Tes lebih lanjut menunjukkan bahwa respons kekebalannya terhadap virus lain tetap tidak berubah, yang dianggap sebagai bukti bahwa sistem kekebalannya tidak rusak akibat hipervaksinasi.
Para peneliti mencatat bahwa memang pendekatan unik pria tersebut terhadap vaksinasi menunjukkan "seberapa baik toleransi terhadap vaksin secara umum".
Akan tetapi mereka juga mengakui bahwa toleransinya terhadap vaksin Covid-19 dalam jumlah yang tidak masuk akal mungkin tidak berlaku untuk seluruh populasi.
Baca juga: Geger Ilmuwan Ciptakan Sistem AI yang Dapat Memprediksi Kematian, Akurasinya Mengejutkan
Selain itu, ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa efek positif vaksin tidak sebanding dengan jumlah dosis yang diberikan.
"Vaksin diserap oleh antibodi sebelum dapat memicu respons imun. Di luar tingkat konsentrasi antibodi tertentu, sistem kekebalan akan mati dan tidak ada lagi antibodi baru yang dibuat," jelas ahli imunologi Andreas Radbruch.
"Setelah seseorang memiliki antibodi yang cukup, Anda tidak dapat meningkatkan perlindungannya dengan vaksinasi lebih lanjut," imbuhnya.
Menariknya, pria yang tidak disebutkan namanya ini pertama kali menjadi berita utama pada tahun 2022.
Kala itu diketahui bahwa dia telah menerima vaksinasi Covid-19 setidaknya 90 kali.
Ia dicurigai mendapatkan begitu banyak suntikan demi mendapatkan beberapa sertifikat vaksinasi yang kemudian ia jual kepada orang-orang yang tidak ingin mendapatkan vaksinasi namun membutuhkan dokumen tersebut untuk menikmati hak istimewa tertentu selama lockdown.
Saat ini, pria tersebut bersikeras bahwa dia telah melakukan vaksinasi sebanyak 217 kali "untuk alasan pribadi", tetapi mengakui bahwa dia sedang diselidiki karena penipuan oleh otoritas Jerman.
Baca juga: Viral Ilmuwan Nyamar Jadi Burung Raksasa untuk Penelitian Selama Setahun, Hasilnya Gagal Total
(TribunTravel.com/mym)
Untuk membaca artikel terkait berita viral, kunjungi laman ini.
Baca tanpa iklan