Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Mata Lokal Travel

Kampung Pondok Pesantren Ndresmo di Surabaya, Tempat Para Kyai Atur Strategi Perang Lawan Belanda

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

WISATA RELIGI SURABAYA - Potret gerbang Kampung Pondok Pesantren Ndresmo di Sidosermo, Wonokromo, Surabaya, Selasa (9/9/2025).

TRIBUNTRAVEL.COM - Sebuah kampung tua yang dipenuhi dengan pondok pesantren di Surabaya yakni kampung Sidosermo di kecamatan Wonokromo, Surabaya banyak menyimpah cerita sejarah.

Hingga kini kampung yang dikenal dengan nama Kampung Ndresmo ini dikenal dengan kawasan pondok pesantren yang jumlahnya puluhan.

Baca juga: Itinerary Ambarawa 1 Hari Bujet Rp 273 Ribu: Termasuk Naik Kereta Gadis Kretek

Kampung Pondok Pesantren Ndresmo Dalam Surabaya kampung tua simpan sejarah Surabaya. (suryatravel/wiwit purwanto)

Baca juga: Masjid Agung Islamic Centre di Rohul, Riau Tampilkan Panorama Negeri Seribu Suluk Dari Menara 99 M

Tidak kurang dari 30 pondok pesantren ada di kampung pondok pesantren Sidosermo. Selain menempati bangunan yang sengaja dirancang sebagai pondok, kegiatan nyantri di Sidosermo ini juga bertempat di rumah-rumah warga terutama untuk santri perempuan.

Yang menarik juga semua pimpinan pondok di Sidosermo ini terhitung bertalian keluarga, yang semuanya berasal dari Assayid Ali Akbar, yang kemudian mempunyai anak As Sayyid Ali asghor yang kini yang makamnya ada di pemakaman keluarga di Sidosermo gang Kuburan.

Baca juga: Solo Traveling ke Malaysia: Itinerary Ipoh 3 Hari 2 Malam Bujet Rp 2,7 Juta

Baca juga: Itinerary Pontianak 1 Hari Hemat Bareng Pasangan: Bujet Rp 310 Ribu, Wisata & Kuliner

H Abbas pengasuh Pondok Pesantren Al Badar, salah satu pondok tertua yang ada di lingkungan Ndresmo Dalam, mengatakan kawasan Nderesmo ini dulunya adalah tempat berkumpulnya para kyai dalam mengatur strategi saat perang lawan Belanda.

“Para kyai ini berkumpul di Ndresmo ini untuk bermusyawarah dan mengatur strategi melawan Belanda,” kata H Abbas putra dari KH Nur Hamid generasi  ke 4 di Pondok Pesantren AL Badar.

Di kawasan ini kata H Abbas hampir semua bangunan masih merupakan bangunan lama, seperti Musola Al Badar yang berada di lingkungan Ponpes Al Badar masih bangunan lama dengan arsitek yang masih dipertahankan seperti aslinya.

Para santri menginap di rumah pondokan yang juga menyatu dengan pondok tempat belajar. “Para santri juga tetap sekolah seperti biasa di sekolah umum, pulang ke pondok dilanjutkan belajar diniyah,” ujarnya.

Ndresmo dalam termasuk kawasan yang banyak Pondok pesantrennya, namun ada juga ponpes yang ada di luar lingkungan Ndresmo dalam.

H Abbas di depan Ponpes AL Badar salah satu pondok tertua di lingkungan Ndresmo Dalam. (wiwit/surya)

Konon Ndresmo adalah kependekan dari sing nderes wong limo (yang membaca Al-quran sebanyak lima orang santri). Dari kata itulah kemudian berubah menjadi sidosermo.

Baca juga: Itinerary Surabaya 2 Hari 1 Malam Bareng Sahabat: Berdua Rp 1,1 Juta, Kereta PP & Hotel

Pemerintah kota Surabaya memberi status Cagar Budaya terutama di komplek pemakaman Assayid Ali Asghor .

Sidosermo sekarang bukan lagi kampung yang kecil, tapi sudah tumbuh dan berkembang menjadi perkampungan yang dihuni oleh banyak orang.

Namun untuk mengidentifikasi kampung lama di tengah tengah perkampungan ini ada kampung Sidosermo Dalam. Di kawasan kampung Sidosermo Dalam atau Ndresmo Dalam inilah banyak terdapat rumah kuno termasuk langgar hingga masjid. Salah satu diantaranya adalah Musola Al Badar.

Konon, mereka yang tinggal di Ndresmo Dalam ini terbebas dari bayar pajak. Kebiasaan ini terjadi sejak kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang memberi mereka berbagai fasilitas perumahan dan peribadatan, termasuk membebaskan mereka dari kewajiban membayar pajak.

Sekarang dalam perjalanan dan perkembangan jaman, kebijakan bebas bayar pajak ini masih berlangsung hingga sekarang. Meski pemerintahan telah berubah, dari kolonial ke Indonesia. Nah inilah istimewa yang ada di kampung Sidoresmo.

Halaman
123