Rekomendasi Wisata

Mengunjungi Te Wairoa, Desa yang Terkubur di Bawah Abu Vulkanik

Desa Te Wairoa awalnya didirikan pada 1848 hingga akhirnya terkubur karena letusan gunung berapi.

Mengunjungi Te Wairoa, Desa yang Terkubur di Bawah Abu Vulkanik
Groupon
Te Wairoa 

TRIBUNTRAVEL.COM - Selama dua hari ini, berita mengenai Gunung Agung di Bali yang meletus dan erupsi membuat kita waspada.

Terutama bagi mereka yang tinggal di Bali atau mereka yang punya keluarga di Bali.

Seperti diberitakan, Gunung Agung kembali meletus dan memuntahkan lava pada Jumat (24/5/2019) malam.

TONTON JUGA

Dilaporkan oleh dailymail.co.uk pada Sabtu (25/5/2019), lava menyembur ke luar dari kawah dan menuruni lereng sejauh 3 km.

Ketika sebuah gunung api meletus, dia akan mengeluarkan lava ke bawah dan abu vulkanik ke atas.

Akibatnya, seluruh daerah yang dekat dengan lokasi gunung api tersebut bisa terkubur.

Contoh nyata adalah lokasi di sekitar Gunung Merapi di Yogyakarta yang meletus pada tahun 2010 silam.

Contoh lain adalah Desa Te Wairoa.

Desa Te Wairoa awalnya didirikan pada 1848 hingga akhirnya terkubur karena letusan gunung berapi.

Gunung berapi Tarawera mengubur desa unik ini dan menjadikannya puing-puing vulkanik yang bertahan hingga 40 tahun.

Keunikan desa ini adalah dibangun seperti whares (tempat tinggal sederhana) berhiaskan taman-taman berpagar seperti di pedesaan Inggris.

Foto-foto awal, serta temuan arkeologi menunjukkan perkembangan desa menjadi kombinasi yang luar biasa dari pemukiman tradisional Maori dan Inggris.

Hal itu juga mengakibatkan pencampuran ciri-ciri arsitektural dari dua kebudayaan.

Sebelum letusan pada 1886 terjadi, pada 1852 di desa ini didirikan sebuah sekolahan.

Selain itu, Pendeta Spencer, misionaris Kristen juga memperkenalkan gandum ke lembah Te Wairoa dan penggilingan tepung didirikan di samping Aliran Te Wairoa pada tahun 1857.

Gereja Te Mu juga didirikan dan selesai pada 1862.

Desa Te Wairoa.
Ancient Origins/Desa Te Wairoa.

Dari 1865 hingga 1870, banyak sengketa tanah antara Maori terjadi.

Akibatnya, Maori lokal mundur kembali ke Kariri Point dan Spencer meninggalkan Te Wairoa pada tahun 1870 untuk bersama keluarganya.

Pada 1886, Te Wairoa sudah menjadi objek wisata yang populer dengan hotel-hotel dan jalan-jalan yang mengarah pada sebuah wisata alam yang indah.

Namun, pada tengah malam tanggal 10 Juni, rakyat Te Wairoa dibangunkan oleh serangkaian gempa bumi kecil.

Tak selesai di situ, gempa bumi yang jauh lebih besar juga mengikuti dengan akhirnya ledakan besar-besaran.

Selama lebih dari empat jam, batu, abu dan lumpur terus-terusan membombardir desa.

Desa Te Wairoa pun terkubur di bawah lapisan lumpur setinggi 121cm.

Letusan itu telah memakan korban jiwa sebanyak 153 orang dan menjadi bencana alam terbesar Selandia Baru.

Selama bertahun-tahun setelah letusan, rumah-rumah orang Maori yagn disebut Hinemihi ditemukan mengeras.

Desa Te Wairoa.
Ancient Origins/Desa Te Wairoa 

Namun bangunan yang ditemukan ini, pada akhirnya dijual ke Gubernur Jenderal Selandia Baru dan dikirim ke Inggris untuk ditempatkan di Taman Clandon, Surrey.

Usai bencana, tata ruang desa Te Wairoa mulai dibangun lagi pada 1906.

Situs itu kemudian dikembangkan oleh Keluarga Smith untuk dijadikan objek wisata.

Pada tahun 1999, sebuah museum pun ditambahkan yang dapat mengungkap bagaimana budaya Maori dan Eropa terintegrasi selama fase perkembangan sosial Selandia Baru ini.

Philippe I, Adik Raja Louis XIV yang Gemar Berpakaian Seperti Wanita

Status Merapi Masih Waspada, Jip Wisata Lereng Merapi Tetap Diminati

Saksi Mata Ungkap Kematian Putri Diana Bukan karena Kecelakaan

Cooking on the Street jadi Daya Tarik Wisata, Ada Lomba Fruit Carving dan Flair Bartender

Bandara Internasional Adisutjipto Akan Siapkan 22 Penerbangan Tambahan untuk Mudik Lebaran

Artikel ini telah tayang di Intisari.grid.id dengan judul Melihat Desa Te Wairoa, Desa Unik yang Terkubur di Bawah Abu Vulkanik

Ikuti kami di
Editor: Ambar Purwaningrum
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved