Breaking News:

Fakta Unik Funazushi, Sushi Tertua di Jepang yang Menggunakan Ikan Fermentasi

Funazushi merupakan sushi yang menggunakan bahan berupa ikan yang difermentasi dan dianggap sebagai sajian mewah di Jepang.

Instagram/spacemonkeygirl
Funazushi, Sushi Tertua di Jepang 

TRIBUNTRAVEL.COM - Hampir semua budaya makanan di dunia mengenal teknik fermentasi.

Teknik fermentasi yang bertujuan untuk membuat makanan lebih awet ini juga diterapkan pada satu di antara jenis sushi di Jepang.

Yakni, funazushi.

Funazushi merupakan sushi yang menggunakan bahan berupa ikan yang difermentasi dan dianggap sebagai sajian mewah di Jepang.

Funazushi berasal dari prefektur Shiga dan menggunakan sejenis ikan mas yang disebut 'buna', mengutip laman news4jax.com.

Ikan mas yang masih mentah difermentasi dengan garam selama satu tahun.

Kemudian, ikan yang digarami dan telah kering tersebut dicampur dengan nasi.

Campuran ikan dan nasi ini dibiarkan terfermentasi selama tiga tahun.

Nasinya memang diganti setiap tahun, tetapi ikannya tetap sama.

Sehingga saat akan disajikan, funazushi mengeluarkan aroma yang sangat kuat, rasanya tajam dan asam.

Funazushi dapat digunakan dalam sup, digoreng dengan adonan pelapis mirip tempura, atau disajikan dengan teh hijau menjadi ochazuke.

Funazushi punya sejarah yang cukup panjang di Jepang.

Yakni, sekitar 1.000 tahun yang lalu di mana metode pengawetan makanan yang disebut 'narezushi' datang ke Jepang dari China.

Kata 'sushi' aslinya berarti ikan yang difermentasi, dan berakar di Asia Tenggara.

Menurut sejarah sushi, sushi jenis ini pertama kali terlihat dalam kitab Jepang pada abad ke-7.

Kemudian, ikan itu diisi dengan nasi sebelum difermentasi, dan inilah yang disebut naresushi.

Naresushi menjadi bentuk sushi paling awal di Jepang.

Naresushi membutuhkan waktu beberapa bulan untuk mempersiapkannya, dan bisa dikonsumsi meski proses fermentasi belum selesai.

Inilah mengapa sajian itu disebut naresushi atau sushi nare 'mentah.'

Proses fermentasi membuat beras terasa asam, tetapi dapat dimakan dan sebagian besar terlarut.

Halaman
12
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved