Breaking News:

Sambut Malam Satu Suro, Ini Rute dan Jadwal Lampah Budaya Mubeng Beteng Keraton Jogja

Berikut informasi lengkap rute dan jadwal Lampah Budaya Mubeng Beteng Keraton Jogja yang dilakukan untuk memperingati malam 1 Suro.

instagram/kratonjogja
Lampah Budaya Mubeng Beteng Kraton Jogja Malam 1 Suro Tahun Wawu 1953. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Memperingati Tahun Baru Jawa, 1 Suro Tahun Wawu 1953, Keraton Jogja menggelar Lampah Budaya Mubeng Beteng.

Mubeng Beteng sendiri merupakan lampah budaya yang digunakan sebagai sarana masyarakat untuk melakukan introspeksi atas apa yang terjadi di tahun sebelumnya, sembari memohon kepada Yang Maha Kuasa agar tahun yang akan datang lebih baik dari tahun kemarin.

Tradisi Mubeng Beteng diprakarsai oleh Sultan Agung, Raja Mataram Islam pertama, dikutip TribunTravel dari laman Tribun Jogja, Sabtu (31/8/2019).

Sultan Agung juga menjadi sosok yang mencetuskan sistem penanggalan Jawa tersebut.

Dulunya ritual ini dilakukan oleh para prajurit Keraton.

Dikaitkan dengan Kisah KKN Desa Penari, Ini Potret Rowo Bayu Banyuwangi

Dan tidak sekedar menjadi tradisi, kegiatan Mubeng Beteng juga difungsikan untuk mengamankan lingkungan Keraton Jogja, karena saat itu belum ada beteng yang mengitari Keraton.

Sebagai tradisi, Mubeng Beteng tidak mengalami perubahan sedikitpun sejak pertama kali dilakukan.

Semuanya masih sama, di mana ritual tersebut dilakukan dengan cara mengelilingi Keraton Jogja mulai dari sisi kiri atau barat Keraton.

Acara Lampah Budaya Mubeng Beteng ini rencananya akan digelar hari ini, Sabtu (31/8/2019) mulai pukul 20.00 WIB.

Acara Lampah Budaya Mubeng Beteng diawali dengan pembacaan macapat di Bangsal Pancaniti Keraton Jogja, dilansir TribunTravel dari akun Instagram @kratonjogja, Sabtu (31/8/2019).

Kemudian dilanjutkan dengan acara Tapa Bisu yang diprakarsai oleh para Abdi Dalem mulai pukul 23.00 WIB.

2 dari 4 halaman

Tonton juga: 

Jadwal dan Rute Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Solo, Berlangsung di Liburan Akhir Pekan

Mengenal Rowo Bayu Banyuwangi yang Namanya Disebut Dalam KKN Desa Penari

Tapa bisu ini dilakukan selama mengelilingi Keraton Jogja, di mana tidak boleh berbicara atau bersuara, tidak makan, minum, atau merokok.

Jarak yang ditempuh pun lumayan jauh yakni kurang lebih lima kilometer.

Bagi traveler yang ingin menyaksikan Lampah Budaya Mubeng Beteng Keraton Jogja bisa menyimak rute kirab berikut.

Dilansir TribunTravel dari akun Twitter @kratonjogja, Sabtu (31/8/2019), rute yang ditempuh mulai dari Kamandhungan Lor, Ngabean, Pojok, Beteng Kulon, Plengkung Gading, Pojok Beteng Wetan, Jalan Ibu Ruswo, Alun-alun Utara lalu kembali lagi ke Kamandhungan Lor.

Kirab Pusaka di Solo

Selain Keraton Jogja, Keraton Solo juga memiliki tradisi menyambut malam 1 Suro yakni Kirab Pusaka.

Kirab Pusaka merupakan prosesi tahunan yang diselenggarakan Keraton Solo dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam.

Kirab Pusaka Malam 1 Suro ini akan berlangsung pada Sabtu Pon Malam Minggu Wage mulai pukul 19.00 WIB.

Rencananya Kirab Pusaka Malam 1 Suro akan dimulai dari Kori Kamandungan Keraton Solo menuju Supit Urang.

3 dari 4 halaman

Kemudian dilanjutkan ke Jalan Pakoe Boewono.

Setelah itu kirab dilanjutkan menuju Gapura Gladag ke utara menuju Jalan Jenderal Sudirman, belok kiri ke timur melalui Jalan Mayor Kusmanto.

Kemudian kirab berlanjut belok ke selatan melalui Jalan Kapten Mulyadi dan belok ke barat melalui Jalan Veteran.

Dan dilanjutkan belok ke utara melalui Jalan Yos Sudarso, setelah itu belok ke timur melalui Jalan Brigjend Slamet Riyadi.

Kemudian belok ke selatan melalui Jalan Pakoe Boewono dan terakhir kembali ke Keraton Surakarta Hadiningrat.

Rencananya kawasan Bundaran Gladag, Solo akan dilalui oleh peserta Kirab Pusaka Malam 1 Suro Wawu 1953, dilansir TribunTravel dari TribunSolo, Sabtu (31/8/2019).

Pengageng Parentah Karaton Surakarta Hadiningrat, KGPH Dipokusumopun menanggapi, pihak Keraton Solo sudah melakukan koordinasi dengan dinas-dinas terkait.

Beberapa dinas yang dikoordinasi ini seperti Dinas Perhubungan dan Kepolisian.

Sehingga nantinya jalur tengah yang berada di kawasan Bundaran Gladag yang memiliki lebar 11 meter tersebut akan tetap dilalui untuk Kirab Malam 1 Suro Wawu 1953.

5 Tempat Wisata di Jogja Dekat Malioboro, Bisa Dikunjungi dalam Sehari saat Liburan Akhir Pekan

Sebelumnya Dipokusumo mengungkapkan pihak penyelenggara Kirab Pusaka Malam 1 Suro Wawu 1953 menghadapi masalah.

4 dari 4 halaman

Hal ini karena tepian jalur tengah kawasan Bundaran Gladag sudah dibangun pondasi yang terbuat dari besi dan ada yang sudah dilubangi sedalam 40 meter.

Namun masalah tersebut sudah diselesaikan yakni sekitar jalur tengah kawasan Gladag akan tetap disterilkan untuk meminimalisir risiko.

"Sekitar jam sembilan malam, pondasi-pondasi besi yang ada di tepian jalur tengah Kawasan Gladag sudah mulai dipindahkan untuk dijadikan sebagai batas penonton," imbuh Dipokusumo.

Rekayasa Lalu Lintas Jakarta Muharram Festival 2019, Ini Ruas Jalan yang Akan Ditutup

Dikaitkan dengan Kisah KKN Desa Penari, Ini Potret Rowo Bayu Banyuwangi

Rowo Bayu, Tempat Wisata di Banyuwangi yang Dikaitkan Kisah Viral KKN Desa Penari

Catat! Ini Titik Parkir dan Jadwal Jakarta Muharram Festival

(TribunTravel.com/ Ratna Widyawati)

Selanjutnya
Sumber: Tribun Travel
Tags:
Mubeng Beteng Keraton JogjaMalam satu suroTradisi unik malam satu suroAlun-alun Utara Yogyakeraton jogjakarta
BeritaTerkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved