Breaking News:

Menyusul Austria, Slovakia Juga Berlakukan Lockdown Akibat Lonjakan Kasus Covid-19

Pergerakan warga akan dibatasi khusus untuk belanja kebutuhan pokok, bekerja, sekolah dan kunjungan medis.

en.wikipedia.org
Slovakia 

TRIBUNTRAVEL.COM - Pemerintah Slovakia mengikuti negara tetangganya, Austria melakukan lockdown selama dua minggu sejak Rabu, (24/11/2021).

Langkah ini dilakukan Slovakia akibat lonjakan kasus Covid-19 di Eropa.

Jumlah ketersediaan rumah sakit pun semakin menipis.

Restoran dan toko-toko barang yang tidak terlalu penting akan ditutup.

Pergerakan warga akan dibatasi khusus untuk belanja kebutuhan pokok, bekerja, sekolah dan kunjungan medis.

Dikutip TribunTravel dari laman Channel News Asia, Slovakia pada hari Selasa (23/11/2021) mencatat lebih dari 10.000 infeksi harian baru.

Jumlah ini adalah yang terbanyak untuk pertama kalinya sejak pandemi dimulai.

Sementara pasien Covid-19 rawat inap jumlahnya mencapai "titik kritis", demikian Kementerian Kesehatan Slovakia menyebutnya.

Artinya, negara saat ini membatasi perawatan lain dan mungkin meminta bantuan asing.

"Situasinya serius," kata Perdana Menteri Eduard Heger.

"Kami sampai di sini karena tindakan (yang ada) tidak diamati," lanjutnya.

Sesuai dengan jumlah populasinya, Slovakia mengalami peningkatan infeksi Covid-19 tercepat di dunia.

Menurut Our World in Data, Slovakia berada di urutan atas daftar negara-negara Eropa yang mengalami lonjakan kasus Covid-19.

Republik Ceko dan Hongaria yang bertetangga sama-sama mencatat rekor kenaikan kasus harian pada Selasa (23/11/2021).

Sementara Austria juga menerapkan lockdown total minggu ini.

Aturan lockdown di Austria termasuk di antaranya menutup toko, bar, dan kafe yang tidak penting selama 10 hari.

Keputusan Slovakia untuk kembali melakukan lockdown terjadi setelah pemerintah memberlakukan pembatasan baru pada orang yang tidak divaksinasi minggu ini dalam upaya untuk mendorong inokulasi.

Sebelumnya, Slovakia secara bertahap memperketat pembatasan di daerah-daerah yang terkena dampak parah akibat lonjakan kasus Covid-19 selama sebulan terakhir.

Heger mengatakan, tindakan ini akan dinilai setelah 10 hari dan pelonggaran hanya diberikan untuk yang warga yang telah divaksinasi.

Kurang dari 50 persen orang di negara berpenduduk 5,5 juta ini telah divaksinasi lengkap.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved