Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Wabah Covid-19 Melanda Basecamp Gunung Everest, Lebih dari 30 Pendaki Dievakuasi

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi puncak Gunung Everest, Himalaya

Pada tahun 2019, Gunung Everest mengalami salah satu pendakian musim semi yang paling mematikan setelah 'kemacetan lalu lintas' di gunung.

Insiden itu disebabkan oleh rekor pendaki sebanyak 381, mengakibatkan sedikitnya 11 kematian.

Baca juga: Fakta di Balik Zona Kematian Gunung Everest yang Sering Menelan Korban

Tetapi tahun lalu, setelah pandemi global yang menyebabkan penutupan Gunung Everest, gunung tersebut mengalami musim pendakian pertama dalam beberapa dekade yang tidak melibatkan 'kemacetan lalu lintas'.

Tahun ini, China tidak mengizinkan pengunjung asing untuk mendaki dari sisi Tibet karena kekhawatiran Covid-19,

Namun, mereka telah mengeluarkan izin kepada 38 orang 21 di antaranya adalah pendaki China yang disetujui untuk mendaki gunung dari lereng utara.

Turis di Tibet juga telah dilarang mengunjungi base camp gunung di sisi Tibet.

Sementara itu, pemerintah Nepal belum membatalkan pendakian musim semi, mungkin karena kebutuhannya untuk kebangkitan ekonomi dan pendapatan pariwisata di tengah pandemi.

Negara itu mengalami peningkatan satu hari terbesar dalam kasus Covid-19 pada hari Jumat (7/5/2021) dengan 9.023 kasus yang dilaporkan.

Baca juga: Ketinggian Gunung Everest Bertambah Hampir 1 Meter, Ini Sebabnya

Hingga Senin (10/5/2021), ada setidaknya 394.667 total kasus dan 3.720 kematian yang dikaitkan dengan Covid-19 di Nepal.

Di Cina, setidaknya ada 102.889 kasus dan 4.636 kematian telah dilaporkan.

Meskipun tindakan pencegahan telah diambil di puncak, Ang Tshering Sherpa, seorang ahli pendaki gunung selama puluhan tahun, mengatakan bahwa kemungkinan Covid-19 tidak akan menyebar di sana, terutama karena pendaki mengenakan pakaian pelindung yang menutupi wajah mereka dari udara dingin.

Gagasan bahwa siapa pun yang terjangkit virus korona dapat mencapai puncak Everest terbilang mustahil.

Sebab, pendaki dengan kesulitan pernapasan tidak akan dapat mencapai ketinggian, kata Ang Tshering.

Baca juga: Gunung Everest Akhirnya Memiliki Ketinggian Resmi Setelah China dan Nepal Sepakat

Baca juga: 5 Alasan Pesawat Terbang di Ketinggian Lebih dari 30 Ribu Kaki, Lebih Tinggi dari Puncak Everest

(TribunTravel.com/Mym)