Breaking News:

Studi Baru Ungkap Memblokir Kursi Tengah di Pesawat Bisa Kurangi Penularan Covid-19

Menjaga kursi tengah di pesawat tetap kosong ternyata dapat mengurangi risiko paparan Covid-19.

Flickr/ Jack Snell
Ilustrasi maskapai yang mengosongkan kursi tengah di pesawat guna mengurangi penyebaran Covid-19. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Menjaga kursi tengah di pesawat tetap kosong ternyata dapat mengurangi risiko paparan COVID-19.

Menurut studi terbaru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), kebijakan tersebut dapat mengurangi risiko paparan sebesar 23 hingga 57 persen.

Studi ini dirilis ketika sejumlah maskapai penerbangan Amerika Serikat (AS) telah meninggalkan banyak kebijakan yang sempat diterapkan di era pandemi, seperti halnya mengosongkan kursi tengah.

Melansir laman Travel + Leisure, Delta Air Lines merupakan maskapai terakhir yang masih menerapkan kebijakan tersebut.

Baca juga: Pesawat Jatuh di Hutan Amazon, Pilot Bertahan Hidup 36 Hari Makan Sisa Roti

Namun, maskapai itu mengumumkan pihaknya berencana untuk berhenti mengosongkan kursi tengah di pesawatnya pada 1 Mei 2021.

Untuk mempelajari risikonya, para peneliti di CDC dan Kansas State University menggunakan virus yang berbeda, (virus bakteriofag MS2) "sebagai pengganti" untuk COVID-19.

Ilustrasi - studi ungkap bahwa mengosongkan kursi tengah di pesawat ternyata dapat mengurangi risiko paparan Covid-19.
Ilustrasi - studi ungkap bahwa mengosongkan kursi tengah di pesawat ternyata dapat mengurangi risiko paparan Covid-19. (Flickr/ Bernal Saborio)

Para peneliti membuat skenario yang berbeda, termasuk satu penumpang di baris yang sama dengan seseorang yang mengidap COVID-19, namun duduk dengan jarak dua kursi, serta kabin simulasi penuh dengan 120 kursi.

Studi tersebut tidak berfokus pada penularan, melainkan pada papran virus.

Studi juga mencakup data dari studi tahun 2017 sebagai bagian dari inisiatif penelitian pandemi influenza.

"Berdasarkan model berbasis data, penerapan physical distancing termasuk menjaga kursi tengah tetap kosong dapat mengurangi paparan SARS-CoV-2 di pesawat," tulis CDC dalam studi tersebut.

"Sejauh mana pengurangan paparan dapat menurunkan risiko penularan masih belum dipahami," tambahnya.

Badan tersebut juga melihat wabah COVID-19 pada penerbangan internasional baru-baru ini.

Total 75 persen penumpang yang terinfeksi diketahui duduk dalam dua baris bersama penumpang bergejala yang kemungkinan membawa virus.

Data tersebut membuat CDC menyimpulkan bahwa tempat duduk yang berdekatan sangat terkait dengan risiko infeksi.

CDC mengatakan dampak masker, yang diwajibkan di pesawat, tidak dipertimbangkan dalam analisis aerosol karena "masker lebih efektif dalam mengurangi paparan fomite dan tetesan daripada paparan aerosol."

Ketika ditanya tentang studi tersebut, juru bicara Airlines for America, yang mewakili beberapa maskapai besar AS, mengatakan bahwa maskapai penerbangan AS telah menerapkan berbagai lapisan tindakan.

Di antaranya adalah kewajiban masker, formulir kesehatan sebelum penerbangan, dan protokol desinfeksi untuk menjaga keamanan penumpang.

"Berbagai studi ilmiah menegaskan bahwa lapisan perlindungan secara signifikan mengurangi risiko, dan penelitian terus menunjukkan bahwa risiko penularan ke dalam pesawat sangat rendah," katanya.

Baca juga: Dilarang Merokok, Mengapa Masih Disediakan Asbak di Dalam Pesawat? Berikut Penjelasannya

Baca juga: 3 Hal Utama yang Sering Diperhatikan Pramugari saat Penumpang Naik Pesawat

Baca juga: Dua Penumpang Gugat Maskapai Setelah Terjadi Kerusakan di Pesawat

Baca juga: Tolak Pakai Masker di Pesawat, Pria ini Ditangkap untuk Kedua Kalinya karena Meninju Polisi

Baca juga: 4 Kejadian Aneh yang Buat Pesawat Mendarat Darurat, dari Bau Durian hingga Cairan Tumpah

(TribunTravel.com/Muhammad Yurokha M)

Baca selengkapnya soal Penerbangan di sini.

Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved