Akses berita terupdate se-indonesia lewat aplikasi TRIBUNnews

Turis Dilarang Masuk Distrik Geisha di Kyoto Jepang, Mengapa?

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi Geisha di Kyoto Jepang.

1. Ada Beberapa Istilah Berbeda untuk Geisha

Meskipun kata “geisha” dikenal luas, sebenarnya itu hanyalah satu istilah yang digunakan untuk menyebut penghibur wanita tradisional Jepang.

Meskipun sekarang diterima secara luas sebagai standar, “geisha” pada awalnya diperuntukkan bagi para penghibur di Tokyo.

Di Kyoto, geisha disebut “geiko,” yang memiliki kanji “gei” (芸) yang sama dengan geisha, sedangkan karakter keduanya diganti dengan “ko” (子), yang berarti anak-anak atau orang muda.

Di kota barat Niigata dan Kanazawa, geisha dikenal sebagai “geigi,” dengan “gi” (妓) berarti “wanita artistik.”

Meski namanya berbeda, semuanya tetap mengacu pada apa yang biasa disebut geisha.

2. Geisha Masih Ada di Jepang hingga Saat Ini

Meskipun jumlah geisha di Jepang terus menurun sejak masa keemasan di akhir Periode Edo (1603-1867), diperkirakan masih ada sekitar 600 geisha yang bekerja di Jepang saat ini.

Meskipun terdapat jalur karier yang lebih stabil, beberapa remaja putri masih tertarik pada daya tarik menjadi geisha.

Saat ini, sekitar separuh geisha Jepang tinggal dan bekerja di Kyoto, meskipun masih ada beberapa distrik geisha yang tersisa di Tokyo, Kanazawa, Niigata, dan Hachioji.

Distrik Geisha dikenal sebagai “hanamachi,” yang berarti “kota bunga,” dan didirikan pada abad ke-17 ketika undang-undang disahkan untuk memuat bentuk hiburan tertentu di lingkungan tertentu.

Hanamachi paling terkenal di Jepang adalah Gion di Kyoto, di mana sejumlah penginapan geisha “okiya” masih ada.

Daerah ini populer di kalangan wisatawan dan merupakan satu tempat terbaik untuk melihat geisha modern.

Gang sempit bersuasana khas di Ponto-cho dan Kamishichiken di barat laut adalah dua hanamachi lain yang tersisa di Kyoto.

Kanazawa memiliki tiga hanamachi, yang paling terkenal adalah “Higashi Chaya” yang bersejarah.

Halaman
1234