Breaking News:

Temuan Baru, NASA Mengonfirmasi Keberadaan Air di Bulan

NASA mengumumkan bahwa Stratospheric Observatory for Infrared Astronomy (SOFIA) mengonfirmasi keberadaan air di permukaan bulan

Flickr/ Heather Smithers
Ilustrasi permukaan bulan 

TRIBUNTRAVEL.COM - NASA mengumumkan bahwa Stratospheric Observatory for Infrared Astronomy (SOFIA) mengonfirmasi keberadaan air di permukaan bulan yang diterangi matahari untuk pertama kalinya.

SOFIA adalah pesawat jet Boeing 747SP modifikasi yang dilengkapi dengan teleskop berdiameter 106 inci, ini biasanya digunakan untuk melihat objek yang jauh seperti bintang.

Menurut rilis berita yang dibagikan oleh NASA pada hari Senin (26/10/2020), SOFIA mendeteksi molekul air di salah satu kawah terbesar di bulan yang terlihat dari Bumi, yang disebut Kawah Clavius.

Pada masa lampau, penelitian menemukan beberapa bentuk hidrogen di permukaan bulan, tetapi mereka tidak dapat menentukan apakah itu air atau hidroksil.

Baca juga: NASA dan Perusahaan Nokia Akan Pasang Jaringan 4G di Bulan

Namun, data baru menunjukkan bahwa ada setara dengan sebotol 12 ons air yang terperangkap dalam satu meter kubik tanah yang tersebar di permukaan bulan, menurut pernyataan itu.

Melansir Travel and Leisure, meskipun jumlah H2O-nya relatif kecil, temuan ini dapat berdampak besar pada pemahaman para ilmuwan tentang permukaan bulan.

“Kami memiliki indikasi bahwa H2O (air) mungkin ada di sisi Bulan yang diterangi matahari," kata Paul Hertz, direktur Divisi Astrofisika Direktorat Misi Sains di Markas Besar NASA, Washington.

"Sekarang kami tahu. itu di sana. Penemuan ini menantang pemahaman kita tentang permukaan bulan dan menimbulkan pertanyaan menarik tentang sumber daya yang relevan untuk eksplorasi ruang angkasa yang lebih mendalam," tambahnya.

Misi sebelumnya mengkonfirmasi keberadaan es dan hidrasi (baik dari hidroksil atau air), tetapi SOFIA mampu mendeteksi molekul air dengan panjang gelombang yang unik.

Temuan ini menimbulkan sejumlah pertanyaan bagi peneliti.

“Tanpa atmosfer yang tebal, air di permukaan bulan yang diterangi matahari akan hilang begitu saja ke luar angkasa, namun entah bagaimana kami melihatnya," kata Casey Honniball, penulis utama temuan tersebut.

NASA
NASA (Flickr/ Mat Hampson)

Sumber air masih belum diketahui asalnya, apakah dikirim oleh mikrometeorit yang menghantam bulan atau diciptakan oleh reaksi kimia.

Kendati demikian, ini adalah penemuan yang menarik, terutama ketika mempertimbangkan perjalanan ruang angkasa manusia di masa depan.

Proyek Artemis NASA akan mengirim wanita pertama dan beberapa astronot pria ke permukaan bulan pada tahun 2024 untuk eksplorasi yang lebih besar.

Setelah itu, NASA juga berencana mengirim astronot ke Mars.

Baca juga: Astronot NASA Ini Jelaskan Cara Mereka Buang Air Besar di Luar Angkasa

Baca juga: NASA Rekrut Pemburu Alien untuk Cari Tanda-tanda Kehidupan di Luar Angkasa

Baca juga: NASA Luncurkan Toilet Baru Senilai Rp 343 Miliar ke Stasiun Luar Angkasa

Baca juga: NASA Berencana Daratkan Wanita Pertama di Bulan pada 2024

Baca juga: 7 Barang Paling Aneh yang Tertinggal di Bagasi Pesawat, Ada Kamera NASA Hingga Kepala Manusia

(TribunTravel.com/Muhammad Yurokha M)

Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved