Liburan ke Sumba

Hongi, Tradisi Cium Hidung Masyarakat Sumba yang Sarat Makna

Masyarakat Sumba memiliki tradisi cium hidung yang disebut 'Hongi', tradisi ini juga mengandung makna yang mendalam bagi masyarakat Sumba.

Hongi, Tradisi Cium Hidung Masyarakat Sumba yang Sarat Makna
instagram/getawaymagz
Tradisi cium hidung (Hongi) yang ada di masyarakat Sumba Nusa Tenggara Timur (NTT). 

TRIBUNTRAVEL.COM - Masyarakat Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki sebuah tradisi bernama Hongi.

Hongi merupaka tradisi cium hidung yang masih ada hingga sekarang.

Cium hidung memiliki sebutan beragam dalam bahasa ibu orang Sumba di antaranya 'Udoko' dalam bahasa ibu orang Kodi.

'Udokoyo' memiliki arti cium dia.

'Paudokongo' memiliki arti berciuman.

'Hengeddo' dalam bahasa Sabu.

Tonton juga: 

Dan 'Hongi' dalam bahasa Maori.

Tradisi ini mungkin kelihatan tabu bagi orang yang baru pertama kali mengunjungi Sumba.

10 Rekomendasi Kuliner Khas Sumba, Cicipi Bokosawu Nyale yang Terbuat dari Cacing Laut

Setelah Kunjungi Milan, Maia Estianty Lanjut Liburan ke Roma Naik Jet Pribadi

5 Tempat Makan dengan Menu Aneka Ayam di Padang

Namun tradisi ini sudah turun temurun dilakukan, sehingga siapa pun tamu yang datang, harus saling mencium hidung terlebih dahulu, sebelum dipersilakan untuk duduk.

Pada acara Penutupan Parade 1001 kuda dan Pembukaan Festival Tenun ikat di kabupaten Sumba Barat Daya 13 Juli 2017 lalu, Presiden Jokowi pun juga melakukan tradisi cium hidung ini.

Sejarah Cium Hidung

Hongi yang merupakan Tradisi Cium Hidung orang Sumba ini konon dipengaruhi oleh tradisi dan kebudayaan orang Sabu.

Sejak abad ke-18, orang Sabu masuk ke Sumba tepatnya di wilayah Sumba Timur.

Mereka dibawa oleh para misionaris Belanda yang beragama Protestan untuk membantu penyebaran ajaran agama Kristen Protestan di wilayah Sumba.

Karena orang Sabu sudah mengenal lebih dulu ajaran Kristen Protestan.

Sejak saat itulah orang Sabu secara bertahap mendatangi dan tinggal di Sumba.

Kemudian, di samping menyebarkan ajaran agama Protestan, orang Sabu juga melakukan perkawinan dengan orang Sumba.

Sehingga terjadilah asimilasi tradisi dan kebudayaan antara orang Sumba dan Sabu, termasuk dalam hal cium hidung.

Tradisi cium hidung ini hanya dilakukan pada momen-momen tertentu seperti saat proses pelaksanaan tradisi perkawinan, pesta pernikahan, ulang tahun, hari raya besar keagmaan, pesta adat, hingga acara perdamaian.

Selain itu juga dilakukan saat penerimaan tamu-tamu yang dianggap terhormat atau agung yang berasal dari wilayah Sumba.

Sarat Makna

Cium hidung sesungguhnya mempunyai makna dan filosofi yang majemuk dan sangat dalam.

Hidung adalah salah satu bagian dari anatomi tubuh manusia yang digunakan untuk bernapas.

Hidung juga adalah salah satu alat indera manusia yaitu penciuman.

Dengan cium hidung berarti kita merapatkan wajah sedekat mungkin.

Tapi jangan sekali-kali menyentuhkan bibir.

Dengan kedekatan wajah seperti itu, maka menunjukan bukan saja kedekatan fisik tapi juga kedekatan dan pertukaran napas kehidupan.

Hal ini melambangkan relasi yang sangat menyatu, akrab, bersahabat, bersaudara, bersolider dan saling mengasihi.

Tradisi Hongi tidak sesederhana yang terlihat, mengutip laman New Zeland Tourism, penyambutan tamu menurut tradisi Suku Maori ini terdiri dari banyak tahapan.

Awalnya tamu akan dihadang oleh seorang satria atau tuan rumah untuk memastikan apakah mereka kawan atau lawan.

Sang satria akan membawa taiaha atau senjata mirip tombak.

Kemudian satria tersebut menaruh benda penanda berupa dahan kecil untuk dipungut oleh sang tamu sebagai tanda bahwa dirinya datang dengan damai.

Setelah itu, tetua wanita tuan rumah akan melakukan karanga atau seruan kepada tamu.

Ini isyarat bagi tamu untuk mulai beranjak masuk ke dalam tempat mereka.

Seorang wanita dari tamu akan menyahut seruan tersebut, dan mereka secara bersama-sama berjalan masuk secara perlahan dalam keheningan, dengan barisan perempuan mendahului laki-laki.

Di tengah-tengah perjalanan mereka akan berhenti untuk mengenang leluhur yang sudah tiada.

Sesampainya di pekarangan rumah di dalam kawasan rumah leluhur utama, para tamu dan tuan rumah akan mengambil tempat duduk masing-masing dan saling berhadapan.

Pada saat inilah nyanyian dilantunkan dan diikuti dengan pesan-pesan dari para tetua.

Setelah pesan disampaikan, tamu akan menyampaikan hadiah atau yang disebut dengan Koha kepada tuan rumah.

Setelah prosesi ini, barulah tuan rumah dan tamu saling menyapa dengan Hongi, saling menempelkan ujung hidung.

Selepas Hongi, makanan akan dibagikan.

Nantikan eksplorasi TribunTravel ke Sumba di artikel-artikel selanjutnya ya, traveler.

Simak topik Liburan ke Sumba di sini.

Keliling Indonesia Dapat Diskon Tiket Pesawat hingga Rp 260 Ribu, Mau?

Rekomendasi 8 Tempat Wisata Di Sumba yang jadi Daya Tarik Wisatawan

Wisata Pantai Walakiri Sumba, Pohon Menari Berpadu Sunset Eksotis

5 Tempat Wisata di Sumba yang Jadi Lokasi Syuting Film Susah Sinyal

(TribunTravel.com/ Ratna Widyawati)

Ikuti kami di
Penulis: Ratna Widyawati
Editor: Sinta Agustina
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved