Breaking News:

Hotel dan Restoran di Bantul Terdampak PPKM Darurat, Omzet Anjlok dan Okupansi Menurun Drastis

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali berdampak terhadap pelaku wisata.

Tribun Jogja/Hasan Sakri
Pengunjung menikmati dan berswafoto di kebun bunga matahari yang tengah mekar di kawasan pantai Samas, Tegalsari Tegalrejo, Srigading, Sanden, Bantul, Senin (2/10/2017). 

TRIBUNTRAVEL.COM - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali berdampak terhadap pelaku wisata.

Terutama restoran dan hotel di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Situasi sulit dan aturan yang ketat, membuat omzet pendapatan restoran anjlok bahkan okupansi keterisian kamar hotel juga sangat rendah.

Sementara, pengusaha dituntut berusaha menghidupi karyawan dan mengeluarkan biaya operasional yang tidak murah. 

"Hotel dan resto selama PPKM darurat ini jelas sangat terpuruk. Ibaratnya, semua kegiatan mati suri," kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang, PHRI Bantul Nurman Asmuni, kepada Tribun Jogja,  Sabtu (17/7/2021). 

PHRI Bantul memiliki 75 anggota, dengan anggota aktif sekitar 45 pengusaha yang bergerak di bidang usaha resto dan hotel.

Ilustrasi kamar hotel
Ilustrasi kamar hotel (booking.com)

Menurut Nurman, selama PPKM darurat kondisinya sangat terpukul. Pengusaha kelimpungan. Sebab okupansi (keterisian) kamar hotel hanya 0 - 5 persen saja. 

Sementara, restoran yang dijadikan wisata seperti Numani Resto di jalan Parangtritis, yang ia kelola pendapatannya nihil.

Baca juga: 3 Kuliner Mi Khas Bantul Yogyakarta yang Wajib Dicoba Para Penggemar Mi

Selama PPKM darurat, ia mengaku mencoba bertahan membuka restoran dengan menerapkan protokol kesehatan ketat dan sesuai aturan jam operasional.

Namun tidak ada yang datang karena sejumlah ruas jalan disekat dan objek wisata juga ditutup. 

Halaman
123
Ikuti kami di
Editor: Sinta Agustina
Sumber: Tribun Jogja
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved