Terutama pesepeda yang melintas di Jalur Banyurejo - Bligo.
Baca juga: Cobain Sensasi Ekstrem Melewati Tanjakan Sambalado di Gunung Kencana, Megamendung, Bogor, Jawa Barat
Perlahan tempat itu mulai ramai.
Banyak warga yang akhirnya tertarik berjualan. Kini, sudah ada 15 pedagang. Konsepnya adalah pasar jadoel yang menjual aneka makanan tradisional.
"Kita akan tetap menjaga ketradasionalannya. Kedepan, mungkin akan menambahkan dengan menggali menu yang belum ada. Seperti Brongkos, maupun Serabi. Kami juga ingin ada spot atraksi memasak kuliner tradisional," kata dia.
Tiap akhir pekan, lembah si Cangkring ramai dikunjungi banyak orang. Di hari Sabtu, Andiyantopo yang berjualan bubur Krecek, mengaku mampu menghabiskan 1.5 sampai 2 kilogram beras.
Jika hari Minggu bahkan peminatnya lebih banyak lagi bisa menghabiskan 3 kilogram beras.
Ketua Paguyuban Pasar Lembah si Cangkring, Eko Putro Susilo, mengatakan hampir mayoritas yang dijajakan di pasar ini adalah kuliner tradisional.
Konsep kuliner jadul itulah yang menjadi magnet bagi pengunjung. Apalagi harga makanan yang dijual cukup terjangkau.
Rata-rata tidak lebih dari Rp 20 ribu.
"Saya itu kepengen pengunjung yang datang ke sini, makan tidak lebih dari Rp 20 ribu. Jadi kalau kesini bawa uang Rp 20 ribu ya, kira-kira bisa buat makan, sekaligus beli minuman," tutur dia, lalu tertawa.
Baca juga: Terbaru, Harga Tiket Masuk Victory Waterpark Soreang untuk September 2024 Lengkap dengan Promonya
Beragam kuliner jadul tersaji di pasar ini. Mulai dari Bubur kricak, Megono, Gudeg Pecel, Jadah tempe, Cucur, Lopis, Gatot, Tiwul, Wajik hingga Nasi Wiwit dengan lauk suwiran ayam.
Di bagian minuman tersedia wedang Bajigur, Dawet, Bandrek, Es jadeol, kopi tubruk, sekoteng, wedang uwuh dan Jahe gula jawa sereh.
Konsep pasar ini sebenarnya cukup sederhana. Stand pedagang berjejer dan pengunjung bisa menikmati kuliner di tepi sungai yang telah ditata. Suasananya menyenangkan.
Selain makanan tradisional dan harga yang terjangkau, Lembah si Cangkring juga menjajakan aneka mainan tradisional. Mulai dari gangsingan dan otok-otok. Kadang juga tersedia suling.
Eko mengatakan, penambahan mainan ini, agar pengunjung yang datang dengan membawa buah hatinya bisa sekaligus mengenalkan permainan tradisional kepada si anak.
Baca tanpa iklan