Breaking News:

Cerita Dua Pria Selamat Setelah Sebulan Terdampar di Laut, Merasa Tenang Tak Dengar Kabar Soal Covid

Ketika kebanyakan orang mengatakan terdampar di laut adalah hal menakutkan, tidak demikian bagi kedua pria ini.

Dimitris Vetsikas /Pixabay
Gelombang air laut 

TRIBUNTRAVEL.COM - Dua pria dari Kepulauan Solomon terdampar di laut selama hampir sebulan.

Anehnya, mereka justru mengaku itu sebagai momen "istirahat dari dunia luar yang menyenangkan".

Ketika kebanyakan orang mengatakan terdampar di laut adalah hal menakutkan, tidak demikian bagi kedua pria ini.

Pada tanggal 3 September, Livae Nanjikan dan Junior Qoloni meninggalkan Pulau Mono di provinsi Western, Kepulauan Solomon dengan perahu motor kecil berkecepatan 60 hp untuk berlayar ke Noro.

"Kami pernah melakukan perjalanan sebelumnya dan seharusnya tidak ada masalah," kata Nanjikan kepada Kantor Penyiaran Kepulauan Solomon.

Namun, masalah rupanya terjadi ketika perangkat GPS mereka kehabisan baterai.

Setelah cuaca buruk menghalangi, dua pria itu akhirnya keluar jalur dan tersesat di laut.

"Kami mengalami cuaca sangat buruk disertai hujan lebat, awan gelap tebal dan angin kencang selama perjalanan sekitar dua jam," kata Nanjikan.

Ia juga mengaku sudah tidak dapat melihat garis pantai, sehingga kehilangan arah ke mana harus pergi.

Dikutip TribunTravel dari laman UNILAD, Senin (11/10/2021), "GPS mati adalah kondisi yang lebih menakutkan dari sekedar cuaca buruk," lanjut Nanjikan.

"Kami tidak tahu ke mana akan pergi, jadi kami memutuskan mematikan mesin dan menunggu untuk menghemat bahan bakar," ujarnya dalam interview oleh The Independent.

Beruntung mereka membawa bekal jeruk untuk perjalanan.

Sembilan hari kemudian, mereka terpasa bertahan hidup hanya dengan air hujan, kelapa dan iman kepada Tuhan.

"Kami berdoa siang dan malam," kata Nanjikan.

Kedua pria itu menceritakan cara mereka bertahan hidup menggunakan kanvas untuk menadahi air hujan.

Saat mencapai hari ke 27, mereka akhirnya melihat sebuah pulau di kejauhan.

Namun, mereka menyadari bahwa saat itu berada di Papua Nugini.

"Kami awalnya tidak tahu di mana kami berada saat itu, dan tidak menyangka rupanya sudah ada di negara lain," kata Nanjikan.

Dua hari kemudian mereka berhasil mencapai pulai dengan hampir tanpa bahan bakar.

"Saat itulah kami mulai berteriak dan terus melambaikan tangan kepada nelayan," lanjutnya.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved