Bahkan harganya bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat lebih mahal dibanding daging ayam.
“Per kilogram harganya antara Rp 70.000, Rp 90.000, sampai Rp 110.000, tergantung jenisnya. Kodok batu biasanya lebih mahal karena lebih sulit didapat,” jelas Leman.
Perbedaan kodok sawah dan kodok batu juga ada pada pengolahannya.
Kodok sawah harus dikuliti terlebih dahulu sebelum dimasak, sementara kodok batu bisa langsung diolah tanpa harus dikuliti karena kulitnya dapat ikut disantap.
Leman biasanya membantu pembeli untuk menguliti kodok sawah yang dibeli agar lebih praktis saat dimasak.
Namun, pasokan kodok tidak selalu lancar.
Ia mengaku kesulitan mendapatkan stok terutama ketika bulan purnama, karena saat itu kodok sulit ditangkap.
Kuliner Tionghoa dan Tradisi
Keberadaan daging kodok di Pasar Petak Sembilan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya Tionghoa yang kuat di kawasan Glodok.
Kodok telah lama menjadi bagian dari kuliner tradisional Tionghoa dan dipercaya memiliki cita rasa yang khas serta manfaat tertentu.
Selain menjual kodok, Pasar Petak Sembilan juga ramai saat mendekati perayaan Imlek.
Banyak pengunjung datang untuk membeli kue keranjang, hiasan, serta pernak-pernik khas Imlek.
Suasananya semakin semarak dengan ornamen merah dan emas yang menghiasi toko serta lapak pedagang.
Tak hanya berbelanja, wisatawan yang datang juga bisa menikmati wisata kuliner khas Pecinan.
Mulai dari bakmi, kue tradisional, hingga jajanan khas Tionghoa banyak tersedia di sekitar pasar.
Baca tanpa iklan