Breaking News:

Pernah Jadi Letusan Gunung Api Terdasyat, Apa Jadinya Jika Tambora Erupsi Lagi di Masa Mendatang

Sejarah mencatat kalau erupsi Tambora pada tahun 1815 menjadi satu letusan gunung berapi terdahsyat.

KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO
Kaldera Gunung Tambora, Dompu, Nusa Tenggara Barat, Minggu (22/3/2015). Gunung Tambora meletus dahsyat pada 10 April 1815 menyisakan kaldera seluas 7 kilometer dengan kedalaman 1 kilometer. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Meski kita semua tidak berharap kejadian ini akan terulang di masa depan, peneliti punya prediksi mengenai dampak yang akan terjadi jika Gunung Tambora meletus.

Sejarah mencatat kalau erupsi Tambora pada tahun 1815 menjadi satu letusan gunung berapi terdahsyat.

Dampaknya hingga belahan bumi lain dan memicu "tahun tanpa musim panas" pada tahun 1816.

Kejadian ini memicu gagal panen dan penyakit yang meluas, membuat lebih dari 100.000 kematian di seluruh dunia.

Nah, jika letusan terjadi pada tahun 2085, National Center for Atmospheric Research (NCAR) memprediksi dampaknya akan lebih dahsyat dari sebelumnya.

Suhu akan turun drastis, siklus air terganggu, serta mengurangi jumlah curah hujan yang turun secara global.

Alasan perbedaan efek yang terjadi pada tahun 1815 dan 2085 terkait dengan lautan yang diperkirakan akan menjadi lebih bertingkat karena planet ini menghangat, dan oleh karena itu kurang mampu mengatasi dampak iklim yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi.

"Kami menemukan jika lautan mempunyai peran penting dalam mengatasi, dan memperpanjang, pendinginan permukaan yang disebabkan oleh letusan 1815," kata John Fasullo, peneliti NCAR seperti dikutip dari Phys, Selasa (31/10/2017).

Saat meletus, Gunung Tambora memuntahkan sejumlah besar sulfur dioksida ke atmosfer yang kemudian berubah menjadi partikel sulfat yang disebut aerosol.

Saat aerosol mulai menghalangi sebagian panas matahari, terjadi proses pendinginan.

Di saat yang sama, lautan berfungsi sebagai penyeimbang penting untuk mengurai efek letusan.

Seiring permukaan lautan mendingin, air yang lebih dingin turun dan bercampur dengan air yang lebih hangat dan melepaskan lebih banyak panas ke atmosfer.

Namun, hal berbeda terjadi jika Tambora meletus pada tahun 2085.

Peneliti berkata jika kemampuan laut untuk membantu mengatur proses pendinginan akan berkurang.

Ini karena suhu laut semakin bertingkat, suhu di laut bagian atas tidak menembus ke kedalaman seefisien pada tahun 1815.

Dengan kata lain, air dingin akan terperangkap di permukaan laut daripada bersirkulasi ke tingkat yang lebih dalam.

Akibatnya, pendinginan terjadi 40 persen lebih lama dan lebih parah dibandingkan tahun 1815.

Bahkan, bisa berlangsung hingga beberapa tahun.

Suhu permukaan laut yang dingin akibat erupsi juga mencegah penguapan.

Ini berarti, selain penurunan suhu yang drastis, manusia juga bisa menghadapi kekeringan parah di tahun-tahun setelah letusan gunung berapi besar karena hujan tidak turun.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Tags:
Tambora
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved