Bahkan, penonton pun bisa ikut kesurupan, lho.
Jika sudah begitu, biasanya sang penari yang tengah kesurupan akan meraih apa saja yang ada di hadapannya.
Entah itu rumput, kelapa, bahkan pecahan kaca.
Seolah mendapat kekuatan gaib, penari pun unjuk gigi dengan melakukan berbagai aksi berbahaya, seperti mengunyah pecahan kaca, memakan rumput, juga mengupas kelapa dengan gigi.
Penari juga menunjukkan kekebalan tubuhnya dengan cara menyayat lengan, membakar diri, atau berjalan di atas pecahan kaca.
Ajaibnya, tubuh sang penari sama sekali tak memar atau terluka setelahnya.
Untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan, dalam setiap pagelaran selalu hadir para warok atau orang yang memiliki kemampuan supranatural.
Kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam bergaris merah dengan kumis tebal.
Para warok ini akan memberikan penawar hingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih.
• 3 Destinasi Wisata Romantis di Jepang yang Cocok untuk Bulan Madu
• Aneka Snack Unik Khas Jepang yang Cocok untuk Oleh-oleh
• Bendungan Rotiklot, Daya Tarik Wisata Baru di Perbatasan Indonesia-Timor Leste
TONTON JUGA :
Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Mengenal Jathilan Alias Jarang Kepang, Tarian Tertua di Tanah Jawa