Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Mata Lokal Travel

Penjara Bawah Tanah Museum Sejarah Jakarta: Saksi Kelam Penjajahan Belanda di Kota Tua

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PENJARA BAWAH TANAH - Potret mencekam penjara bawah tanah pria zaman Belanda, kini berada di dalam Museum Sejarah Jakarta, Kota Tua, Jakarta Barat, Minggu (1/6/2025).

TRIBUNTRAVEL.COM - Museum Sejarah Jakarta atau Gedung Fatahillah bukan sekadar bangunan tua di kawasan Kota Tua Jakarta. 

Di balik tembok putihnya yang kokoh, tersimpan kisah kelam dan memilukan dari masa kolonial Belanda. 

Baca juga: Libur Sekolah ke Jogja, Tiket Pesawat Murah dari Jakarta Mulai Rp 680 Ribu Tanpa Transit

PENJARA BAWAH TANAH - Potret mencekam penjara bawah tanah pria zaman Belanda, kini berada di dalam Museum Sejarah Jakarta, Kota Tua, Jakarta Barat, Minggu (1/6/2025). (Wartakotalive/Nuri Yatul Hikmah)

Baca juga: Itinerary 1 Day Trip Lembang, Start dari Jakarta Budget Rp 800 Ribuan Termasuk BBM & Tol

Satu bagian paling mencengangkan dari Museum Sejarah Jakarta adalah penjara bawah tanahnya yang masih utuh hingga hari ini.

Berada di lantai dasar Gedung Gouverneurskantoor, penjara bawah tanah ini terdiri dari enam ruangan: lima untuk tahanan laki-laki dan satu untuk tahanan perempuan. 

Baca juga: Oakwood Premier Cozmo Jakarta Hadirkan Kembali Pengalaman Eksklusif Coffee & Speakeasy di The Oakbar

Baca juga: Itinerary Bandung 2 Hari 1 Malam dari Jakarta, Solo Traveling di Bawah Rp 715 Ribu

Penjara-penjara ini dibangun pada masa Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen sekitar tahun 1620 dan diresmikan oleh Abraham Van Riebeeck pada 1710.

Saat Warta Kota mengunjungi lokasi, Minggu (1/6/2025), nuansa menyeramkan langsung terasa sejak memasuki salah satu ruangan penjara. 

Aroma lembap dan hawa pengap menyambut begitu pintu kayu setengah oval dibuka. 

Lorong sempit dengan tinggi hanya sekira 160 cm itu lebih menyerupai gua gelap dari masa lalu.

Masing-masing penjara laki-laki berukuran sekitar 6 meter panjang dan 3 meter lebar. 

Ventilasi hanya ada di dekat pintu, berupa jeruji besi kecil yang nyaris tak memberi sirkulasi udara yang layak. 

Di sinilah para tahanan melakukan semua aktivitas: makan, minum, mandi, hingga tidur.

Yang mencengangkan, satu ruangan penjara bisa diisi hingga 50 tahanan. 

“Tahanan laki-laki diberi pemberat di kedua kaki berupa bola besi, supaya tak bisa kabur,” jelas Pramesti Ayutika, pemandu wisata Museum Sejarah Jakarta. 

Baca juga: Tiket Pesawat Murah Jakarta-Padang untuk Libur Sekolah, Mulai Rp 1 Jutaan Sekali Jalan

Bola-bola besi itu, berjumlah sekitar 100 buah, kini masih tersimpan di dalam ruangan, menjadi saksi bisu kekejaman masa lalu.

Sementara itu, penjara perempuan hanya menampung 20 hingga 35 orang. 

Halaman
123