Sepinya Makam Ade Irma Suryani, Putri AH Nasution yang Gugur dalam Peristiwa G30S

Sepi dan lengangnya pekuburan Ade Irma dikarenakan lokasi makam yang jauh dari pandangan serta tidak adanya papan informasi tentang makam itu.

Sepinya Makam Ade Irma Suryani, Putri AH Nasution yang Gugur dalam Peristiwa G30S
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Diorama Jendral Besar AH Nasution di Museum Jendral Besar A H Nasution Jalan Teuku Umar no 40, Menteng, Jakarta Pusat. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Tidak ada lagi sosok anak-anak yang mengunjungi makam ataupun para ibu yang mengenang kisah tragis gadis kecil yang tewas dalam Peristiwa G30S PKI itu, saat ini.

Sepinya makam putri bungsu dari Jenderal Besar, Abdul Harris Nasution itu terlihat pada Kamis (19/9/2019) siang.

Makam terbuka tanpa teduhan itu terlihat kering dan berdebu, hanya batu kerikil dan pecahan kendi menghiasi bagian atas makam sang pahlawan kecil.

Begitu juga dengan sebuah Tugu Monumen Ade Irma Suryani Nasution yang tinggi menjulang di hadapan makam.

Sejumlah foto Ade Irma semasa kecil hingga rangkaian foto prosesi pemakaman yang dihadiri langsung oleh sang ayah itu, kini, terlihat usang.

Beberapa lembar foto yang menjadi saksi sejarah kematian Ade Irma pun terlihat terlepas hingga sobek.

Foto Ade Irma Suryani di Museum DR. A.H Nasution, Jakarta, Selasa (26/9/2017).
Foto Ade Irma Suryani di Museum DR. A.H Nasution, Jakarta, Selasa (26/9/2017). (KOMPAS.COM/Wienda Putri Novianty)

Padahal foto yang ditempel pada sekeliling monumen itu menjadi kenangan atas kematian Ade Irma yang gugur kala menjadi tameng ayahnya.

Sepi dan lengangnya pekuburan Ade Irma dikarenakan lokasi makam yang jauh dari pandangan serta tidak adanya papan informasi tentang makam di Jalan Nipah XII yang merupakan muka makam.

Selain itu, terkunci rapatnya gerbang utama menuju makam membuat sosok gadis kecil itu kian terlupakan.

Gembok dan rantai yang melingkar di gerbang utama makam pun membuat pengunjung harus berjalan jauh memasuki kompleks Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, akses masuk menuju makam.

Sementara, seng yang menutup seluruh sisi selatan Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, mulai dari proyek pembangunan Masjid Kantor Wali Kota hingga Pos Pemadam Kebakaran menutup makam Ade Irma Suryani Nasution.

Bagi pengunjung yang ingin mengunjungi makam Ade Irma, mereka harus berjalan kaki melewati tempat sampah dan menyusuri jalan setapak di sepanjang barak Satpol PP Jakarta Selatan.

Berdampingan dengan puing serta sejumlah material proyek pembangunan masjid, makam Ade Irma terlihat menyendiri.

Mengenang Peristiwa G30S, Ini Harga Tiket Masuk dan Cara Menuju Monumen Pancasila Sakti

Suasana tersebut sangat kontras dengan ramainya suasana saung dan barak Satpol PP yang ramai anggota Satpol PP ataupun pegawai Kantor Wali Kota Jakarta Selatan yang tengah beristirahat.

"Karena ketutup, jadi, orang nggak banyak tahu, makanya sepi sekarang ini. Sayang banget, padahal Ade Irma kan bisa menjadi contoh untuk anak-anak, kisahnya bisa jadi gambaran buat anak-anak untuk mengenang pahlawan," ungkap Ari (55) warga Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Kamis (19/9/2019).

Makam Ade Irma Suryani Nasution di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Kamis (19/9/2019).
Makam Ade Irma Suryani Nasution di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Kamis (19/9/2019). (Warta Kota/Dwi Rizki)

Anggota Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kota Jakarta Selatan itu berharap agar Pemerintah Kotamadya Jakarta Selatan dapat membuka akses masuk bagi pengunjung.

Sehingga, masyarakat dapat dengan mudah mengakses makam.

"Kalau bisa aksesnya dibuka, karena sayang banget pager ditutup sekarang ini," jelasnya.

Seperti diketahui, Ade Irma Suryani Nasution gugur dalam penyergapan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tanggal 6 Oktober 1965 silam.

Mengenang Peristiwa G30S di Museum AH Nasution, Ada Barang Peninggalan Ade Irma Suryani

Putri bungsu Jenderal Besar Abdul Harris Nasution itu tewas ketika menjadi tameng untuk ayahnya.

Dalam peristiwa tersebut, turut wafat Ajudan sang ayah, Kapten Pierre Andreas Tendean yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.

Sedangkan Ade Irma Suryani Nasution dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Blok P Prapanca yang disulap menjadi Kantor Wali Kota Jakarta Selatan pada 1998.

Perubahan status TPU tersebut mengubah wajah TPU yang semula dipenuhi kuburan umum masyarakat menjadi perkantoran bertingkat.

Walau begitu, makam Ade Irma Suryani yang berada di sisi Jalan Nipah XII tidak dibongkar dan justru dibangun Tugu monumen perjuangan.

Mengenang Kisah Ade

Dialog terakhir di antara ibu kandung, anak, dan bapaknya yang diburu komplotan yang bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) itu demikian tragis, menyayat hati, dan mengiris hati.

Korban masih berumur 5 tahun ketika sekomplotan orang bersenjata menyerbu rumahnya.

Diorama Jendral Besar AH Nasution di Museum Jendral Besar AH Nasution Jalan Teuku Umar no 40, Menteng, Jakarta Pusat.
Diorama Jendral Besar AH Nasution di Museum Jendral Besar AH Nasution Jalan Teuku Umar no 40, Menteng, Jakarta Pusat. (Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha)

Ade Irma Suryani Nasution lahir 19 Februari 1960, ia adalah putri bungsu Jenderal Besar Abdul Harris Nasution.

Ade masih tertidur tenang saat kedua orangtuanya panik saat menghadapi sekelompok pasukan bersenjata pada peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Peristiwa itu dikenal sebagai peristiwa G30S PKI yang memang sangat berdarah.

Seperti dikutip dari Topcareerid, kisah Ade Irma Suryani memang sangat mengharukan.

Ia sempat terbangun dari tidur lelapnya dan ketakutan karena mendengar suara gaduh.

Berondongan peluru tajam telah ditembakkan oleh sepasukan tentara di depan kamar tidur AH Nasution.

Empat di antaranya mengenai Ade, yang saat itu digendong oleh Mardiah, adik AH Nasution.

Mardiah pun menyerahkan Ade kepada istri AH Nasution, Yohana.

5 Tempat Ini Jadi Saksi Bisu Peristiwa G30S, dari Monumen Pancasila Sakti hingga Monumen Kresek

Ibunya sudah menggendong Ade yang berlumuran darah sambil menatap suaminya, yang tengah melewati tembok ke Kedutaan Iran waktu itu.

“Pak, Ade kena,” ucap Yohana memberitahukan bahwa anaknya terkena tembakan.

“Papaaa… Ade salah apa? Kenapa Ade ditembak?” kata Ade.

Pengunjung melihat diorama penyerbuan pasukan Tjakrabirawa di Museum AH Nasution, di Jakarta, Sabtu (30/9/2017). Museum yang dibuka untuk umum secara cuma-cuma tersebut diserbu ratusan pengunjung yang ingin belajar sejarah bertepatan dengan Gerakan 30 September 1965.
Pengunjung melihat diorama penyerbuan pasukan Tjakrabirawa di Museum AH Nasution, di Jakarta, Sabtu (30/9/2017). Museum yang dibuka untuk umum secara cuma-cuma tersebut diserbu ratusan pengunjung yang ingin belajar sejarah bertepatan dengan Gerakan 30 September 1965. (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

Kalimat tersebut diucapkan Ade ketika dia dalam gendongan ibunya saat tertembak.

Saat itu, AH Nasution menoleh ke arah anaknya yang sudah lemah, batinnya bergejolak melihat anak bungsunya yang berlumuran darah.

Dia ingin turun dan menghadapi pasukan itu, namun istrinya tetap mencegah dan memintanya menyelamatkan diri.

Petikan dialog ini bikin terenyuh.

“Jangan hiraukan kami, Pak. Selamatkan dirimu, kamulah yang diincar oleh mereka. Saya bersama Ade, selamatkan dirimu, Pak,” kata Yohana.

“Ade, masih hidup?” tanya Yohana yang menggendong Ade dalam pelukannya.

“Hidup, Mama..” jawabnya.

“Ade hidup terus?” sekali lagi Yohana bertanya.

“Hidup terus, Mama,” kata Ade.

Museum Sasmitaloka Ahmad Yani, Saksi Bisu Tragedi G30S yang Menewaskan Jenderal Ahmad Yani

“Ade masih kuat?” Yohana khawatir pada putrinya yang sudah mulai melemahkan pelukan ke lehernya itu.

“Masih, Ma..” jawab Ade sekali lagi.

Kondisi Ade saat itu sangat lemah, namun masih sadar saat dibawa ke rumah sakit Gatot Subroto.

Setibanya di rumah sakit, Ade masih sadar dan mendapat pertolongan dengan cepat.

Dokter menyarankan, Ade harus dioperasi secepatnya.

LIHAT JUGA:

Pada 6 Oktober 1965 pukul 02.00, Ade Irma Suryani meninggal dunia.

Ade yang berumur 5 tahun tertembak ketika berusaha menjadi tameng ayahnya.

Ade Irma dimakamkan keesokan harinya pada 7 Oktober 1965.

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Makam Ade Irma Suryani Nasution yang Tewas Ditembak G30S PKI Terkunci Rapat Seperti Kian Terlupakan.

Ikuti kami di
Editor: Sinta Agustina
Sumber: Warta Kota
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved