Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Viral Masyarakat Prancis Didesak untuk Mengemudi Seperti Wanita, Ternyata Ada Alasan di Baliknya

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi berkendara dengan aman. Sebuah asosiasi keselamatan jalan raya Prancis mendesak masyarakat untuk 'mengemudi seperti wanita' guna mengurangi jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas.

Kisah Lainnya - Cuma Garuk-garuk Kepala saat Mengemudi Didenda Rp 6,2 Juta, Kok Bisa?

Seorang pria Belanda didenda Rp 6,2 juta setelah kamera bertenaga AI menangkap dirinya berbicara di telepon saat mengemudi.

Hanya saja, dia mengaku hanya menggaruk-garuk kepala dan sistem kamera melakukan sebuah kesalahan.

Pada November tahun 2023 lalu, Tim Hansen menerima denda karena diduga menemlepon saat mengemudi sebulan sebelumnya.

Dia terkejut, terutama karena Hansen tidak ingat menggunakan ponselnya saat mengemudi pada hari itu.

Jadi Hansen memutuskan untuk memeriksa foto yang memberatkan tersebut di Badan Pengumpulan Peradilan Pusat, mengutip Oddity Central.

Seorang pria Belanda didenda Rp 6,2 juta setelah kamera bertenaga AI menangkap dirinya berbicara di telepon saat mengemudi. (Dok. Monocam)

Pada pandangan pertama, tampaknya Hansen memang sedang berbicara di teleponnya.

Tetapi jika dilihat lebih dekat, terlihat bahwa dia sebenarnya tidak memegang apa pun di tangannya.

Dia hanya menggaruk bagian samping kepalanya dan kamera salah mengira posisi tangannya sedang memegang telepon.

Yang lebih membingungkan lagi adalah orang yang memeriksa foto tersebut dan memvalidasi dendanya juga tidak menemukan "false positives".

Baca juga: Viral Pemuda Beli Sapi Gara-gara Patah Hati, Bakal Dijadikan Hewan Kurban saat Idul Adha

Hansen, yang kebetulan bekerja di bidang IT, membuat algoritma yang mengedit dan menganalisis gambar.

Ia menggunakan pengalaman pribadinya untuk menjelaskan cara kerja sistem kamera polisi, Monocam, dan mengapa bisa membuat kesalahan.

Meskipun dia tidak bisa menguji Monocam sendiri, Hansen menjelaskan bagaimana sistem itu dirancang untuk bekerja dan mengapa sistem dapat menghasilkan false positives.

"Jika suatu model harus memprediksi apakah sesuatu itu 'ya' atau 'tidak', tentu saja bisa saja model tersebut salah," tulis Hansen.

"Dalam kasus denda saya, modelnya menunjukkan bahwa saya sedang memegang telepon, padahal tidak demikian. Kemudian kita berbicara tentang false positives. Model yang sempurna hanya memprediksi hal positif dan negatif yang sebenarnya, tetapi prediksi yang 100 persen benar jarang terjadi," imbuhnya.

Halaman
123