Laporan Wartawan Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto
TRIBUNTRAVEL.COM - Guys, bagi kamu yang berencana traveling Jawa Tengah, ada satu lokasi wisata yang harus dikunjungi.
Adalah Obyek Wisata Guci, Kabupaten Tegal yang menawarkan pemandangan Gunung Slamet, yang merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa setelah Gunung Semeru.
Obyek Wisata Guci memiliki daya tarik tersendiri berupa kolam air panas yang tiap harinya ramai dikunjungi wisatawan.
Perjalanan ke Guci dari Kota Tegal kurang lebih 40 kilometer atau dari Ibu Kota Kabupaten Tegal, Slawi sekitar 30 kilometer menuju selatan atau jalur Tegal-Bumiayu-Purwokerto.
Akses jalan menuju Guci tidak terlalu lebar dengan jalan menanjak dan berkelak- kelok khas jalanan dataran tinggi.
Sepanjang perjalanan, wisatawan disajikan pesona keindahan alam pegunungan.
Terhampar kebun buah sayur-sayuran berupa tomat, wortel, cabai serta buah stroberi.
Di kebun stroberi, pengunjung dapat memetik buah sendiri.
Tanah kebun sayur dengan terasering berundak beraturan dan petani yang tengah mengolah kebun bisa menjadi obyek foto untuk penyuka fotografi.
Pepohonan pinus yang ditanam berderet bisa menjadi latar belakang apik untuk foto prewedding atau hanya foto selfie.
Dipercaya Sembuhkan Penyakit
Kepala UPTD Obyek Wisata Guci, Abdul Haris mengatakan, Guci memiliki daya tarik tersendiri di antara obyek wisata lain.
"Bisa berwisata sekaligus mengobati penyakit di kolam pemandian air panas. Tiap tahunnya juga diadakan acara kebudayaan untuk menarik wisatawan, yakni tradisi Ruwat Bumi Guci," kata Haris, Senin (31/10/2016).
Untuk menuju ke Guci menggunakan mobil pribadi dari Slawi atau Tegal, sesampai di Kecamatan Lebaksiu ambil jalan ke kiri di persimpangan Yomani.
Kemudian mengikuti arah penunjuk jalan ke Guci.
Sementara untuk moda transportasi umum dari Tegal atau Slawi menggunakan bus besar dan minibus.
Namun, transportasi umum hanya bisa sampai persimpangan Yomani, selanjutnya menggunakan transportasi ojek atau angkutan umum lain berupa mobil menuju Kecamatan Bumijawa.
Sesampai di lokasi, pengunjung bisa memanjakan badannya dengan berendam di kolam air panas.
Ada dua pemandian umum, yaitu Pancuran 13 dan Pancuran 7.
Air yang mengalir keluar dari pancuran-pancuran tersebut dipercaya berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit semisal rematik dan penyakit kulit lain.
Banyak pula yang percaya, air panas dari Pancuran 13 dapat memberi tuah dan kesehatan bagi siapa saja yang mandi.
Selain berendam di kolam pemandian, pengunjung juga dapat berendam di sungai yang juga mengalirkan air panas.
Air di sungai tersebut dipercaya memiliki khasiat dan kandungan sama dengan kolam air panas.
Jangan kaget saat air panas menyentuh kulit pertama kali.
Airnya akan terasa panas.
Hendaknya, bagian tubuh sedikit-sedikit disentuhkan air agar kulit beradaptasi.
Lambat laun, kulit akan beradaptasi dengan panasnya air sehingga berubah menjadi terasa hangat.
Kondisi rileks pun akan tercipta.
Tersedia Penginapan
"Tidak hanya kolam panas, ada juga daya tarik lain dari Guci," ujar Haris.
Guci dilengkapi dengan kolam renang atau water park.
Jika pengunjung ingin berkeliling lokasi wisata, dapat juga menunggangi kuda yang disewakan dengan tarif relatif murah.
Bagi pengunjung luar daerah, dan tidak memungkinkan untuk langsung pulang, ada juga penginapan, wisma atau homestay yang bisa disewa.
Juga terdapat fasilitas outbound yang terletak di sekitar Curug Jedor.
Suasana lingkungan yang masih sangat asri akan membuat kegiatan outbound lebih mengesankan.
Ada juga lapangan tenis, lapangan sepakbola serta bumi perkemahan.
Pengunjung bisa melakukan kegiatan murah meriah dengan hanya sekadar jalan-jalan menikmati wisata hutan.

TRIBUNJATENG/MAMDUKH ADI PRIYANTO
Melihat hijaunya puncak pohon cemara dan menghirup udara segar yang tidak dijumpai di perkotaan bisa jadi referensi kegiatan yang menyenangkan.
Jangan khawatir kelaparan karena tidak ada makanan di Guci yang jauh dari perkotaan.
Tenang saja, banyak warung berjejer menjajakan makanan khas Slawi atau Kabupaten Tegal.
"Meskipun Guci sudah lama eksis, namun tetap saja ingin ke sini. Suasana pegunungan dan mandi air panas jadi klangenan," ucap seorang pengunjung asal Kabupaten Brebes, Totok Supriyanto (52).
Ia mengaku, kerap mengunjungi Guci hanya untuk berendam air panas.
Tidak hanya pada siang hari, ia juga pernah berendam pada malam hari.
Apalagi, kata dia, saat liburan Lebaran tiba.
Biasanya, saudaranya dari Jakarta dan Bandung ketika berkunjung ke rumahnya, ingin berwisata ke Guci.
"Terkadang, kalau hari libur, siang ramai yang mandi air panas. Tidak bebas dan harus antre untuk mandi, jadi kadang berendamnya malam dan setelah itu menginap," jelasnya.
Berasal dari Zaman Wali Songo
Berdasarkan informasi yang beredar di masyarakat setempat, nama Guci, konon berasal dari zaman Wali Songo.
Untuk menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah bagian barat, khususnya di sekitar Tegal diutuslah seorang wali.
Wali tersebut dibekali air yang ditempatkan di dalam guci atau poci.
Masyarakat percaya, air dalam guci tersebut berkhasiat, sehingga mereka berbondong-bondong meminta kepada sang wali.
Namun, karena jumlah air di guci tersebut jumlahnya terbatas, maka sang wali kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah.
Ketika tongkatnya dicabut, dari lubang di tanah bekas tongkat yang ditancapkan mengalir air panas.
Selanjutnya, air panas yang mengalir di Guci hingga saat ini, dipercaya dari tanah bekas tongkat yang ditancapkan itu.
Kemudian, daerah tersebut diberi nama Guci.
Kejadian tersebut konon terjadi di tengah malam saat Malam Jumat Kliwon.
Sehingga, sampai kini setiap malam Jumat Kliwon, banyak masyarakat datang ke Guci untuk berendam.
Mereka percaya, jika melakukan hal tersebut hajat mereka akan terkabul.
Pengunjung akan dimintai untuk membayar tiket saat di pintu masuk Guci.
Harga tiket pada hari biasa yakni untuk dewasa Rp 5000, anak-anak Rp 4500.
Sedangkan untuk hari libur dan tanggal merah, dewasa Rp 7000 dan anak-anak Rp 6500.
Harga bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan pemerintah setempat.