TRIBUNTRAVEL.COM - Banyak hal yang bisa diperoleh dari berwisata ke masjid-masjid kuno di Jakarta.
Bukan hanya soal ziarahnya, tetapi ada cerita sejarah, belajar sedikit-sedikit soal arsitektur, dan tentu saja folklor yang menarik dan seru.
Baca juga: Masjid Ramlie Musofa: Bukan Sekadar Taj Mahal di Jakarta
Baca juga: Gedung Fatahillah: 25 Rahasia Menarik Museum Sejarah Jakarta yang Jarang Diketahui
Salah satu masjid kuno di Jakarta yang memiliki itu semua adalah Masjid Jami Al Ma'mur Cikini, karena masjid ini memiliki hubungan dengan maestro lukis Indonesia, Raden Saleh.
Memang, mendengar nama Raden Saleh yang langsung terbayang adalah lukisan-lukisannya yang bergaya Romantisisme.
Baca juga: Segera Berakhir! Tarif Transportasi Publik Rp 80 dan Ganjil Genap Ditiadakan di Jakarta, Cek Jadwal
Baca juga: Itinerary Lombok 3 Hari 2 Malam Bujet Rp 3,2 Juta Sudah All In dari Jakarta
Salah satunya yang paling terkenal adalah lukisan bertajuk "Penangkapan Pangeran Diponegoro", yang kini menjadi koleksi Museum Istana Kepresidenan di Yogyakarta.
Rupanya, pelukis bernama lengkap Raden Saleh Syarif Bustaman ini tidak hanya mewariskan karya-karya lukisannya, tetapi juga sebuah masjid.
Masjid itu kini terletak di Jalan Raden Saleh Raya No 30, RT.3/RW.3, Cikini, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Jakarta, dan saat ini bernama Masjid Jami Al-Ma'mur Cikini.
Memang sih tidak secara langsung, namun di sini kemudian cerita sejarah dan folklornya bergulir
Usia Masjid Jami Al-Ma'mur itu menginjak 131 tahun pada tahun ini, karena dibangun sekitar tahun 1890. Namun bila dihitung dari masa masjid tersebut masih berada di halaman rumah Raden Saleh, maka usianya saat ini sudah 181 tahun.
Baca juga: Tiket Masuk Ragunan Akan Naik, Ada Harga Khusus untuk Pemilik KJP dan Warga Jakarta
Sejarah
Ketua DKM Masjid Jami Cikini Al Ma'mur, Haji Syahlani (72), bercerita bahwa Syarif Boestaman merupakan orang Semarang yang lahir sekitar tahun 1814, dan pernah tinggal di Cikini.
“Beliau itu seorang pelukis dari Indonesia, yang kerja sama orang Belanda. Untuk memperdalam ilmunya beliau mengembara ke Eropa selama kurang lebih 10 tahun. Pulang dari Eropa lalu beli tanah di sini, sempat tinggal di sini, dan beliau mengizinkan warga di sini membuat musala di tanahnya,” ujar Syahlani pada Jumat (17/4/2021).
Haji Syahlani lalu menceritakan sejarah Jami Al-Ma'mur Cikini berdiri.
Awal mulanya bangunan masjid itu berupa surau atau musala, terletak di lahan yang saat ini menjadi asrama perawat, tak jauh dari Masjid Jami Al-Ma'mur saat ini.
Surau tersebut dibangun sekitar tahun 1840, sebelum akhirnya dipindah ke lokasi sekarang pada tahun 1890.
Baca tanpa iklan