Breaking News:

Mengenal Tradisi Syawalan di Pekalongan, Ada Lupis Raksasa hingga Balon Udara

Syawalan merupakan tradisi masyarakat Kota Pekalongan khususnya masyarakat Daerah Krapyak di bagian utara Kota Pekalongan

Kompas.com/Silvita Agmasari
Ilustrasi balon udara 

TRIBUNTRAVEL.COM - Syawalan menjadi tradisi masyarakat Pekalongan, khususnya masyarakat di Daerah Krapyak di bagian utara Kota Pekalongan.

Tradisi syawalan biasanya dilaksanakan pada setiap hari ketujuh (8 Syawal) sesudah Hari Raya Idul Fitri.

Namun, pendemi Corona selama dua tahun ini membuat perayaan kue lopis raksasa ditiadakan.

Uniknya, dalam pelaksanaan tradisi ini adalah dibuatnya Lupis Raksasa yang ukurannya mencapai tinggi 2 meter diameter 1,5 meter dan beratnya bisa mencapai 1.000 Kg lebih atau 1 kuintal.

Setelah acara do’a bersama, Lupis Raksasa kemudian dipotong oleh Walikota Pekalongan dan dibagi-bagikan kepada para pengunjung.

Baca juga: 6 Tradisi Lebaran Unik di Berbagai Daerah di Indonesia, Ada Grebeg Syawal di Yogyakarta

Para pengunjung biasanya berebut untuk mendapatkan Lupis tersebut yang maksudnya untuk mendapat berkah.

Pembuatan Lupis dimaksudkan untuk mempererat tali silahturahmi antar masyarakat Krapyak dan dengan masyarakat daerah sekitarnya, hal ini diidentikkan dengan sifat Lupis yang lengket.

Asal mula tradisi syawalan ini adalah sebagai berikut :

Pada tanggal 8 Syawal masyarakat Krapyak berhari raya kembali setelah berpuasa 6 hari, dalam kesempatan ini, mereka membuat acara ‘open house’ menerima para tamu baik dari luar desa dan luar kota.

Hal ini diketahui oleh masyarakat diluar krapyak, sehingga merekapun tidak mengadakan kunjungan silaturahmi pada hari-hari antara tanggal 2 hingga 7 dalam bulan Syawal, melainkan berbondong-bondong berkunjung pada tanggal 8 Syawal.

Baca juga: 5 Tradisi Unik Sambut Lebaran di Pulau Jawa, Ada Grebeg Syawal hingga Pawai Pegon

Bahkan meningkat terus dari masa ke masa sehingga terjadilah tradisi Syawalan seperti sekarang ini.

Tradisi Syawalan yang rutin dilakukan oleh masyarakat Kota Pekalongan ini sudah dimulai sejak 130-an tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1855 M.

Masyarakat Krapyak juga biasanya menyediakan makanan ringan dan minuman secara gratis kepada para pengunjung.

Masyarakat juga biasanya menggelar kegiatan hiburan, pentas seni dan lomba-lomba serta menghias kampung untuk memeriahkan tradisi ini.

Baca juga: Tradisi Lebaran Unik di Indonesia, Ada Perang Topat di Lombok hingga Ngejot di Bali

Selain Lupis raksasa, hari ini langit Pekalongan akan di penuhi balon-balon udara berukuran besar, warna warni, bermacam desain, semarak karena beberapa balon juga disertai petasan, meriah, begitulah Pekalongan dengan segala budaya dan kearifan lokalnya.

Pagi hari setelah menunaikan sholat subuh, sebagian masyarakat melepas balon plastik berukuran raksasa ke udara.

Namun belakangan kegiatan tersebut dilarang oleh pemerintah dan aparat pemantau lalu lintas udara karena dikhawatirkan apabila balon udara tersebut terbang cukup tinggi dapat mengganggu dan membahayakan penerbangan pesawat serta bahaya api yang bisa membakar bangunan apabila balon tersebut jatuh ke atap rumah dengan api yang masi menyala.

Baca juga: 4 Tradisi Unik Lebaran di Sumatera Utara, Ada Mangalomang hingga Ziarah

Baca juga: Mengenal Tradisi Lebaran Ketupat, Tradisi Lebarannya Masyarakat Jawa yang Penuh Makna

(TribunTravel.com/ Septi Nandiastuti)

Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved