3 Desa Adat Tanpa Listrik, Salah Satunya Tempat Tinggal Suku Baduy

Desa adat yang ditinggali Suku Baduy dan sejumlah desa adat lainnya hingga kini masih ada yang tidak menggunakan listrik.

3 Desa Adat Tanpa Listrik, Salah Satunya Tempat Tinggal Suku Baduy
Lucky Pransiska/Kompas.com
Suasana desa adat tempat tinggal Suku Baduy di Lebak, Banten. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Traveler yang ingin liburan akhir pekan menikmati suasana tradisional, bisa berkunjung ke desa adat di berbagai daerah di Indonesia.

Desa-desa adat tersebut ada pula yang masih tidak dialiri listrik.

Hal ini karena nilai-nilai yang mereka usung.

Pilihan sikap ini dilakukan untuk menjaga tradisi.

Keunikan ini pula yang membuat banyak wisatawan menjadikan lokasi desa-desa berikut sebagai tempat untuk menyepi dan lari dari hiruk pikuk perkotaan.

Salah satunya adalah desa adat yang menjadi tempat bermukim Suku Baduy di Banten.

Terik siang memayungi perkampungan Baduy Luar
Terik siang memayungi perkampungan Baduy Luar (KOMPAS.COM / VITORIO MANTALEAN)

Selain itu ada lagi sejumlah desa adat lainnya yang juga tidak dialiri listrik.

Berikut ini beberapa desa adat di Indonesia yang tidak menggunakan listrik:

1. Desa Adat Baduy

Desa adat yang menjadi tempat tinggal Suku Baduy adalah Desa Kanekes.

Lokasi desa adat di mana Suku Baduy bermukim ini ada di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Suku Baduy sudah lama hidup tanpa barang-barang elektronik dan juga listrik.

Keunikan lain dari Suku Baduy adalah di tempat mereka tidak terdapat apotek, namun di wilayahnya kaya akan tanaman-tanaman obat.

Bangunan rumah Suku Baduy juga berdiri kokoh tanpa semen.

Fungsi semen dan batu bata digantikan oleh kayu-kayu yang digunakan untuk menopang rumah Suku Baduy.

Sedangkan dindingnya berupa anyaman bambu.

Desa Suku Baduy ini terbagi menjadi desa Baduy Dalam dan desa Baduy Luar.

Agar bisa sampai ke kampung-kampung yang ditempati Suku Baduy terutama Baduy Dalam, maka wisatawan harus menempuh jalan setapak yang bisa dilalui dengan berjalan kaki.

Saat berada di Baduy Dalam, beberapa aturan yang harus ditaati adalah wisatawan tidak boleh mengambil foto ataupun video.

2. Kampung Naga

Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat mungkin masih terlihat modern dibandingkan dengan desa adat yang ditinggali Suku Baduy.

Namun, masyarakat di Kampung Naga masih sama-sama menjaga beberapa aturan leluhur yang ada.

Salah satunya, di Kampung Naga masyarakat tidak mau menerima aliran listrik masuk ke kampungnya, serta menggunakan gas LPG untuk memasak.

Peraturan adat mengatur penggunaan bahan bangunan dari kayu atau bambu, atap dari daun nipah atau ijuk dan tak boleh ada perabotan seperti kursi.

Mereka percaya, leluhur mereka melarang penggunaan listrik lantaran di tempat tersebut bangunan didominasi oleh kayu sehingga ditakutkan akan terjadi kebakaran.

Peraturan lainnya di Kampung Naga adalah larangan adanya musik dari luar dan tempat keramat yang tak boleh dimasuki atau dipotret.

Tonton juga:

3. Desa Adat Ammatoa

Desa Adat Ammatoa berada di Desa Tana Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Kawasan Desa Adat Ammatoa sebagian besar merupakan kawasan hutan.

Nama Ammatoa adalah sebutan bagi kepala adat Suku Kajang.

Rumah-rumah penduduk di Desa Adat Ammatoa berbentuk panggung memanjang yang terbuat dari kayu.

Rata-rata mereka hidup dengan memiliki hewan peliharaan.

Kehidupan masyarakat Desa Adat Ammatoa bisa dibilang tak tersentuh oleh modernisasi.

5 Kuliner Khas Suku Baduy yang Unik nan Lezat

8 Fakta Unik Suku Baduy Dalam, Mulai Perjodohan hingga Warna Pakaian

Cara Menuju Desa Adat Baduy dari Jakarta

6 Tips Liburan Akhir Pekan ke Desa Baduy

Hidup Sederhana di Pedalaman Banten, Suku Baduy Tolak Bantuan Dana Desa Senilai Rp 2,5 Miliar

Serasi dengan Alam, Ini 7 Tradisi Suku Baduy yang Perlu Traveler Tahu

Di Desa Adat Ammatoa hampir tak ada barang elektronik, telepon seluler serta listrik.

Bahkan, mobil dan motor pun tak dapat masuk ke permukiman masyarakat desa yang akses jalannya masih didominasi bebatuan.

Keunikan lain di Desa Adat Ammatoa, anak-anak SD ini menggunakan baju putih dan bawahan hitam sebagai baju seragamnya.

Warna hitam adalah warna khas dari masyarakat ini.

Hitam, bagi mereka merupakan filosofi hidup.

Dari gelapnya rahim di kandungan ibu kembali ke gelapnya liang kubur saat meninggal.

Warna hitam pula yang menjadi pakaian warga desa setiap harinya.

Mulai dari sarung, baju hingga penutup kepala.

Cara hidup Ammatoa diatur oleh Pasang.

Pasang merupakan semacam petuah yang tidak tertulis yang disampaikan secara lisan kepada leluhur.

Masyarakat Suku Kajang, meyakini tempat mereka tinggal yakni Tana Towa adalah tanah tertua yang ada di dunia sebelum adanya kehidupan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul 3 Kampung Adat Ini Sudah Lama Hidup Tanpa Listrik.

Ikuti kami di
Editor: Kurnia Yustiana
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved