Kuliner Banjar - Sayur dari Buah Langka Kalimantan Selatan, Rasanya Mirip Alpukat

Pernah mendengar sayur bernama kalangkala? Sayur ini merupakan khas Banjar dari Kalimantan Selatan.

Kuliner Banjar - Sayur dari Buah Langka Kalimantan Selatan, Rasanya Mirip Alpukat
Banjarmasin Post/Yayu Fathilal

Laporan Wartawan Banjarmasin Post, Yayu Fathilal

TRIBUNTRAVEL.COM, BANJARMASIN - Pernah mendengar sayur bernama kalangkala?

Sayur ini merupakan khas Banjar dari Kalimantan Selatan.

Isinya hanya berupa buah bernama kalangkala yang diberi cabai.

Kuahnya bening, penyedap dalam sayur ini hanya menggunakan sedikit garam.

Kalangkala adalah buah hutan dari Kalimantan yang berbentuk bulat.

Jika masih mentah kulitnya berwarna hijau pucat, sedangkan jika sudah matang kulitnya berwarna merah muda.

Daging buahnya lembut dan rasanya mirip alpukat.

Namun warna dagingnya tak hijau seperti alpukat, melainkan putih.

buah kalangkala
Banjarmasin Post/Yayu Fathilal

Buah ini musiman dan sekarang di Kalimantan Selatan sedang musimnya.

Biasanya buah ini mudah ditemui dijual di pasar-pasar tradisional.

Sepiring kecil isi belasan biji biasanya dijual Rp 5.000.

Oleh masyarakat Banjar, biasanya buah ini dijadikan sayur, disantap bersama ikan, sambal, dan nasi.

Cara membuatnya sangat mudah, yaitu hanya direndam selama beberapa lama di dalam air hangat lalu diberi garam dan penyedap rasa secukupnya.

Sayurnya yang sudah siap disantap biasanya dijual di rumah makan-rumah makan di Banjarmasin.

Di antaranya adalah di Rumah Makan Sambal Acan Raja Banjar, Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin dekat Kantor Wali Kota Banjarmasin.

“Di sini, sayur kalangkala dijual Rp 6.000 semangkuk kecil, isinya lima biji,” terang Pemiliknya, Gina, Selasa (3/1/2017).

Sayur ini tak bertahan lama jika sudah direndam.

Biasanya, jika terlalu lama direndam kulitnya akan menghitam.

“Walau begitu, dagingnya tetap bagus dan rasanya tetap nyaman. Kulitnya dan kuahnya saja yang berubah warna jadi menghitam dan kuahnya keruh,” sebutnya lagi.

Membuat sayur kalangkala ini hanya bisa direndam dengan air hangat.

“Jika dengan air biasa saja tak matang-matang dagingnya. Kalau dengan air panas, daging buahnya akan sangat lembek sehingga tak nyaman pula disantap. Kalau direndam dengan air hangat, matangnya pas,” katanya.

Rasa gurihnya sedap, sedikit asin dan akan lebih mantap lagi jika dimakan dengan sambal.

Buah Langka

Banyak generasi sekarang yang tak mengenal buah ini, apalagi sayurnya.

“Kalau pun ada, mereka biasanya enggan menyantapnya karena dianggap aneh. Sekarang ini, hanya kalangan tertentu yang menyukainya, biasanya kaum tua saja. Kalau di masa lalu, buah ini banyak disukai, khususnya di daerah Hulu Sungai sana,” tambahnya.

Hulu Sungai adalah kawasan di Kalimantan Selatan yang berada di sekitar Kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Balangan dan Tabalong.

Di kawasan ini masih banyak hutannya dan buah kalangkala tersebut masih gampang ditemui.

Biasanya, buah-buah hutan musiman yang ada di Banjarmasin berasal dari sana, atau bisa juga dari Kabupaten Banjar yang hutannya masih banyak juga.

Walau tergolong aneh bagi kalangan muda sekarang, sayur ini tetap ada saja pembelinya di rumah makan tersebut.

“Kalau turis-turis dari luar Kalimantan Selatan biasanya penasaran karena kata kalangkala sangat asing bagi mereka. Apalagi, kebanyakan orang Banjar tak mengetahui apa Bahasa Indonesianya kalangkala itu. Kalau Bahasa Banjarnya memang kalangkala. Jadi, saat dijelaskan ke mereka tentang kalangkala, mereka sangat penasaran lalu mencobanya,” bebernya.

Ikuti kami di
Editor: Sinta Agustina
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved