Keraton Yogyakarta Tiadakan Grebeg Syawal dan Numplak Wajik

Peniadaan acara baik Grebeg Syawal maupun Numplak Wajik ini dilakukan sebagai langkah upaya pencegahan terhadap risiko penyebaran virus corona.

Instagram/michael_cahya_putra_
Ilustrasi Grebeg Syawal 

TRIBUNTRAVEL.COM - Keraton Yogyakarta mengumumkan untuk meniadakan penyelenggaraan Grebeg Syawal dan Numplak Wajik.

Diumumkan oleh Keraton Yogyakarta melalui akun resmi Instagramnya @kratonjogja, hal ini dilakukan seiring dengan kondisi tanggal darurat COVID-19.

Dengan demikian, hajad dalem Grebeg Syawal pada tahun ini (1441H) yang ditandai dengan arak-arakan gunungan ddan prajurit keraton ditiadakan.

Tidak hanya Grebeg Syawal, gelaran Numplak Wajik yang biasanya diadakan beberapa hari sebelum Grebeg Syawal juga ditiadakan.

Peniadaan acara baik Grebeg Syawal maupun Numplak Wajik ini dilakukan sebagai langkah upaya pencegahan terhadap risiko penyebaran virus corona.

Itinerary Liburan Virtual ala Ada Apa dengan Cinta 2 di Jogja dan Jawa Tengah

Maka dari itu, semua kegiatan yang mengundang kerumuman massa ditiadakan.

Grebeg Syawal merupakan acara tahunan yang ada di Yogyakarta untuk menghormati bulan puasa, Hari Raya Idul Fitri, dan malam Lailatul Qadar.

Biasanya, grebeg yang dilangsungkan pada bulan Syawal ini, keraton mengeluarkan gunungan yang paling besar, yakni gunung kakung.

Selain gunungan kakung, masih ada beberapa gunungan lain yang diarak dalam Grebeg Syawal ini, seperti gunungan lanang, gunungan wadon, gunungan darat, gunungan gepak, dan gunungan pawuhan.

Tujuh gunungan tersebut diusung oleh para abdi dalem dan dikawal prajurit Bregodo dari Alun-alun Utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menuju tiga tempat.

Lima gunungan dibawa ke Masjid Gedhe Kauman, satu dibawa ke Pura Pakualaman, dan satu lagi dibawa ke Kantor Kepatihan.

Biasanya banyak warga jogja dan wisatawan yang berkumpul di beberapa titik untuk melihad tradisi Grebeg Syawal ini.

Beberapa tempat yang jadi titik berkumpulnya warga dan wisatawan tersebut, seperti di Alun-alun Utara, Pura Pakualaman, Kantor Kepatihan, dan Masjid Gedhe Kauman.

Setelah diarak, gunungan yang berupa hasil bumi tersebut diperebutkan oleh warga masyarakat yang hadir.

Fakta Unik Kicak, Kuliner Khas Jogja yang Cuma Ada saat Bulan Puasa

Rekomendasi 5 Kuliner Malam di Jogja, Ada Mi Ayam Grabyas Red Door hingga Nasi Rames Demangan

5 Alasan Mi Ayam Bu Tumini jadi Favorit Banyak Orang hingga jadi yang Terenak di Jogja

7 Tempat Wisata di Jogja dengan Pemandangan Gunung Merapi, Udara Sejuk dan Cocok Buat Santai

Selain Gudeg, Cicipi 6 Bubur Ayam di Jogja untuk Sarapan Pagi Ini

(TribunTravel.com/GigihPrayitno)

Ikuti kami di
Penulis: Gigih Prayitno
Editor: Rizky Tyas Febriani
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved