Namun, dicela oleh Uni Eropa & PBB sebagai pendudukan ilegal.
Sejak saat itu, wilayah Siprus dibagi di sepanjang zona penyangga PBB.
Wilayah Famagusta pun jatuh di sisi Turki.
Begitulah jadinya, tanpa gencatan senjata resmi atau penyelesaian yang jelas antara Yunani & Turki.
Tujuan utama Turki adalah untuk mencapai penyelesaian damai dan mendirikan negara barunya di bagian utara Siprus secara resmi.
Untuk melakukan itu, Turki melihat distrik wisata yang kaya di Varosha sebagai wilayah yang tak ternilai harganya.
Dengan industri pariwisata di pulau ini yang berantakan, hotel-hotel mewah Varosha yang mewah tiba-tiba menjadi tidak berharga.
Tetapi bagi orang Siprus Yunani yang kaya yang memilikinya, bangunan tersebut masih berharga.
Oleh karenanya, Turki ingin mempertahankan Varosha & menukarkannya kembali ke Yunani dengan imbalan pengakuan.
Segera setelah invasi, tentara Turki dengan cepat memagari distrik Varosha, melarang siapa pun untuk memasukinya.
Mereka menganggap kesepakatan damai akan segera datang.
Namun, kesepakatan damai yang mereka harapkan ternyata tidak pernah datang.
Dalam beberapa dekade sejak 1974, alam-lah yang berkuasa di wilayah Varosha.
Tanaman semak berduri dan rumput telah merusak jalan dan bangunan beton.
Beberapa orang bahkan melaporkan melihat penyu bertelur di pantai yang sepi.