berjumlah satu.

Paviliun digunakan sebagai kamar Bujang Bung Hatta.

Selain itu, juga terdapat dua rangkiang (lumbung padi), kandang kuda, tempat bugi dan bendi yang semuanya terpisah dengan bangunan utama rumah.

3 dari 4 halaman

Lalu bagian depan rumah, sebelah kiri terdapat tempat penyimpanan barang dan ruangan yang sering dijadikan tempat belajar oleh Bung Hatta.

"Rumah ini dulunya dekat dengan bibir jalan," ujar Muhammad Taqwa saat berbincang dengan TribunPadang.com, Kamis (21/7/2022).

Baca juga: Itinerary Liburan ke Semarang 3 Hari 2 Malam Bujet Rp 1,4 Jutaan

3. Dibangun Ulang

Rumah kelahiran Bung Hatta kini berdiri kokoh bukanlah bangunan aslinya, melainkan bangunan baru yang dibangun menyerupai bangunan lamanya.

Rumah yang baru ini mulai dibangun pada November 1994, dan selesai pada 15 Januari 1995.

Pembangunannya diinisiasi oleh Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara.

Muhammad Taqwa berkisah, sebelum dibangun ulang, rumah ini lokasi rumah ini berdiri sempat terjual kepada seseorang bernama Haji Sabar, sekitar tahun 1960-an.

Pada tahun 1993, tanah yang berpindah tangan dibeli lagi oleh Pemerintah Kota Bukittinggi pada 1993 dan kemudian dibangun rumah baru yang akan difungsikan sebagai museum.

Proses penelitian sebelum dibangun sudah berlangsung sejak 1993. Penelitian ini dilakukan agar rumah yang akan dibangun menyerupai rumah aslinya.

Adapun Penanggung Jawab pembangunannya saat itu adalah Hasan Basri Durin, Ketua Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara, dan Syofjan Asnawi, Rektor Universitas Bung Hatta.

4 dari 4 halaman

"Rumah ini dibangun semirip mungkin dengan rumah yang lama, mulai dari bangunannya, tata letak, hingga properti dan perkakas yang ada didalamnya," tutur Taqwa.

Perbedaan dengan rumah yang sebelumnya, taqwa menyebut terletak pada posisi rumah sekarang yang agak dimundurkan ke belakang karena termakan badan jalan.

Rumah yang selesai di bangun kemudian diresmikan pada 12 Agustus 1995, bertepatan dengan hari lahir Bung Hatta.

Bangunan dan museumnya diresmikan oleh Menteri Negara Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Azwar Anas.

4. Sumur Tua

Meski bangunannya replika, Rumah Kelahiran Bung Hatta ini masih menyimpan sebuah peninggalan yang asli, saksi bisu riwayat Bung Hatta di rumahnya, yaitu sebuah sumur tua.

Sumur itu dulunya dibangun bersamaan dengan rumah keluarga besar Bung Hatta sebagai sumber air bersih utama.

Sekarang peninggalan sejarah tersebut berada persis di kamar paman Bung Hatta bernama Idris. 

"Dulu sumur itu berada di dekat dapur. Karena posisi rumah berpindah atau agak mundur dari yang sebelumnya, jadi sumur itu masuk ke dalam kamar paman Idris," terang Taqwa.

Dia merinci, sumur tersebut memiliki kedalaman sekitar sembilan meter dengan lebar sekitar dua meter. Tipe sumurnya adalah sumur galian.

Sekarang sumur tersebut masih difungsikan sebagai sumber air bersih bagi museum. Sebagai keamanan, sumur itu kini ditutupi dengan pintu besi dan papan.

"Dulu sumur itu difungsikan dengan ember dan katrol, kalau sekarang kita pakai pompa," ucap Taqwa.

Baca juga: Itinerary Jakarta Barat 1 Hari dari Bekasi: Bujet Rp 540 Ribu Berdua, Wisata Kota Tua & Museum Macan

5. Menyimpan Riwayat Hidup Bung Hatta

Meski hanya didiami selama 11 tahun oleh Bung Hatta, rumah kelahirannya ini berperan besar membentuk kepribadiannya yang terkenal disiplin, sederhana, penyayang, dan berintegritas.

Di rumah ini pula, semua riyawat hidup Bung Hatta tersimpan, mulai dari garis keturunannya, baik dari ayah maupun ibu, cerita kelahirannya, masa pendidikan, saat jadi Wakil Presiden RI hingga ia meninggal dunia.

Di dalam rumah yang berada di jantung Kota Bukittinggi ini terdapat segudang dokumen dan foto Bung Hatta.

"Semua dokumen dan foto itu kita peroleh dari berbagai kalangan, seperti keluarga, kerabat, pemerintah, humas Bung Hatta, dan juga dari museum lainnya," katanya.

(TribunTravel.com)

Selanjutnya
Sumber: Tribun Travel
Tags:
Sumatera BaratBukittinggiMuseum Rumah Kelahiran Bung HattaMandiangin Koto SelayanMataLokalTravel Sate Lokan Lompong Sagu Pulau Pamutusan
BeritaTerkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved