Breaking News:

Tradisi Unik: Warga Desa di Kaki Gunung Merbabu Ini Dilarang Nanggap Wayang

Larangan menggelar pagelaran wayang kulit ini dilakukan oleh penduduk di Dukuh Wonosegoro, Desa/Kecamatan Cepogo, Boyolali.

Candra Firmansyah, CC BY-SA 4.0 , via Wikimedia Commons
Ilustrasi nanggap wayang 

TRIBUNTRAVEL.COM - Jika kamu sedang liburan ke kaki Gunung Merbabu, kamu pasti akan menemukan banyak cerita unik.

Satu di antaranya terkait dengan pantangan.

Satu pantangan yang terbilang tidak biasa adalah larangan menggelar pagelaran wayang kulit.

Larangan menggelar pagelaran wayang kulit ini dilakukan oleh penduduk di Dukuh Wonosegoro, Desa/Kecamatan Cepogo, Boyolali.

Baca juga: Mudik Lebaran di Boyolali? Jangan Lupa Cobain Iga Bakar Pak Wid yang Legendaris

Spanduk Dukuh Wonosegoro, Desa/Kecamatan Cepogo, Boyolali.
Spanduk Dukuh Wonosegoro, Desa/Kecamatan Cepogo, Boyolali. (TribunSolo.com/Tri Widodo)

Baca juga: Menikmati Jernih Segarnya Sumber Mata Air Umbul Pengging, Pemandian Bernuansa Kerajaan di Boyolali

Larangan yang sudah ada sejak turun temurun ini masih tetap dipegang teguh oleh masyarakat hingga sekarang.

Tak diketahui secara pasti sejak kapan pantangan menggelar wayang itu ada.

Begitu pula dengan asal usulnya.

Hanya saja, warga meyakini jika pantangan tersebut ada berkaitan dengan Watu Kelir (Batu bentuk kelir wayang).

Suprapto mengaku jika pantangan tersebut sudah ada sejak dirinya kecil. 

Dia yang kini berusia 50 itu, tak pernah melihat adanya warga atau Dukuh yang menggelar wayangan.

“Sejak saya kecil tidak pernah ada wayangan disini. Warga tidak ada yang berangi nanggap (menggelar wayang),” jelasnya.

Mengenai petaka yang akan menimpa warga yang melanggar itupun tak ada yang tahu.

Baca juga: 3 Soto Enak di Boyolali Buat Menu Makan Malam, Cocok jadi Sajian Hangat saat Musim Hujan

Ilustrasi nanggap wayang
Ilustrasi nanggap wayang (Candra Firmansyah, CC BY-SA 4.0 , via Wikimedia Commons)

Baca juga: Uniknya Pecel Khas Boyolali, Disajikan dengan Jenang hingga Sambal Tumpang yang Lezat

Pasalnya, selama dia tinggal disini tak ada warga yang menggelar wayangan sehingga musibah apa yang akan terjadi juga belum ada.

Dia mengaku menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, jika pantangan tersebut berkaitan dengan sosok penunggu ghaib yang menjaga kampung yang ada di kaki gunung Merbabu ini.

Konon, sang penunggu ghaib ini kurang berkenan dengan adanya pagelaran wayang kulit.

“Katanya tidak boleh menyaingi watu (batu) yang berbentuk seperti kelir yang ada di sebelah selatan dukuh ini,” jelasnya.

Sutopo salah satu pemerhati budaya mengatakan masih mendalami cerita penduduk berkaitan larangan pagelaran wayang kulit ini.

“Ini sebuah kearifan lokal yang masih dipertahankan. Saya yakin hal itu ada maksud baiknya, seperti larangan menebang pohon besar yang bermaksud melindungi mata air,” pungkasnya.

Baca juga: Ada Tumpang, Jenang Pecel, dan 5 Kuliner Enak di Boyolali yang Tak Boleh Dilewatkan

Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Kampung di Kaki Gunung Merbabu Ini Punya Pantangan Unik, Dilarang Nanggap Wayang

Sumber: Tribun Solo
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved