Sedang jumlah kunjungan wisata mencapai 38 ribu orang pada 2022.
Jumlah kunjungan naik dua kali lipat jika dibanding dengan tahun 2021 yang mencapai 19 ribu pengunjung.
Teguh berharap pengembangan kawasan ini terus berkembang sehingga wisatawan tak hanya datang sekali tapi bisa berkali-kali.
"Dulu kami hanya ingin orang yang ke Bromo datang ke sini. Sekarang banyak yang datang langsung ke sini sebagian besar," jelasnya.
Tahun 2023 kemarin ditargetkan ada kunjungan 50.000 orang.
"Jumlah wisatawan yang datang di luar perkiraan kami. Mungkin kadung viral. Bahkan pada akhir pekan bisa mencapai 500 sampai 600 orang," jelas Teguh.
Untuk diketahui, harga tiket masuk lokasi ini sekira Rp 10.000 per orang, sudah termasuk dapat minuman selamat datang.
Selain dari tiket wisatawan, pengelolaan desa wisata ini juga ada pemasukan dari kafe, penjualan suvenir bunga edelweiss, dan lain sebagainya.
Jumlah anggota Poktan ada 26 orang.
Hasil yang didapat dari kegiatan di desa wisata bisa dibagi hasil atau ada SHU.
Selain itu juga bisa menggaji pegawainya.
Pengembangan kawasan ini tak lepas dari peran Bank Indonesia perwakilan Malang yang memberikan CSR dalam bentuk prasarana sejak 2019.
Hasilnya menjadikan kawasan wisata ini tertata.
Bahkan ada kafe untuk menikmati view sekitar sambil makanan dan minum.
Untuk spot selfie, diberi tambahan jembatan di depan kafe.
Baca tanpa iklan