Menelusuri Jejak Peristiwa G30S di Monumen Pancasila Sakti

Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya mungkin tak asing lagi di telinga warga Jakarta. Di sinilah beberapa Pahlawan Revolusi dibantai

Menelusuri Jejak Peristiwa G30S di Monumen Pancasila Sakti
(TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)
Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya 

TRIBUNTRAVEL.COM - Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya mungkin tak asing lagi di telinga warga Jakarta.

Di sinilah beberapa sejarah diungkapkan sedemikian rupa, untuk mengenang bagaimana gugurnya para Pahlawan Revolusi yang dibantai oleh PKI.

Dibangun di atas lahan seluas 14,6 hektare, museum ini menyajikan bagaimana kengerian PKI.

Tonton juga:

Rekomendasi 5 Tempat Wisata untuk Napak Tilas Peristiwa G30S

Menilik Kisah Ade Irma Suryani yang Jadi Korban G30S di Museum AH Nasution

Tak hanya sebagai museum, tempat ini juga dijadikan tempat wisata ziarah.

Ada beberapa lokasi yang disajikan di dalam monumen ini.

Pengunjung yang datang bisa merasakan bagaimana cerita-cerita kebangkitan PKI pada zaman dahulu.

Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya
Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya (WARTA KOTA/JOKO SUPRIYANTO)

Selangkah demi selangkah para pengunjung mencoba mengamati miniatur yang menceritakan sejarah gerakan G30S/PKI.

Di Museum Pengkhianatan PKI (Komunis), kurang lebih ada 40 diorama.

Deretan Tempat yang Jadi Saksi Bisu Peristiwa G30S, Termasuk Museum AH Nasution

4 Tempat Wisata Terbaik di Jakarta yang Bisa Dikunjungi untuk Memperingati Peristiwa G30S

Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya
Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya (WARTA KOTA/JOKO SUPRIYANTO)

Suasana pencahayaan yang redup membuat nuansa agak menyeramkan, ditambah miniatur-miniatur yang menampilkan pembantaian oleh PKI.

Para pengunjung dapat dengan mudah membaca teks yang tertera di setiap etalase diorama.

Pengunjung akan digiring dalam lorong berisi deretan etalase yang menyuguhkan diorama, mulai dari kisah munculnya bibit-bibit pergerakan PKI pada 1945, hingga peristiwa G30S yang meletus pada 1965.

Diorama diawali dengan Peristiwa Tiga Daerah usai Proklamasi Kemerdekaan 1945.

Saat itu kelompok komunis bawah tanah digambarkan sudah mulai menyusup ke organisasi massa dan pemuda, untuk melakukan pergerakan.

Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya
Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya (WARTA KOTA/JOKO SUPRIYANTO)

Selain Museum Pengkhianatan PKI (Komunis), ada pula Museum Paseban, Sumur Tua yang menjadi tempat pembuangan jenazah tujuh Pahlawan Revolusi, Rumah Penyiksaan, Pos Komando, dan Dapur Umum.

Terdapat juga relik bersejarah seperti pakaian yang dikenakan para Pahlawan Revolusi, sampai foto proses pengangkatan jenazah.

Terdapat pula ruang teater yang menyiarkan rekaman bersejarah dengan durasi kurang dari 30 menit.

Setelah hampir satu jam berkeliling, beberapa warga tampak berbisik tantang bagaimana kengerian PKI pada zaman dulu. Untuk itu, mereka pun berharap isu kemunculan PKI tidak benar.

5 Tempat yang Jadi Saksi Bisu Kekejaman G30S, Museum Sasmitaloka Tempat Jenderal A Yani Wafat

Museum Sasmitaloka Ahmad Yani, Saksi Bisu Kekejaman G30S di Rumah sang Jenderal

Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya
Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya (WARTA KOTA/JOKO SUPRIYANTO)

"Setelah melihat beberapa miniatur, tentunya kami pun juga bertanya-tanya apakah benar PKI saat ini ada, tentunya melihat semua ini ngeri juga," ujar Ridwan.

Sebelum pengunjung diajak keluar dari ruangan, sebuah tulisan terpampang di pintu keluar, 'Ancaman terhadap ideologi Pancasila adalah masalah kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Museum ini merupakan salah satu sarana untuk mengingatkan Bangsa Indonesia, bahwa komunisme merupakan bahaya laten yang harus terus menerus diwaspadai'.

Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya
Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya (WARTA KOTA/JOKO SUPRIYANTO)

Tarif untuk masuk ke monumen ini cukup murah, hanya Rp 4.000.

Tiket parkir Rp 2.000 untuk motor dan Rp 5.000 untuk mobil. (Joko Supriyanto)

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Jejak G30S/PKI di Monumen Pancasila Sakti

Ikuti kami di
Editor: Arif Setyabudi Santoso
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved