Sempat Jadi Destinasi Wisata Top, Kota di Siprus Ditinggal Penduduknya dalam Semalam, Ini Alasannya

Sempat jadi destinasi populer dunia, kota di Siprus ditinggal penduduknya dalam semalam.

factslegend.org
Varosha, Famagusta, Siprus 

Laporan Wartawan TribunTravel.com, Rizki A Tiara

TRIBUNTRAVEL.COM - Banyak tempat di dunia ini yang menyimpan misteri yang hingga saat ini belum dapat terungkap.

Satu di antaranya adalah misteri kota hantu, yakni kota yang ditinggalkan para penduduk dan kini kosong tanpa penghuni.

Namun, kota hantu biasanya tidak ditinggalkan penduduknya dalam satu waktu sekaligus, tak peduli penyebabnya adalah bencana alam atau perubahan ekonomi.

Kota hantu yang kisahnya cukup aneh untuk dikulik adalah Varosha, Siprus.

Dikutip TribunTravel.com dari akun Twitter @PaulMMCooper, Varosha dulunya pernah menjadi satu destinasi wisata terpopuler di dunia.

Namun, dalam waktu satu malam saja, kota tersebut terbengkalai dan ditinggalkan oleh penduduknya.

Sebelum 1974, Varosha merupakan kota yang makmur yang terletak di sebelah selatan Famagusta, satu kota di Siprus.

Arsitektur kota wisata Varosha terbilang modern, dengan jumlah penduduk mencapai 39 ribu jiwa.

Pada awal 1970an, Varosha bahkan masuk dalam daftar destinasi wisata teratas dunia.

(Twitter @PaulMMCooper)
(Twitter @PaulMMCooper)

Namun, kekerasan antar etnis terjadi di Siprus.

Kekerasan ini berlangsung selama beberapa dekade, sehingga mayoritas penduduk Siprus keturunan Yunani dan minoritas penduduk Siprus keturunan Turki mulai mengalami perselisihan.

Pada 1974, pemerintah nasionalis Yunani yang dipimpin seorang junta yang dikenal sebagai 'rezim kolonel', mulai melakukan upaya aneksasi atau mencaplok wilayah pulau Siprus.

Bagi Turki, ini merupakan hal yang terlalu drastis, dan pada tahun yang sama pasukan Turki menginvasi Siprus.

Sehingga, satu bulan setelah peperangan ini ada 150 ribu orang Siprus keturunan Yunani dan 50 ribu penduduk Siprus keturunan Turki yang terlantar.

Perang berakhir dengan pembentukan negara Siprus Turki di bagian utara pulau itu, yang hanya diakui oleh Turki.

Namun, dicela oleh Uni Eropa & PBB sebagai pendudukan ilegal.

Sejak saat itu, wilayah Siprus dibagi di sepanjang zona penyangga PBB.

(Twitter @PaulMMCooper)

Wilayah Famagusta pun jatuh di sisi Turki.

Begitulah jadinya, tanpa gencatan senjata resmi atau penyelesaian yang jelas antara Yunani & Turki.

Tujuan utama Turki adalah untuk mencapai penyelesaian damai dan mendirikan negara barunya di bagian utara Siprus secara resmi.

Untuk melakukan itu, Turki melihat distrik wisata yang kaya di Varosha sebagai wilayah yang tak ternilai harganya.

Dengan industri pariwisata di pulau ini yang berantakan, hotel-hotel mewah Varosha yang mewah tiba-tiba menjadi tidak berharga.

Tetapi bagi orang Siprus Yunani yang kaya yang memilikinya, bangunan tersebut masih berharga.

Oleh karenanya, Turki ingin mempertahankan Varosha & menukarkannya kembali ke Yunani dengan imbalan pengakuan.

Segera setelah invasi, tentara Turki dengan cepat memagari distrik Varosha, melarang siapa pun untuk memasukinya.

Mereka menganggap kesepakatan damai akan segera datang.

Namun, kesepakatan damai yang mereka harapkan ternyata tidak pernah datang.

Dalam beberapa dekade sejak 1974, alam-lah yang berkuasa di wilayah Varosha.

(Twitter @PaulMMCooper)
(Twitter @PaulMMCooper)
(Twitter @PaulMMCooper)
(Twitter @PaulMMCooper)
(Twitter @PaulMMCooper)

Tanaman semak berduri dan rumput telah merusak jalan dan bangunan beton.

Beberapa orang bahkan melaporkan melihat penyu bertelur di pantai yang sepi.

Padahal, pantai tersebut dulunya ramai oleh orang yang berjemur.

Bangunan apartemen dan hotel yang rusak oleh tembakan artileri tidak pernah diperbaiki.

Orang-orang yang melarikan diri dari Varosha meninggalkan semua barang miliknya di tempat itu.

(Twitter @PaulMMCooper)
(Twitter @PaulMMCooper)

Bahkan ada sisa makanan yang kemungkinan baru setengah dimakan di atas meja.

Satu garasi bahkan masih lengkap dengan mobil keluaran 1970an yang kini berkarat.

Pipa bawah tanah dan sistem saluran air kota sudah berkarat dan membuat jalanan ambles.

Sementara itu, pasukan Turki masih sering berpatroli di area Vardosha dan menggunakan kekuasaannya untuk menghukum siapapun yang memasukinya.

(Twitter @PaulMMCooper)
(Twitter @PaulMMCooper)

Setelah terbengkalai selama puluhan tahun, sejumlah foto dari Google maps memperlihatkan penampakan yang kontras antara Varosha dan Famagusta.

Di sebelah utara, tampak atap-atap berwarna putih di Famagusta.

Sedangkan atap berwarna kehitaman menutupi wilayah Varosha di sebelah selatan.

Kini, sulit untuk mengatakan bagaimana masa depan Varosha.

Kota Varosha telah jatuh di antara celah diplomasi internasional, yang diadakan sebagai tawar-menawar selama beberapa dekade, dan kini belum tersepakati.

Sementara itu, berbagai bangunan resor wisata yang dulu pernah berkembang kini menjadi reruntuhan.

Ikuti kami di
Penulis: Rizkianingtyas Tiarasari
Editor: Rizkianingtyas Tiarasari
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved